#melayang {position:fixed;_position:absolute;bottom:30px; left:0px;clip:inherit;_top:expression(document.documentElement.scrollTop+document.documentElement.clientHeight-this.clientHeight); _left:expression(document.documentElement.scrollLeft+ document.documentElement.clientWidth - offsetWidth); }

filosofinya dalam tradisi syawalan

Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi adatnya masing-masing, yang menjadi satu kearifan lokal daerah tersebut. Dalam masyarakat Jawa terdapat berbagai macam tradisi adat dari mulai kelahiran, pernikahan, sampai kematian juga ada tradisi saat hari-hari besar keagamaan. Dalam berbagai tradisi itu selalu ada makanan khas yang disajikan sebagai pendamping saat prosesi berlangsung. 

makanan khas Jawa yang sering disajikan saat hari besar keagamaan dalam hal ini tradisi syawalan. Dipilih angka 7 ini dimaksudkan sebagai pitu=pituduh (petunjuk), pitutur (nasehat), dan pitulungan (pertolongan). 7 makanan khas ini tak hanya enak di lidah, tapi ternyata mengandung arti filosofi yang bisa mengajarkan banyak hal baik, 7 jenis makanan khas ini diantaranya:

1.      1.  Kupat, singkatan dari ngaku lepat (mengaku salah)


          Kupat atau Ketupat adalah makanan yang selalu tersaji saat Lebaran. Terbuat dari beras yang dibungkus dengan daun kelapa muda (janur=jati ning nur=cahaya sejati). Filosofi dari “ngaku lepat” ini adalah bahwa kita sebagai manusia tidak boleh selalu merasa benar dalam hidup ini, kita harus ngaku lepat (mengakui kesalahan). Makanya kupat ini kurang afdhol kalau tidak dimakan pas lebaran pas kita saling bermaafan dan mengakui kesalahan.
       2. Lepet, singkatan dari disilep  sing rapet (dikubur yang rapat)


          Makanan khas lainnya yaitu lepet, makanan yang tampilannya menyerupai bentuk mayat, karena makanan ini ditali 3 melingkar seperti kain kafan. Makanan ini terbuat dari beras ketan dicampur kelapa, dan  kacang merah yang dibungkus dengan daun pisang. Lepet berarti “disilep sing rapet” (dikubur yang rapat) maksudnya setelah kita mengakui kesalahan dan meminta maaf kemudian kesalahan yang ada itu dikubur yang rapat agar tidak menjadi dendam dan terbawa sampai mati.
 
       3. Lontong, singkatan dari olone dadi kothong (keburukannya sudah hilang)

        Lontong ini biasa disajikan dengan sayur opor atau sayur lodeh tumis. Lontong jug a enak bila dimakan dengan rujak, sate, bakso, sup dan sebagainya. Lontong terbuat dari beras yang dibungkus daun pisang, karena teksturnya yang lembut saat dimakan menjadi penganti dari  nasi. Filosofi lontong “olone dadi kothong” ini erat kaitannya dengan bulan Romadhon (bulan sebelum syawal). Seperti kita tahu bulan Romadhon adalah bulan peleburan dosa, setelah berpuasa sebulan penuh hingga akhirnya kembali fitrah (kembali suci). Makanya disebut olone dadi kothong (keburukannya sudah hilang /ga ada/kosong)
  
     4. Santen, singkatan dari sing salah nyuwun ngapunten (siapapun yang salah harus minta maaf)


      Santen biasa dibuat sebagai duduh (kuah) pendamping lontong atau kupat. Santan adalah parutan buah kelapa tua yang diparut diambil airnya. Santen mempunyai makna “sing salah nyuwun ngapunten” maksudnya dalam lebaran siapapun yang mengaku salah haruslah meminta maaf.
           5. Kolak (Pala Pendem)


