Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi adatnya masing-masing, yang
menjadi satu kearifan lokal daerah tersebut. Dalam masyarakat Jawa terdapat
berbagai macam tradisi adat dari mulai kelahiran, pernikahan, sampai kematian
juga ada tradisi saat hari-hari besar keagamaan. Dalam berbagai tradisi itu selalu ada makanan khas yang disajikan sebagai
pendamping saat prosesi berlangsung.
makanan khas Jawa yang sering disajikan saat hari besar keagamaan dalam hal ini tradisi syawalan. Dipilih angka 7 ini dimaksudkan sebagai pitu=pituduh (petunjuk), pitutur (nasehat), dan pitulungan (pertolongan). 7 makanan khas ini tak hanya enak di lidah, tapi ternyata mengandung arti filosofi yang bisa mengajarkan banyak hal baik, 7 jenis makanan khas ini diantaranya:
1. 1.
Kupat,
singkatan dari ngaku lepat (mengaku salah)
Kupat atau Ketupat adalah makanan yang selalu
tersaji saat Lebaran. Terbuat dari beras yang dibungkus dengan daun kelapa muda
(janur=jati ning nur=cahaya sejati). Filosofi dari “ngaku lepat” ini adalah
bahwa kita sebagai manusia tidak boleh selalu merasa benar dalam hidup ini, kita
harus ngaku lepat (mengakui kesalahan). Makanya kupat ini kurang afdhol kalau
tidak dimakan pas lebaran pas kita saling bermaafan dan mengakui kesalahan.
Makanan khas lainnya yaitu lepet, makanan yang
tampilannya menyerupai bentuk mayat, karena makanan ini ditali 3 melingkar
seperti kain kafan. Makanan ini terbuat dari beras ketan dicampur kelapa, dan kacang merah yang dibungkus dengan daun
pisang. Lepet berarti “disilep sing rapet” (dikubur yang rapat) maksudnya
setelah kita mengakui kesalahan dan meminta maaf kemudian kesalahan yang ada
itu dikubur yang rapat agar tidak menjadi dendam dan terbawa sampai mati.
Lontong ini biasa disajikan dengan sayur opor atau
sayur lodeh tumis. Lontong jug a enak bila dimakan dengan rujak, sate, bakso,
sup dan sebagainya. Lontong terbuat dari beras yang dibungkus daun pisang, karena
teksturnya yang lembut saat dimakan menjadi penganti dari nasi. Filosofi lontong “olone dadi kothong” ini
erat kaitannya dengan bulan Romadhon (bulan sebelum syawal). Seperti kita tahu
bulan Romadhon adalah bulan peleburan dosa, setelah berpuasa sebulan penuh
hingga akhirnya kembali fitrah (kembali suci). Makanya disebut olone dadi
kothong (keburukannya sudah hilang /ga ada/kosong)
Santen biasa dibuat sebagai duduh (kuah) pendamping
lontong atau kupat. Santan adalah parutan buah kelapa tua yang diparut diambil
airnya. Santen mempunyai makna “sing salah nyuwun ngapunten” maksudnya dalam
lebaran siapapun yang mengaku salah haruslah meminta maaf.
Kolak biasa berisi santen, umbi-umbian (singkong
dan ketela) dan daun pandan wangi sebagai penamba aroma. Ada juga yang menambahkan buah nangka, kacang ijo atau
pisang untuk menambah kelezatannya. Umbi-umbian tadi dalam bahasa Jawa disebut
pala pendem. Pala pendem ini mengandung makna filosofi bahwa semua manusia pada
akhirnya akan dipendem atau dikubur. Maka sebelum waktu itu tiba persiapkanlah
dengan berbuat baik dan melakukan kewajiban kita.
Lemper, makanan yang hampir tak pernah absen setiap ada acara-acara besar di Jawa. Makanan yang terbuat dari beras ketan dengan isian abon sampai daging ayam ini biasa dibungkus dengan daun pisang yang masih mudah berwarna cerah (hijau pupus). Selain rasanya yang enak, makanan ini juga terdapat nilai filosofi yang dalam, lemper “yen dielem atimu ojo memper” maksudnya ketika mendapat pujian/sanjungan dari orang lain, hati tidak boleh jadi sombong atau membanggakan diri. Karena biasanya karena pujian kita jadi lupa diri dan mengganggap orang lain tidak ada apa-apanya. Makanya kita diingatkan oleh lemper (yen dielem atimu ojo memper)
Istilah apem ini berasal dari bahasa Arab afwun
yang artinya ampunan/maaf. Karena lidah orang jawa yang kesulitan melafadzkan
bahasa Arab, mereka menyebutnya apem. Apem terbuat dari tepung beras yang
diberi ragi tape yang berbentuk bundar. Bundar atau bulat ini dilambangkan
sebagai tempat berdoa (sarana penghubung kepada Tuhan). Makanya dalam setiap
hajatan masyarakat Jawa makanan ini hukumnya wajib ada. Makna filosofisnya
sendiri, apem merupakan simbol tempat berdoa, tolak bala’ dan permohonan
ampun/maaf.







