aik teman, berikut ini saya punya falsafah 5 jari manusia, terutama buat
jari tangan. Seperti pada judulnya, falsafah 5 jari dalam kehidupan
Manusia.
1. Ada si gendut jempol yang selalu berkata baik dan menyanjung.
2. Ada telunjuk yang suka menunjuk dan memerintah.
3. Ada si jangkung jari tengah yang sombong dan suka menghasut jari telunjuk.
4. Ada jari manis yang selalu menjadi teladan, baik, dan sabar sehingga diberi hadiah cincin.
5.
Ada kelingking yang lemah dan penurut serta pemaaf (waktu kecil kalau
kita berbaikan dengan musuh kita pasti saling sentuh jari kelingking?).
Dari kelima point di atas (sesuai dengan jumlah jarinya), kita bisa
lihat bahwa terdapat perbedaan yang positif dan negatif, tapi meskipun
kelima jari tersebut memiliki perbedaan, mereka bisa bersatu dan bekerja
sama untuk mengaplikasikan apa yang hendak kita lakukan. Misalnya :
menulis, memegang sesuatu, melakukan pekerjaan, dll. Pastinya untuk
menolong anggota badan lainnya
Mungkin dari sini kita bisa belajar memahami apa yang sebenarnya
falsafah kelima jari kita, yang jelas kita jangan sampai merendahkan
yang lain karena suatu hal, tapi kita bisa mengajak mereka untuk bekerja
sama sehingga bisa menghasilkan apa yang dituju.
Ada sebuah cerita, dimana dalam cerita ini dikatakan bahwa ada 2 anak
yang sedang bersama, kita sebut saja si A dan si B. Kemudian si A marah
dan menunjuk si B dengan jari telunjuknya sambil mengatakan "Kamu
Monyet", kemudian si A ditegur sama orang tuanya dan berkata yang
seperti itu jangan dilakukan. Kemudian orang tuanya itu berkata lagi
"Tidakkah kamu ketahui 1 jari telunjuk di hadapkan kepada si B dan 1
jari itu mengatakan si B “monyet”, tapi lihat kemana 4
jari lainnya mengarah?”, anda sendiri tau kan jawabannya 4 jari itu
mengarah kemana?! Kesimpulannya 1 jari ke si B dan 4 jari ke si A. Maka
saat kita menunjuk kepada orang lain sambil memaki, sebenarnya secara
tidak langsung kita sedang memaki diri kita sendiri, bahkan yang
menunjuk kepada diri sendiri itu lebih banyak daripada yang ditunjukkan
kepada orang lain.
Nah, dari falsafah 5 jari diatas maka alangkah baiknya bila kita
memahami bahwa setiap manusia itu diciptakan dengan berbeda - beda.
Tapi, sebenarnya kita sebagai ciptaannya jangan sampai membeda -
bedakan, justru kita harus bisa mempererat dan mempersatukan perbedaan
tersebut menjadikan suatu kesatuan yang tidak bisa terlepaskan. Ibarat
sapu lidi, jika jumlah yang banyak maka akan sulit untuk dipatahkan,
tapi jika hanya ada satu lidi kita bisa mematahkannya dengan sangat
mudah. Kita haruslah memiliki rasa saling menyayangi, saling menolong,
saling membantu, dan saling melengkapi / mengisi. Bukan untuk saling
menuduh satu sama lain, menunjuk dengan seenaknya, merusak bahkan
membunuh orang lain.
Seperti itulah teman, falsafah 5 jari yang saya ketahui. Semoga apa yang sudah saya tulis bisa bermanfaat ya. :)
Filosofi 5 Jari Manusia Dalam Kehidupan
Misteri Keberadaan Kerajaan Demak dan Pulau Muria
Kerajaan
Demak adalah kerajaan Islam pertama di Jawa dan ada sesudah era
Kerajaan Majapahit. Sebagian raja Demak adalah turunan raja-raja
Majapahit, termasuk Raden Patah –sang pendiri Kerajaan Demak.
Pada tahun 1515, Kerajaan Demak sudah berwilayah dari Demak sampai
Cirebon. Pada tahun 1546, Kerajaan Demak sudah semakin luas wilayahnya
termasuk Jambi, Palembang, Bangka,
Banten, Sunda Kalapa, dan Panarukan di Jawa Timur. Tahun 1588 Demak
lenyap dan penerusnya berganti ke Pajang yang merupakan pendahulu
kerajaan/kesultanan di Yogyakarta dan Surakarta sekarang.
