Makna Pancasila
pencipta lambang Garuda
Garuda itu adalah seekor burung yang hidup dalam dunia khayalan, terutama dalam pewayangan. Garuda dianggap mulia karena memiliki kekuatan dan kecantikan parasnya. Sehingga banyak yang menggunakannya dalam berbagai kegiatan yang dianggapnya menunjukkan sebuah power dan tentunya kebebasan karena garuda bebas bisa terbang ke mana saja.
Cerita garuda bisa jadi lambang negara adalah benar kalau itu ada pengaruh sultan hamid II yang cenderung, dulunya memihak belanda (ingat dia ketua BFO - Perserikatan negara2 non-RI setelah agresi militer belanda 1). Namun setelah dia diangkat menjadi salah satu pejabat negara, sebagai wakil yang memiliki pengaruh di Indonesia bagian Timur, beliau ikut sebuah sayembara yang dikeluarkan Presiden Soekarno untuk menemukan sosok lambang negara RI yang selama 5 tahun tanpa lambang.
Ketika menjelang HUT RI ke 60, di SCTV ada cerita seorang yang meneliti tentang asal-usul lambang negara kita. Penelitian ini adalah thesis S2 di UGM. Dari sekian gambar yang masuk, dipilihlah burung garuda ini (peserta harus menyematkan 5 pilar/sila yang dikenal sebagai Pancasila). Dari gambar burung purba sampai garuda diperlihatkan dalam siaran tersebut. Karena memang mencari jawaban tanya selama ini, siapa yang menggagas lambang RI?, banyak yang bilang Moh. Yamin, namun ternyata usulan Moh. Yamin, ditolak Presiden Soekarno. Penasaran ini terjawab sudah, karena di buku jarang banget yang dibahas, sama sebelum tahun 2000-an, bila mencari siapa yang menggagas nama Indonesia.
Sepanjang orang Indonesia, siapa tak kenal burung garuda berkalung perisai yang merangkum lima sila Pancasila? Tapi orang Indonesia mana sajakah yang tahu, siapa pembuat lambang negara itu dulu?
Dia adalah Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung sultan Pontianak, Sultan Syarif Muhammad Alkadrie Lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913. Dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia-Arab walau pernah diurus ibu asuh berkebangsaan Inggris. Istri beliau seorang perempuan Belanda yang kemudian melahirkan dua anak,kedua anaknya sekarang di Negeri Belanda.
Syarif menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMA di Breda, Negeri Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda.
Ketika Jepang mengalahkan Belanda dan sekutunya, pada 10 Maret 1942, ia tertawan dan dibebaskan ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel. Ketika ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II.
Dalam perjuangan federalisme, Sultan Hamid II memperoleh jabatan penting sebagai wakil daerah istimewa Kalbar dan selalu turut dalam perundingan-perundingan Malino, Denpasar, BFO, BFC, IJC dan KMB di Indonesia dan Belanda.
Sultan Hamid II kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda dan orang Indonesia pertama yang memperoleh pangkat tertinggi dalam kemiliteran.
Pada 21-22 Desember 1949, beberapa hari setelah diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio, Westerling yang telah melakukan makar di Tanah Air menawarkan "over commando" kepadanya, namun dia menolak tegas. Karena tahu Westerling adalah gembong APRA.
Selanjutnya dia berangkat ke Negeri Belanda, dan pada 2 Januari 1950, sepulangnya dari Negeri Kincir itu dia merasa kecewa atas pengiriman pasukan TNI ke Kalbar karena tidak mengikutsertakan anak buahnya dari KNIL.
Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi peristiwa yang menggegerkan, Westerling menyerbu Bandung pada 23 Januari 1950. Sultan Hamid II tidak setuju dengan tindakan anak buahnya itu, Westerling sempat marah.
Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara.
Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan "ide perisai Pancasila" muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara. Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara.
Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, MA Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.
Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku "Bung Hatta Menjawab" untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang.
Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan "Bhineka Tunggal Ika".
Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.
Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri.
AG Pringgodigdo dalam bukunya "Sekitar Pancasila" terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih "Gundul" dan "tidak berjambul" seperti bentuk sekarang ini.
Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS. Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950.
Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang "Gundul" menjadi "berjambul" dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno.
Tanggal 20 Maret 1940, bentuk final gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk final rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.
Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974. Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah Pontianak.
Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang.