      Kolak biasa berisi santen, umbi-umbian (singkong dan ketela) dan daun pandan wangi sebagai penamba aroma. Ada juga  yang menambahkan buah nangka, kacang ijo atau pisang untuk menambah kelezatannya. Umbi-umbian tadi dalam bahasa Jawa disebut pala pendem. Pala pendem ini mengandung makna filosofi bahwa semua manusia pada akhirnya akan dipendem atau dikubur. Maka sebelum waktu itu tiba persiapkanlah dengan berbuat baik dan melakukan kewajiban kita. 
     6. Lemper, singkatan dari yen dielem atimu ojo memper (bila dipuji jangan sombong)

        
            Lemper, makanan yang hampir tak pernah absen setiap ada acara-acara besar di Jawa. Makanan yang terbuat dari beras ketan dengan isian abon sampai daging ayam ini biasa dibungkus dengan daun pisang yang masih mudah berwarna cerah (hijau pupus). Selain rasanya yang enak, makanan ini juga terdapat nilai filosofi yang dalam, lemper “yen dielem atimu ojo memper” maksudnya ketika mendapat pujian/sanjungan dari orang lain, hati tidak boleh jadi sombong atau membanggakan diri. Karena biasanya karena pujian kita jadi lupa diri dan mengganggap orang lain tidak ada apa-apanya. Makanya kita diingatkan oleh lemper (yen dielem atimu ojo memper)  
     7. Apem (maaf)
         Istilah apem ini berasal dari bahasa Arab afwun yang artinya ampunan/maaf. Karena lidah orang jawa yang kesulitan melafadzkan bahasa Arab, mereka menyebutnya apem. Apem terbuat dari tepung beras yang diberi ragi tape yang berbentuk bundar. Bundar atau bulat ini dilambangkan sebagai tempat berdoa (sarana penghubung kepada Tuhan). Makanya dalam setiap hajatan masyarakat Jawa makanan ini hukumnya wajib ada. Makna filosofisnya sendiri, apem merupakan simbol tempat berdoa, tolak bala’ dan permohonan ampun/maaf.   
 
 
 
 
 
 
 


Filosofi lagu anak Indonesia




Filosofi lagu anak Indonesia
1.  Judul    : Gundul – Gundul Pacul
Lirik :
gundhul-gundhul pacul-cul gembelengan
nyunggi-nyunggi wakul-kul
 kelelengan
wakul ngglimpang segane dadi sak latar
   