Runtuhnya Kerajaan Demak tak berbeda dengan penaklukannya atas
Majapahit. Peristiwa gugurnya tokoh-tokoh penting Demak saat menyerang
Blambangan yang eks Majapahit, dan rongrongan dari dalam Demak sendiri
membuat kerajaan makin lemah dan akhirnya runtuh dengan sendirinya.
Sebuah pelajaran dari sejarah –cerai-berai dari dalam akan membahayakan
kesatuan dan persatuan.
Lokasi Keraton Demak
Lokasi bekas
Keraton Kerajaan Demak belumlah ada kesepakatan di antara para ahli.
Sekelompok ahli mengatakan bahwa letak lokasi keraton tersebut paling
mungkin ada di kawasan selatan alun-alun kota Demak sekarang dan
menghadap ke utara. Di kawasan selatan Demak ini terdapat suatu tempat
bernama Sitinggil/Siti Hinggil–sebuah nama yang biasanya berasosiasi
dengan keraton.
Namun kelompok ahli yang lain menentang
pendapat tersebut, sebab pada abad XV, yaitu saat Kerajaan Demak ada,
kawasan Demak masih berupa rawa-rawa liar. Sangat tidak mungkin kalau
Raden Patah mendirikan kerajaannya di situ. Yang lebih mungkin, menurut
kelompok ini, pusat Kerajaan Demak ada di wilayah sekitar Semarang yaitu
Alastuwo, Kecamatan Genuk. Pendapat ini didukung oleh temuan
benda-benda arkeologi.
Kedua pendapat di atas menarik diuji
secara geologi sebab keduanya mau tak mau melibatkan sebuah proses
geologi bernama sedimentasi. Mari kita lihat sedikit proses sedimentasi
di wilayah yang terkenal ini. Ya, wilayah ini dalam hal sedimentasi
Kuarter, cukup terkenal. Ada pendapat bahwa dahulu kala Gunung Muria di
sebelah utara Demak tidak menyatu dengan tanah Jawa, ia merupakan sebuah
pulau volkanik yang kemudian akhirnya menyatu dengan daratan Jawa oleh
proses sedimentasi antara Demak-Muria.
Moh. Ali dalam bukunya
“Peranan Bangsa Indonesia dalam Sejarah Asia Tenggara”, menuliskan bahwa
pada suatu peristiwa, Raden Patah diperintahkan oleh gurunya, Sunan
Ampel dari Surabaya, agar merantau ke barat dan bermukim di sebuah
tempat yang terlindung oleh tanaman gelagah wangi. Tanaman gelagah yang
rimbun tentu hanya subur di daerah rawa-rawa. Dalam perantauannya itu,
Raden Patah sampailah ke daerah rawa di tepi selatan Pulau Muryo
(Muria), yaitu suatu kawasan rawa-rawa besar yang menutup laut atau
lebih tepat sebuah selat yang memisahkan Pulau Muryo dengan daratan Jawa
Tengah. Di situlah ditemukan gelagah wangi dan rawa; kemudian tempat
tersebut dinamai Raden Patah sebagai “Demak”.
Menurut Slamet
Muljana dalam bukunya, “Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit”,
hutan di Gelagah Wangi itu dibuka dan dijadikan tempat hunian baru
bernama “Bintara”. Dari nama wilayah baru itulah Raden Patah terkenal
sebagai Pangeran Bintara. Slamet Muljana juga menulis bahwa Raden Patah
(nama Tionghoanya Jin Bun – Raden Patah adalah anak raja Majapahit Prabu
Brawijaya dan salah seorang istrinya yang disebut Putri Cina) memilih
tinggal di daerah kosong dan berawa di sebelah timur Semarang, di kaki
Gunung Muria. Daerah itu sangat subur dan strategis untuk menguasai
pelayaran di pantai utara. Jin Bun berkedudukan di Demak. Di Demak, Jin
Bun menjadi ulama sesuai pesan gurunya, Sunan Ampel. Ia mengumpulkan
para pengikutnya baik dari masyarakat Jawa maupun Cina. Saat sebelum
memberontak kepada Majapahit, Jin Bun atau Raden Patah adalah bupati
yang ditempatkan di Demak atau Bintara.