Agama Kristen
ASal Usul Agama Kristen bermula dari pengajaran Yesus Kristus sebagai
tokoh utama agama ini. Yesus lahir di kota Betlehem yang terletak di
Palestina sekitar tahun 4-8 SM, pada masa kekuasaan raja Herodes. Yesus
lahir dari rahim seorang wanita perawan, Maria, yang dikandung oleh Roh
Kudus. Sejak usia tiga puluh tahun, selama tiga tahun Yesus berkhotbah
dan berbuat mukjizat pada banyak orang, bersama keduabelas rasulnya.
Yesus yang semakin populer dibenci oleh orang-orang Farisi, yang
kemudian berkomplot untuk menyalibkan Yesus. Yesus wafat di salib pada
usia 33 tahun dan bangkit dari kubur pada hari yang ketiga setelah
kematiannya. Setelah kebangkitannya, Yesus masih tinggal di dunia
sekitar empat puluh hari lamanya, sebelum kemudian naik ke surga.
Setelah naiknya Yesus Kristus ke surga, rasul-rasul mulai menyebarkan
ajaran Yesus ke mana-mana, dan sebagai hasilnya, jemaat pertama Kristen,
sejumlah sekitar tiga ribu orang, dibaptis. Namun, pada masa-masa awal
berdirinya, agama Kristen cenderung dianggap sebagai ancaman hingga
terus-menerus dikejar dan dianiaya oleh pemerintah Romawi saat itu.
Banyak bapa Gereja yang menjadi korban kekejaman kekaisaran Romawi
dengan menjadi martir, yaitu rela disiksa maupun dihukum mati demi
mempertahankan imannya, salah satu contohnya adalah Ignatius dari
Antiokia yang dihukum mati dengan dijadikan makanan singa.
Saat itu, kepercayaan yang berkembang di Romawi adalah paganisme, di
mana terdapat konsep ‘balas jasa langsung’. Namun dengan gencarnya para
rasul menyebarkan ajaran Kristen, perlahan agama ini mulai berkembang
jumlahnya, sehingga pemerintah Romawi semakin terancam oleh keberadaan
agama Kristen. Romawi pun berusaha menekan, dan bahkan melarang agama
Kristen, karena umat Kristen saat itu tidak mau menyembah Kaisar, dan
hal ini menyulitkan kekuasaan Romawi. Selain itu, paganisme dan
ramalan-ramalan yang sejak zaman Republik sudah dipakai sebagai
alat-alat propaganda dan pembenaran segala tingkah laku penguasa atau
alasan kegagalan penguasa, sudah tidak efektif lagi dengan keberadaan
agama Kristen. Maka, di masa-masa ini, banyak umat Kristen yang dibunuh
sebagai usaha pemerintah Romawi untuk menumpas agama Kristen. Penyebar
utama agama Kristen pada masa itu adalah Rasul Paulus, yang paling
gencar menyebarkan ajaran Kristen ke berbagai pelosok dunia.
Pada masa inilah, datang masa-masa kegelapan (192-284), mulai dari
Kaisar Commodus hingga Kaisar Diocletian. Pada masa inilah orang-orang
masa itu kehilangan kepercayaan terhadap konsep balas jasa langsung yang
dianut di Paganisme, sehingga agama Kristen pun semakin diminati.
Hingga akhirnya pada tahun 313, Kaisar Konstantinus melegalkan agama
Kristen dan bahkan minta untuk dipermandikan, dan 80 tahun setelahnya,
Kaisar Theodosius melarang segala bentuk paganisme dan menetapkan agama
Kristen sebagai agama negara.
Sebagai agama resmi negara Kekristenan menyebar dengan sangat cepat.
Namun Gereja juga mulai terpecah-pecah dengan munculnya berbagai aliran
(bidaah). Salah satu upaya untuk menekan bidaah adalah dengan
diadakannya Konsili Nicea yang pertama pada tahun 325 M. Konsili Nicea
mencetuskan pengakuan iman umat Kristen keseluruhan pertama kali,
sebagai tanda persatuan Kristen universal yang dibedakan dari umat-umat
Kristen yang bidaah. Salah satu contohnya adalah bidaah Arianisme, yang
merupakan salah satu krisis bidaah terbesar saat itu yang menjadi alasan
utama diadakannya Konsili Nicea yang pertama.
Ketika Kerajaan Romawi runtuh dan tercerai-berai, Gereja Kristen tetap
bertahan. Pada abad ke-11 terjadilah Perang Salib, di mana kekejaman
prajurit perang salib menjadi sejarah kelam Kristen yang hingga kini
masih banyak disesali. Perang Salib adalah perang agama antara Kristen
dan Islam. Dicetuskan pertama kali oleh Paus Urbanus II, Perang Salib I
bertujuan merebut kembali kota suci Yerusalem dari kekuasaan Islam, yang
merupakan tempat penting umat Kristen sebagai tujuan ziarah saat itu.