wakul ngglimpang segane dadi sak lata
r
Bahasa       : Jawa
Asal Etnik   : Jawa Tengah
Makna & Arti    : GUNDUL2 PACUL CUL artinya orang yang dikepalanya sdh kehilangan 4 indera tersebut yang mengakibatkan sikap berubah jadi GEMBELENGAN (congkak). NYUNGGI2 WAKUL KUL (menjunjung amanah rakyat) selalu sambil GEMBELENGAN (sombong hati), akhirnya WAKUL NGGLIMPANG (amanah jatuh gak bisa dipertahankan) SEGANE DADI SAK LATAR (berantakan sia2, tak bisa bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat)
2.  Judul    : Apuse
Lirik & Arti :
Apuse kokon dao                               (Kakek-nenek ku mau)
Yarabe soren doreri                           (Pergi ke negeri seberang, Teluk Doreri)
Wuf lenso bani nema baki pase       (Pegang saputangan dan melambaikan tangan)
Apuse kokon dao                               (Kakek/nenek aku mau)
Yarabe soren doreri                           (Pergi ke negeri seberang, Teluk Doreri)
Wuf lenso bani nema baki pase       (Pegang saputangan dan melambaikan tangan)
Arafabye aswarakwar                        (Kasihan aku, selamat jalan cucuku)
Arafabye aswarakwar                        (Kasihan aku, selamat jalan cucuku)
Bahasa        : Papua
Asal Etnik   : Irian Jaya
Makna        : Lagu Apuse mengisahkan tentang perpisahan seorang cucu dengan kakek neneknya. Apuse sendiri artinya kakek atau nenek.
3.  Judul    : Yamko Rambe Yamko
Lirik :
Hee yamko rambe yamko aronawa kombe
Hee yamko rambe yamko aronawa kombe
Teemi nokibe kubano ko bombe ko
Yuma no bungo awe ade
Teemi nokibe kubano ko bombe ko
Yuma no bungo awe ade
Hongke hongke hongke riro
Hongke jombe jombe riro
Hongke hongke hongke riro
Hongke jombe jombe riro
Arti :
Hai jalan yang dicari sayang perjanjian
sungguh pembunuhan di dalam negri
sebagai bunga bangsa
bunga bangsa, bunga bangsa, bunga bangsa
bunga bertaburan
bunga bangsa, bunga bangsa, bunga bertumbuh
di taman pahlawan
Bahasa        : Papua
Asal Etnik   : Papua Barat
Makna          : Lagu tersebut adalah lagu tentang peperangan. Di lagu itu para pejuang Indonesia ingin menjadi bunga bangsa. Bunga bangsa itu adalah pahlawan. Yang rela berkorban untuk mempertahankan negara Indonesia ini dari para penjajah.
4.    Judul    : Rasa Sayange
Lirik :
Kalau ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi
Kalau ada umur panjang boleh kita bertemu lagi
Rasa sayange, rasa sayang sayange
Lihat Ambon dari jauh rasa sayang sayange
Rasa sayange, rasa sayang sayange
Lihat Ambon dari jauh rasa sayang sayange
Bahasa       : Melayu Ambon
Asal Etnik   : Maluku
Makna & Arti           : Lagu ini merupakan lagu anak anak yang selalu dinyanyikan secara turun-temurun sejak dahulu oleh masyarakat Maluku untuk mengungkapkan rasa sayang mereka terhadap lingkungan dan sosialisasi di antara masyarakat. Jika didengarkan, lagu ini layaknya seperti sajak atau pantun yang bersahutan, yang merupakan tradisi lisan orang Maluku. Oleh karenanya banyak versi dari lagu ini karena liriknya dapat dibuat sendiri sesuai maksud dan tujuan dari lagu tersebut.
5.  Judul  : Kicir – Kicir
Lirik :
Kicir kicir ini lagunya
Lagu lama ya tuan dari Jakarta
Saya menyanyi ya tuan memang sengaja
Untuk menghibur menghibur hati nan duka
Burung dara burung merpati
Terbang cepat ya tuan tiada tara
Bilalah kita ya tuan suka menyanyi
Badanlah sehat ya tuan hati gembira
Buah mangga enak rasanya
Si manalagi ya tuan paling ternama
Siapa saya ya tuan rajin bekerja
Pasti menjadi menjadi warga berguna
Bahasa      : Indonesia
Asal Etnik   : Jakarta
Makna          : Lagu kicir-kicir ini merupakan lagu yang termasukdalam kebudayaan nasional, karena kebudayaandapat merupakan tarian, lagu-lagu daerah dan alat musik yang dilestarikan.bangsa Indonesia merupakan bangsa yang paling beragam kebudayaannya dari mulai bahasa yang digunakan, pakaian adat sampai lagu-lagu dari tiap-tiap daerah pasti memilikinya.
6.  Judul : O Ina Ni keke
Lirik & Arti                :
O ina nikeke mangewisako            (Oh ibu mau ke mana)
Mange aki Wenang 
                        (Mau pergi ke Manado)
Tumeles waleko 
                              (Membeli rumahmu/kue)
Weane, weane, weane toyo 
          (Berikan, berikan, berikan sedikit)
Daimo siapa kotare makiwe 
         (Sudah tidak ada lagi, kamu baru minta)Bahasa       : Manado
Asal Etnik   : Sulawesi Utara
Makna          : Lirik yang menyebutkan sebagai rasa kasih sayang dari ibu kepada anak yang disayanginya. Namun ternyata anak justru melihat rasa kasih sayang tersebut sebagai ungkapan rasa kemanjaan sehingga tidak adanya timbal balik rasa sayang yang terjalin dari hubungan ibu dan anak tersebut.