Di sebelah baratlaut
kawasan ini nampak bukit Prawoto, sebuah tonjolan darat semacam
semenanjung yang batuannya terdiri atas napal di Pegunungan Kendeng
bagian tengah. Dalam sejarah Demak terdapat tokoh bernama Sunan Prawoto
(Prawata) yaitu anak Pangeran Trenggono. Nama sebenarnya adalah Mukmin,
tetapi kemudian ia dijuluki Sunan Prawoto karena setiap musim penghujan,
demi menghindari genangan di sekitar Demak, ia mengungsi ke
pesanggrahan yang dibangun di bukit Prawoto. Sisa-sisa pesanggrahan
tersebut masih menunjukkan pernah adanya gapura dan sitinggil (siti
hinggil) serta kolam pemandian (De Graaf, 1954, “De Regering van
Panembahan Senapati Ingalaga”).
De Graaf dan Th. Pigeaud
(1974), “De Eerste Moslimse Voorstendommen op Java” punya keterangan
yang baik tentang lokasi Demak. Letak Demak cukup menguntungkan bagi
kegiatan perdagangan maupun pertanian. Selat yang memisahkan Jawa Tengah
dan Pulau Muryo pada masa itu cukup lebar dan dapat dilayari dengan
leluasa, sehingga dari Semarang melalui Demak perahu dapat berlayar
sampai Rembang. Baru pada abad ke-17 selat tadi tidak dapat dilayari
sepanjang tahun.
Pada abad ke-17 khususnya pada musim penghujan
perahu-perahu kecil dapat berlayar dari Jepara menuju Pati yang
terletak di tepi sungai Juwana. Pada tahun 1657, Tumenggung Pati
mengumumkan bahwa ia bermaksud memerintahkan menggali terusan yang
menghubungkan Demak dengan Pati sehingga dengan demikian Juwana dapat
dijadikan pusat perniagaan.
Pada abad ke-16 Demak diduga
menjadi pusat penyimpanan beras hasil pertanian dari daerah-daerah
sepanjang Selat Muryo. Adapun Juwana pada sekitar tahun 1500 pernah pula
berfungsi seperti Demak. Sehubungan itu, menurut laporan seorang
pengelana asing terkenal di Indonesia saat itu –Tom Pires, pada tahun
1513 Juwana dihancurkan oleh seorang panglima perang Majapahit dan Demak
menjadi satu-satunya yang berperan untuk fungsi itu. Perhubungan Demak
dengan daerah pedalaman Jawa Tengah adalah melalui Kali Serang yang
muaranya terletak di antara Demak dan Jepara. Sampai hampir akhir abad
ke-18 Kali Serang dapat dilayari dengan kapal-kapal sampai pedalaman.
Mata air Kali Serang terletak di Gunung Merbabu dan di Pegunungan
Kendeng Tengah. Di sebelah selatan pegunungan tersebut terdapat
bentangalam Pengging (di antara Boyolali dan Pajang/Kartasura).
Sedimen di Selat Muryo akhirnya semakin banyak dan kemudian
mendangkalkannya sehingga tak dapat lagi dilayari, pelabuhan Demak mati
dan peranan pelabuhan diambil alih oleh Jepara yang letaknya di sisi
barat Pulau Muryo. Pelabuhannya cukup baik dan aman dari gelombang besar
karena terlindung oleh tiga pulau yang terletak di depan pelabuhan.
Kapal-kapal dagang yang berlayar dari Maluku ke Malaka atau sebaliknya
selalu berlabuh di Jepara.
Selat Muria saat ini. Masih tampak bekasnya pada Google Earth
Jalan raya pantura yang menghubungkan Semarang-Demak-Kudus-Pati-Juwa
Bila
kapan-kapan kita menggunakan mobil melintasi jalan raya pantura antara
Demak-Pati-Juwana-Rembang, ingatlah bahwa sekitar 500 tahun yang lalu
jalan raya itu adalah sebuah selat yang ramai oleh kapal-kapal niaga
Kerajaan Demak dan tetangganya.