Sementara itu, bagian timur dari Kerajaan Romawi, bertahan sebagai
Gereja yang disebut Yunani atau Ortodoks, yang mewartakan kabar gembira
di Rusia dan memisahkan diri dari belahan barat yang berada di bawah
pimpinan Gereja Roma. Pemisahan ini terjadi pada tahun 1054.
Sementara itu, pada tahun 1460 penemuan percetakan oleh Gutenberg
membuat Kitab Suci terjangkau bagi semua orang. Sebelumnya, Kitab Suci
dibatasi oleh Gereja kepada umat dengan tujuan untuk menekan bidaah yang
merupakan salah satu krisis besar dalam tubuh Gereja saat itu. Kitab
Suci hanya dibacakan di Gereja dan menjadi sumber kotbah.
Saat itu, banyak pihak-pihak tidak bertanggungjawab memanfaatkan
kedudukan di dalam Gereja Barat (Katolik) sebagai sumber kekuasaan,
sehingga secara tidak langsung mencoreng nama baik Gereja.
Pejabat-pejabat tinggi di dalam Gereja semakin terpengaruh untuk
mementingkan kepentingan duniawi sehingga semakin menyeleweng dari
ajaran dasar Gereja Katolik. Banyak oknum yang menduduki posisi penting
di dalam Gereja menggunakan kekuasaannya secara semena-mena sehingga
merugikan banyak umat saat itu. Hal ini membuat banyak umat Kristen
kecewa dan memprotes serta menuntut pembaharuan. Banyak umat yang
berpikir bahwa salah satu cara mendatangkan pembaharuan di dalam Gereja
ialah dengan memberikan Kitab Suci kepada semua orang.
Puncak dari penyalahgunaan ajaran Gereja diawali dengan jual beli surat
indulgensia. Praktik ini sendiri sesungguhnya bertentangan dengan ajaran
iman Gereja Katolik. Martin Luther, seorang rahib, memutuskan untuk
melakukan pembaharuan dengan melakukan pemberontakan terhadap Gereja
Katolik dan membangun gereja tandingan baru. Sedangkan Ignatius Loyola,
pendiri ordo Jesuit dalam Gereja Katolik, berusaha melakukan pembaharuan
dari dalam, salah satunya adalah dengan memberikan pendidikan teologi
Kristen yang ketat kepada para klerus, terutama dalam kepatuhan penuh
pada otoritas dan ajaran Gereja, agar praktek korup dalam Gereja
berkurang dan tidak menjadi-jadi. Konsili Trente merupakan konsili yang
diadakan sebagai reaksi dari reformasi Martin Luther, di mana reformasi
Martin Luther dianggap oleh Gereja Katolik sebagai tindakan yang
memperparah kondisi kekristenan. Dalam Konsili Trente-lah ajaran iman
Gereja Katolik dipertegas (termasuk kanonisasi terakhir Alkitab Katolik)
demi menekan dan mengurangi berbagai macam penyalahgunaan yang
sewenang-wenang dalam tubuh Gereja.
Ketika Martin Luther menerjemahkan Kitab Suci menjadi bahasa Jerman,
pengikut-pengikutnya mulai memiliki pandangan yang berbeda-beda akan
Kitab Suci tersebut, lalu terjadilah pertentangan penafsiran antara umat
satu dengan yang lain, salah satu kasusnya adalah pertentangan antara
denominasi protestan reformed-nya Zwingli dan denominasi anabaptis,
reformed-nya Calvinis dengan Arminian, dan masih banyak lagi. Inilah
yang membuat agama Kristen Protestan sekarang banyak terbagi-bagi lagi
menjadi denominasi-denominasi lagi.
sejarah budha
1. Kehidupan Masyarakat India Pra-Buddha
Agama Buddha berasal dari India bagian utara diajarkan oleh Buddha
Sakyamuni. Beliau juga dikenal dengan sebutan Buddha Gautama, Bhagava,
Tathagata, Sugata, dan sebagainya. Pada masa kecil, Beliau adalah
seorang pangeran, bernama Siddharta. Pangeran Siddharta dilahirkan pada
tahun 623 sebelum Masehi, jadi sekitar 2600 tahun yang lalu.
Sebelum lahirnya agama Buddha, masyarakat India telah mengenal berbagai
kepercayaan agama. Saat itu terdapat beberapa pandangan hidup di India.
Pada periode awal, masyarakat India bercorakkan tradisi pertapaan dengan
pertapa-pertapa berambut panjang yang telanjang. Periode berikutnya,
masyarakat mengenal upacara-upacara keagamaan dan ritus kurban dari kaum
Brahmana.
Selanjutnya, masyarakat India mengenal agama dari kaum Upanishad.
Menurut kaum ini, manusia memiliki suatu diri atau jiwa yang kekal.
Kebahagiaan kekal hanya dapat diraih jika manusia dapat bersatu dengan
alam semesta. Untuk bersatu dengan alam semesta, mereka mengembangkan
meditasi yoga.
Pandangan ini mendapat reaksi keras dari kaum materialis. Kaum
materialis menganggap bahwa tidak ada jiwa yang kekal. Menurut kaum ini,
jiwa tidak lain tidak bukan adalah badan jasmani itu sendiri. Setelah
kematian, kehidupan manusia berakhir, tidak ada lagi kehidupan
berikutnya. Kebahagiaan kekal itu tidak ada. Kebahagiaan hanya dapat
diraih selagi hidup. Mereka yang mengikuti kaum materialis menjalani
hidup bersenang-senang untuk menikmati kebahagiaan duniawi.
Perkembangan selanjutnya, masyarakat India mengenal tradisi pertapaan
keras dari kaum Jaina. Kaum ini percaya bahwa setiap manusia
sesungguhnya memiliki jiwa yang suci dan bersih dalam dirinya. Jiwa yang
murni ini menjadi kotor karena perasaan-perasaan indera. Menurut kaum
ini, kebahagiaan kekal dapat dicapai bila dapat membunuh
perasaan-perasaan indera melalui cara-cara penyiksaan diri.
2. Masa Kehidupan Sang Buddha
Pangeran Siddharta dilahirkan dalam sebuah keluarga kerajaan. Ayahnya
adalah seorang raja yang memerintah di kota Kapilavasthu. Hidup dalam
keluarga istana, sang pangeran bergelimangan dengan
kesenangan-kesenangan duniawi.
Kehidupan dalam kebahagiaan duniawi sangat didambakan banyak orang.
Kekayaan yang berlimpah, kekuasaan yang tinggi, istri yang cantik, dan
segala kemewahan duniawi lainnya. Kehidupan yang serba berlebihan di
mana segala keinginan dapat terpenuhi ternyata tidak membuat sang
pangeran berbahagia. Setelah sekian lama menikmati kehidupan duniawi
yang menyenangkan dalam istana, suatu perjalanan keluar istana yang
untuk pertama kalinya dilakukan dalam masa hidupnya segera merubah
seluruh jalan hidupnya.
Kejadian di luar istana yang belum pernah ditemuinya selama hidup di
dalam istana: orang tua renta yang berjalan tergopoh-gopoh dengan
bantuan sebuah tongkat, orang sakit parah yang sedang merintih kesakitan
dalam pembaringan, orang mati yang diusung menuju tempat kremasi, dan
seorang pertapa suci yang sedang bermeditasi dengan heningnya; keempat
kejadian yang dijumpainya ini pada kesempatan berbeda, telah membuat
dirinya merenung dan terus merenung akan hidup ini: Mengapa harus ada
usia tua? Mengapa harus ada masa sakit? Mengapa harus ada kematian?
Mengapa harus ada penderitaan? Apa arti hidup ini? Dapatkah manusia
terbebas dari usia tua, sakit dan mati?
Demikianlah batinnya diliputi dengan segala pergolakan yang akhirnya
puncak pergolakan pada usia 29 tahun di mana Beliau memutuskan untuk
menjalani kehidupan suci, seperti halnya kejadian keempat yang telah
dilihatnya: seorang pertapa suci yang sedang tenang bermeditasi. Beliau
memutuskan untuk mengikuti jejaknya dalam menemukan jawaban atas semua
hal yang menyebabkan penderitaan manusia. Beliau bertekad untuk
menemukan obat penderitaan yang dapat membebaskan manusia dari
penderitaan karena usia tua, sakit dan mati. Masa ini disebut sebagai
Masa Pelepasan Agung.
Pangeran Siddharta telah membuktikan bahwa kebahagiaan yang diperoleh
dari kehidupan duniawi bukanlah kebahagiaan yang abadi. Kebahagiaan
duniawi bersifat sementara. Setelah kebahagiaan lenyap, muncullah
penderitaan. Demikianlah dalam hidup ini, suka dan duka datang silih
berganti.