Jadi kraton kerajaan Demak memang besar kemungkinannya berada di Demak sekarang, bukan di daerah Semarang.
Hakikatnya wudhu
Assalamualaikum,...
"Berwudhu secara syariat adalah untuk mensucikan diri dr segala hadas
jasmani, akan tetapi wudhu secara hakikatnya adalah membersihkan dan
mensucikan hati dr segala kotoran dan najis rohani, yg membuat kita jauh
dr Allah. Air adalah untuk mensucikan kotoran jasmani dn istighfar
untuk mensucikan hati kita.
Hakikatnya wudhu adalah,..
Saat membasuh telapak tangan, hendaknya kita
jg beristighfar bila selam ini tangan kita dipergunakan untuk mengambil
yg bukan hak kita dn berbuat jahil, saat berkumur" sebaiknya disertai
dgn istighfar bila selam ini mulut kita sering kita gunakan untuk
berkata" kotor, dan tak bermanfaat, sering mengumpat dn sering
membicarakan kejelekan orang lain, saat membasuh muka sebaiknya
beristighfar krn sering kali muka kita ini masih sering dihadapkan pd
sesuatu selain Allah, seperti berbuat krn ingin di puji orang dan
lain"nya, saat membasuh lengan sebaiknya beristighfar bila selama ini
lengan kita masih sering kita gunakan untuk menyikut kanan kiri demi
kepentingan diri kita, saat membasuh kepala sebaiknya beristighfar krn
seringnya kita berbuat sombong, angkuh dan merasa benar sendiri, saat
membasuh telinga sebaiknya beristighfar krn selama ini telinga kita
masih sering kita gunakan untuk mendengar sesuatu yg tdk di ridhai, saat
membasuh kaki sebaiknya beristighfar bila selama ini langkah kaki kita
selalu ragu" dan was" dr segala ketentuan Allah, hingga Allah kuatkan
keyakinan kita untuk berjalan menuju cinta kasih-Nya,.
******* RENUNGAN UNTUK INDONESIAKU *******
Konsep Al-Qur’an adalah mengutamakan Akhlak yang terpuji untuk
kebaikan seluruh Makhluk, menjadi Rahmat bagi sekalian Alam merupakan
Pilar-Pilar Kebahagiaan dan kedamaian. Namun….jika Manusia sudah
tiada menyadari akan Hakikat dirinya, buta akan Nilai-nilai Dasar
Fitrahnya maka tentunya apa yang menjadi tujuan Hidup yaitu Kebahagiaan
dan Kedamaian tak akan terwujud.
Apapun yang ada di luar dari
diri adalah cermin dari apa yang ada pada diri. Ketika Bangsa dan Negara
mengalami Krisis Multi Demensi karena Tonggak Dasar dari pada TAUHID
sudah ternodai dengan segala Aneka Ragam yang serba gemerlapan menjadi
keutamaan dan kebutuhan pada diri lalu melangkah tanpa Arah yang sudah
di tetapkan dalam Norma Kebenaran, mengikuti Nafsu, ke-EGO-an diri
semata tentunya bias dari pada itu akan terjadi sikut menyikut satu
dengan yang lain, gontok-gontokkan meraja lela, saling menjatuhkan
bahkan tidak jarang yang saling bunuh membunuh hanya di karenakan
persaingan dalam mendapatkan Kedudukan, Tahta, Kekayaan dan Kecantikkan.
Lalu dimanakah…Kemuliaan Manusia yang telah dinyatakan Allah lebih
Mulia dari pada Makhluk2 yang lain…????. Ternyata kemuliaan yang di
Anugrahkan Allah kepada Manusia itu telah di-GADAI-kan untuk kepuasan
Hawa Nafsu/ke-EGO-an semata dalam memenuhi rasa ketidak puasan akan
sesuatu yang ada pada dirinya. Semuanya serba kurang….kurang….dan
kurang, Jika Seandainya Dunia dan seluruh isinya bisa di genggamnya maka
tentunya manusia-manusia yang buta Hatinya akan berlomba-lomba untuk
meraihnya.