Beliau yakin adanya suatu kebahagiaan yang bersifat abadi. Dalam usaha
pencarian, Beliau mengembara dan berturut-turut berguru kepada beberapa
orang guru meditasi. Pertapa Gautama, demikianlah kemudian Beliau
dikenal, mempelajari berbagai ilmu meditasi. Dengan cepat, Beliau
menyamai kepandaian gurunya. Demikianlah, Beliau berpindah dari satu
guru ke guru lainnya dan dengan segera pula segala ilmu dari gurunya
dapat dikuasainya. Namun, usaha Beliau menemukan obat penderitaan tetap
belum berhasil.
Dalam meditasi, Beliau berhasil menemukan adanya suatu bentuk
kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan duniawi. Kebahagiaan dalam
meditasi ini adalah kebahagiaan spiritual. Kebahagiaan spiritual
berbentuk lebih halus. Tetapi, Beliau menyadari bahwa kebahagiaan ini
belumlah sempurna, masih bersifat sementara.
Akhirnya, Beliau mencoba menemukan sendiri Jalan Pembebasan tersebut,
yang membebaskan manusia dari penderitaan. Beliau mulai mempraktekkan
pertapaan dengan menyiksa diri. Setelah bertahun-tahun bertapa menyiksa
diri membuat tubuh Beliau kurus kering. Hampir saja Beliau mati karena
tubuhnya yang tinggal kulit pembalut tulang. Namun, Jalan Pembebasan
tidak juga diperolehnya. Jawaban atas semua penderitaan tetap tidak
didapatkannya.
Hingga pada suatu saat, Beliau disadari oleh serombongan pemain kecapi
yang sedang lewat sambil berbincang-bincang menasehati yang lain:
"Jika tali senar ini dikencangkan, suaranya akan semakin tinggi. Jika
terus dikencangkan, senarnya akan putus dan lenyaplah suaranya. Jika
tali senar ini dikendorkan, suaranya akan melemah. Jika terus
dikendorkan, lenyaplah suaranya."
Kata-kata ini ternyata telah menyadari Pertapa Gautama bahwa di dalam
tubuh yang lemah karena menyiksa diri, tidak akan ditemukan pikiran yang
jernih. Bagaimana Pengetahuan tentang Pembebasan dapat diperoleh tanpa
pikiran yang jernih?
Pertapa Gautama akhirnya memutuskan untuk bangkit dari meditasinya.
Beliau ingin mengakhiri cara bertapa menyiksa diri dan bergegas untuk
mandi membersihkan tubuhnya. Namun, begitu Beliau bangkit, tubuhnya yang
sedemikian lemahnya tak kuat menopang dirinya, yang membuatnya segera
terjatuh pingsan.
Saat itu, seorang pemuda gembala bernama Nanda sedang lewat dan segera
menolongnya. Ia memberikannya semangkuk air tajin. Ketika Beliau sadar
dari pingsannya, Beliau segera mencicipi air tajin tersebut, dan
akhirnya secara perlahan kesehatannya pulih kembali.
Pertapa Gautama pun akhirnya meninggalkan kehidupan menyiksa diri.
Beliau telah membuktikan bahwa kehidupan menyiksa diri tidak akan
membawa seseorang kepada kebahagiaan abadi, Jalan Pembebasan, Pencerahan
Sempurna.
Beliau kemudian memutuskan untuk bermeditasi di bawah pohon Bodhi sambil
mengumandangkan kebulatan tekadnya dengan berprasetya: "Meskipun
darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulangku jatuh
berserakan, tetapi Aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai Aku
mencapai Pencerahan Sempurna."
Dikisahkan bahwa di dalam meditasinya, pertapa Gautama dihantui
perasaan-perasaan bimbang dan ragu. Pikiran-pikiran seperti keinginan
nafsu, keinginan jahat, ketakutan, keragu-raguan dan kemalasan mencoba
menggagalkan usahanya dalam meraih Pengetahuan mengenai Pembebasan.
Hampir saja Beliau dikalahkan oleh Mara, penggoda yang dahsyat itu.
Namun dengan keteguhan hati Beliau yang membaja, akhirnya membuat-Nya
berhasil menaklukkan Sang Mara.
Pertapa Gotama telah mencapai Pencerahan Sempurna. Beliau telah menjadi
Buddha. Peristiwa penting ini terjadi pada saat malam terang purnama di
bulan Waisak ketika Beliau berusia 35 tahun. Beliau telah menyadari
tentang asal mula penderitaan dan jalan untuk melenyapkannya. Dhamma
inilah yang akan diajarkan-Nya kepada seluruh umat manusia agar kita
semua dapat mengetahui hakekat sesungguhnya dari kehidupan ini dan
berusaha untuk melenyapkan penderitaan sehingga kebahagiaan tertinggi
dapat kita raih.
Selama 45 tahun Sang Buddha mengajarkan dhamma kepada umat manusia.
Melalui pengalamannya sendiri, dengan usaha dan perjuangan Beliau
sendiri, dhamma telah ditemukannya, dan telah diajarkannya pada kita
semua.
3. Perkembangan Agama Buddha
Sang Buddha pertama kali mengajarkan dhamma kepada lima orang pertapa di
taman rusa Isipatana, Sarnath. Beliau membimbing mereka menuju Arahat.
Arahat adalah gelar bagi mereka yang telah melatih diri dan berhasil
mencapai tingkat kesucian tertinggi yang dapat dicapai manusia. Seorang
Arahat telah terbebas dari kekotoran batin duniawi. Mereka telah bersih
dari keserakahan, keinginan yang disebabkan keakuan, kebencian, dan
ketidaktahuan akan Jalan Pembebasan.
Dengan sifat-sifat tanpa cela yang dimilikinya, seorang Arahat adalah
pelestari dhamma terbaik untuk meneruskan dhamma Sang Buddha di kemudian
hari.
Setelah Sang Buddha Parinibbana, para Arahat kemudian berkumpul untuk
menghimpun ajaran-ajaran Beliau yang telah disampaikan kepada banyak
orang yang berbeda, di waktu dan tempat yang berlainan. Akhirnya,
terhimpunlah Kitab Suci Agama Buddha.
Kitab suci berbahasa Pali dinamakan Tipitaka sedangkan kitab suci
berbahasa Sansekerta dinamakan Tripitaka. Tipitaka atau Tripitaka
berarti tiga keranjang. Nama ini digunakan karena kitab-kitab suci yang
tersusun berhasil terkumpul sebanyak tiga keranjang.
Secara kuantitas, kitab suci agama Buddha adalah kitab suci yang paling
tebal di antara semua kitab suci yang ada di dunia. Secara keseluruhan,
ajaran-ajaran Sang Buddha dan para siswa-Nya yang telah Arahat, jika
telah dibukukan diperkirakan memiliki ketebalan berkisar antara puluhan
hingga puluhan ribu kali lipat lebih tebal dari Kitab Injil yang telah
dikenal umum.
Ajaran Sang Buddha yang sedemikian luasnya menyebabkan tumbuhnya banyak
tradisi dan aliran dalam agama Buddha. Mereka mencoba menemukan suatu
cara praktis yang mudah untuk mempraktekkan ajaran Sang Buddha yang
sangat luas itu dengan penekanan pada sutra-sutra tertentu dalam bagian
Kitab Suci Agama Buddha.
Agama Buddha dipraktekkan meluas di India setelah Sang Buddha
Parinibbana. Tradisi Buddhis pun terbentuk di wilayah yang sekarang
bernama Pakistan dan Afghanistan, dan mengakar di Asia Tengah pada awal
Masehi. Invansi Islam di kemudian hari melemahkan agama ini pada
sub-benua India dan Asia Tengah.
Dari India, agama Buddha menyebar ke SriLanka. Dari India dan SriLanka,
agama Buddha menyebar ke Asia Tenggara dan sekarang berakar kuat di
Thailand dan Myanmar. Pemerintahan komunis di beberapa negara Asia telah
menekan perkembangan agama Buddha. Namun, sejak abad modern,
intelektual Barat mulai tertarik dengan agama Buddha. Banyak vihara
Buddhis, pusat-pusat Dharma, dan berbagai tempat pelatihan meditasi
telah dibangun di negara-negara Barat.
Dari Asia Tengah, agama Buddha pertama kali masuk ke China, kemudian
agama Buddha dibawa dari India. Banyak peziarah China membawa kekayaan
naskah agama Buddha dari India ke China. Dalam masyarakat China, agama
Buddha mengalami akulturasi dengan kebudayaan masyarakat setempat.
Dari China, agama Buddha menyebar ke Vietnam dan Korea. Dari Korea,
agama Buddha mencapai Jepang. Dari Jepang, agama Buddha menyebar ke
negara-negara Barat.
Agama Buddha pertama kali diperkenalkan ke Tibet dari Nepal (India
Utara) dan China. Dari Tibet, agama Buddha menyebar ke Mongolia dan
Manchuria. Sejak China Komunis mencaplok Tibet, ribuan rakyat Tibet
terpaksa melarikan diri ke pengasingan di India dan Nepal, dan telah
membangun kembali vihara-vihara di India. Banyak pemimpin spiritual di
Tibet pergi ke negara-negara Barat dan Asia, yang menyebabkan
pusat-pusat Dharma bermunculan.
4. Agama Buddha di Indonesia
Di masa pemerintahan Sriwijaya, Syailendra dan Majapahit, agama Buddha
berkembang dengan pesat di Indonesia. Bahkan, Sriwijaya menjadi pusat
pendidikan Buddhis terkenal pada masa itu.
Akulturasi agama Buddha dengan kebudayaan masyarakat setempat di
Indonesia tercermin lewat bangunan candi-candi bercorak Buddhis yang
dibangun dengan megah pada masa pemerintahan raja-raja wangsa
Syailendra. Pembangunan candi-candi Buddhis seperti Borobudur, Mendut
dan Pawon menunjukkan kebudayaan bangsa kita yang sangat tinggi pada
saat itu.
Pada masa pemerintahan Majapahit, agama Buddha dan Hindu dapat
berkembang bersama-sama. Toleransi beragama pada saat itu sangat tinggi.
Hal ini terbukti seperti yang tertulis dalam Kitab Sutasoma, karya
seorang pujangga besar Buddhis saat itu, Mpu Tantular. Dalam kitab
Sutasoma, terdapat perkataan "Bhinneka Tunggal Ika" yang digunakan saat
ini dalam lambang negara kita.
Sejak runtuhnya kerajaan Majapahit dan masa penyebaran agama Islam di
Indonesia, perkembangan agama Buddha di Indonesia mengalami kemunduran.
Pada masa kolonial Belanda, agama Buddha berada antara ada dan tiada.
Kemudian pada abad ke-20, sejak diundangnya bhikkhu Narada Thera dari
SriLanka ke Indonesia, agama Buddha secara perlahan mulai berkembang
kembali. Bhikkhu Narada Thera banyak memberikan pengetahuan Dharma dan
informasi mengenai agama Buddha ke seluruh pelosok Nusantara.
Sejak itulah agama Buddha berkembang kembali di Indonesia dan dewasa ini
sedang berada dalam tahap pembinaan masyarakat Buddhis Indonesia yang
berlandaskan Pancasila untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur.
5. Agama Buddha di Dunia
Akulturasi agama Buddha dengan kebudayaan setempat di mana agama Buddha
tumbuh tidak mungkin dapat dihindari. Agama Buddha mengambil bentuk luar
dari kebudayaan setempat yang ada dan menyesuaikannya dengan ajaran
agama Buddha.
Agama Buddha berasal dari India. Kebudayaan India sangat mempengaruhi
bentuk luar agama Buddha. Kemudian, agama Buddha berkembang di Tibet dan
China. Agama Buddha pun mengalami akulturasi dengan kebudayaan setempat
di Tibet dan China.
Terkadang perpaduan antara agama Buddha dengan kebudayaan setempat
menyebabkan batas yang kurang jelas antara praktek agama Buddha dengan
praktek bukan agama Buddha. Sebagai contoh, perpaduan antara agama
Buddha dengan kebudayaan China.
Sebelum perkembangan agama Buddha di China, masyarakat China sangat
dipengaruhi ajaran filsafat dari Khonghucu dan kepercayaan Taoisme, yang
keduanya merupakan kebudayaan asli setempat. Khonghucu sangat
menekankan tata cara persembahyangan dan mengutamakan ajaran bakti.
Dalam perkembangannya, agama Buddha menyesuaikan dengan menitikberatkan
Sutra Bakti, sebagai pelengkap nilai-nilai budaya China. Segala tata
cara dan upacara formal juga sangat ditekankan pada vihara-vihara
Buddhis.
Pada abad modern ini, agama Buddha mulai berkembang di negara-negara
Barat. Banyak cendekiawan Barat yang tertarik dan berminat untuk
mempelajari agama Buddha. Mereka, setelah belajar agama Buddha,
menyatakan bahwa di dalam agama Buddha, mereka menemukan sesuatu yang
logis dan ajaran bermanfaat sebagai pedoman bagi kehidupan mereka.
Ternyata agama Buddha memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan
cendekiawan Barat. Umat Buddha juga boleh berbangga hati dengan semakin
diterimanya agama Buddha di negara-negara Barat seperti Amerika Serikat,
Inggris, Jerman, dan sebagainya. Banyak pula ilmuwan Barat menyatakan
bahwa prinsip-prinsip dasar agama Buddha tidak bertentangan bahkan
sejalan dengan prinsip-prinsip ilmiah Sains modern. Dengan demikian,
perkembangan dan kemajuan Buddhadharma di berbagai wilayah di belahan
dunia di masa mendatang dapatlah diharapkan.
sejarah Agama hindu
asal usul agama hindu :
Agama Hindu (Bahasa Sanskerta: Sanātana Dharma सनातन धर्म "Kebenaran
Abadi" [1]), dan Vaidika-Dharma ("Pengetahuan Kebenaran") adalah sebuah
agama yang berasal dari anak benua India. Agama ini merupakan lanjutan
dari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa
Indo-Iran (Arya). Agama ini diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM
sampai 1300 SM dan merupakan agama tertua di dunia yang masih bertahan
hingga kini.[2][3] Agama ini merupakan agama ketiga terbesar di dunia
setelah agama Kristen dan Islam dengan jumlah umat sebanyak hampir 1
miliar jiwa.[4]
Penganut agama Hindu sebagian besar terdapat di anak benua India. Di
sini terdapat sekitar 90% penganut agama ini. Agama ini pernah tersebar
di Asia Tenggara sampai kira-kira abad ke-15, lebih tepatnya pada masa
keruntuhan Majapahit. Mulai saat itu agama ini digantikan oleh agama
Islam dan juga Kristen. Pada masa sekarang, mayoritas pemeluk agama
Hindu di Indonesia adalah masyarakat Bali, selain itu juga yang tersebar
di pulau Jawa,Lombok, Kalimantan (Suku Dayak Kaharingan), Sulawesi
(Toraja dan Bugis - Sidrap).
ETIMOLOGI
Dalam bahasa Persia, kata Hindu berakar dari kata Sindhu (Bahasa
Sanskerta). [5] Dalam Reg Weda, bangsa Arya menyebut wilayah mereka
sebagai Sapta Sindhu (wilayah dengan tujuh sungai di barat daya anak
benua India, yang salah satu sungai tersebut bernama sungai Indus). Hal
ini mendekati dengan kata Hapta-Hendu yang termuat dalam Zend Avesta
(Vendidad: Fargard 1.18) — sastra suci dari kaum Zoroaster di Iran. Pada
awalnya kata Hindu merujuk pada masyarakat yang hidup di wilayah sungai
Sindhu. Hindu sendiri sebenarnya baru terbentuk setelah Masehi ketika
beberapa kitab dari Weda digenapi oleh para brahmana. Pada zaman
munculnya agama Buddha, agama Hindu sama sekali belum muncul semuanya
masih mengenal sebagai ajaran Weda.
KEYAKINAN DALAM AGAMA HINDU
Hindu seringkali dianggap sebagai agama yang beraliran politeisme karena
memuja banyak Dewa, namun tidaklah sepenuhnya demikian. Dalam agama
Hindu, Dewa bukanlah Tuhan tersendiri. Menurut umat Hindu, Tuhan itu
Maha Esa tiada duanya. Dalam salah satu ajaran filsafat Hindu, Adwaita
Wedanta menegaskan bahwa hanya ada satu kekuatan dan menjadi sumber dari
segala yang ada (Brahman), yang memanifestasikan diri-Nya kepada
manusia dalam beragam bentuk.
Dalam Agama Hindu ada lima keyakinan dan kepercayaan yang disebut dengan
Pancasradha. Pancasradha merupakan keyakinan dasar umat Hindu. Kelima
keyakinan tersebut, yakni:
1. Widhi Tattwa - percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan segala aspeknya
2. Atma Tattwa - percaya dengan adanya jiwa dalam setiap makhluk
3. Karmaphala Tattwa - percaya dengan adanya hukum sebab-akibat dalam setiap perbuatan
4. Punarbhava Tattwa - percaya dengan adanya proses kelahiran kembali (reinkarnasi)
5. Moksa Tattwa - percaya bahwa kebahagiaan tertinggi merupakan tujuan akhir manusia
KONSEP KETUHANAN
Agama Hindu merupakan agama tertua di dunia dan rentang sejarahnya yang
panjang menunjukkan bahwa agama Hindu telah melewati segala paham
ketuhanan yang pernah ada di dunia.[9] Menurut penelitian yang dilakukan
oleh para sarjana, dalam tubuh Agama Hindu terdapat beberapa konsep
ketuhanan, antara lain henoteisme, panteisme, monisme, monoteisme,
politeisme, dan bahkan ateisme. Konsep ketuhanan yang paling banyak
dipakai adalah monoteisme (terutama dalam Weda, Agama Hindu Dharma dan
Adwaita Wedanta), sedangkan konsep lainnya (ateisme, panteisme,
henoteisme, monisme, politeisme) kurang diketahui. Sebenarnya konsep
ketuhanan yang jamak tidak diakui oleh umat Hindu pada umumnya karena
berdasarkan pengamatan para sarjana yang meneliti agama Hindu tidak
secara menyeluruh.