Marilah…bersama-sama melangkah dalam Kesadaran Diri
yang berlandaskan Azaz Lillaahi Ta’ala dan mengerti bahwa Hidup bukan
hanya sekedar untuk mengisi perut dan menurutkan Hawa Nafsu tetapi yang
terlebih utama adalah Berbagi dalam Cinta Kasih, menebarkan Rahmat
kepada sekeliling menjadi pengayom bagi orang2 yang membutuhkan, menjadi
Kawan bagi yang kekurangan, menjadi Kebahagiaan untuk orang lain bukan
menjadi orang yang mengharapkan kebahagiaan orang lain.
Tentunya….jika hal itu terwujud di muka Bumi ini, di Bumi Pertiwi ini,
di Negara yang kita Cintai ini yaitu INDONESIA RAYA dari Sabang sampai
Merauke maka tak akan diragukan lagi….Kebahagiaan dan Kedamaian
berangsur-angsur akan di dapatkan. Seiring dengan Waktu, jika Manusia
yang didalamnya menyadari akan Jati Dirinya dan kemudian menyelam
kedalam Dirinya senantiasa Introspeksi diri, merenung dalam Musyahadah,
Menyaksikan akan dirinya beserta Alam adalah sebagai Bukti dan Saksi
adanya Allah yang Arrohmaan Arrohiim dan selalu mendengarkan Hati
Nuraninya yang tiada tercampur oleh Nafsu/EGO, Maka merekalah sebagai
Penyelamat Bangsa, merekalah sebagai Tonggak Negara, merekalah sebagai
Pejuang-Pejuang Tuhan untuk membela Ibu Pertiwi dan merekalah Khalifah
di muka Bumi ini untuk menebarkan Rahmat dan Cinta Kasih. Temukanlah
Jati Diri itu mulai saat ini, jangan sia-siakan Waktu karena waktu terus
berputar dan berputar tak perduli Status diri kita. Waktu akan segera
menelan orang2 yang yang tiada menyadari akan Jati Dirinya.
Karenanya….
“Demi Masa/Waktu di setiap harinya dalam 24 jam Sehari Semalam dari
buka mata sampai tutup mata kembali, sesungguhnya Manusia itu dalam
Kerugian karena tiada Kesadaran akan Jati Dirinya(Nilai-nilai Dasar
Fitrah)”. Dan Mereka yang mengerti serta menyadari akan Jati
Dirinya(Nilai-nilai Dasar Fitrah) adalah mereka yang ber Iman dan ber
Amal Sholeh(ber-Akhlakul Karimah/Baik Budi Pekertinya). Mereka itu
senantiasa saling berbagi dalam nasihat menasihati(Sharing) dalam
Kebenaran dan juga saling berbagi dalam nasihat menasihati(Sharing)
dalam kesabaran.
Sebuah Sindiran Untuk Direnungkan
“Suatu
hari ada email masuk ke mailbox saya, ternyata isinya adalah sindiran
mengenai perilaku manusia, saya rasa perlu kita cermati, jangan sampai
kita seperti yang tertulis didalamnya, dalam email tersebut tertulis:”
Diawal zaman, Allah menciptakan seekor sapi. Beliau berkata kepada sang
sapi "Hari ini kuciptakan kau! Sebagai sapi engkau harus pergi kepadang
rumput. Kau harus bekerja dibawah terik matahari sepanjang hari.
Kutetapkan umurmu sekitar 50 tahun". Sang Sapi keberatan, "Kehidupanku
akan sangat berat selama 50 tahun. Kiranya 20 tahun cukuplah buatku.
Kukembalikan kepadamu yang 30 tahun". Maka setujulah Allah.
Dihari kedua, Allah menciptakan monyet. "Hai monyet, hiburlah manusia.
Aku berikan kau umur 20 tahun!" Sang monyet menjawab "Apa? Menghibur
mereka dan membuat mereka tertawa? 10 tahun cukuplah. Kukembalikan 10
tahun padamu". Maka setujulah Allah.
Dihari ketiga,
Allah menciptakan anjing. "Apa yang harus kau lakukan adalah menjaga
pintu rumah majikanmu. Setiap orang mendekat kau harus menggongongnya.
Untuk itu kuberikan hidupmu selama 20 tahun!" Sang anjing menolak,
"Menjaga pintu sepanjang hari selama 20 tahun? Tidak mau! Kukembalikan
10 tahun padamu". Maka setujulah Allah.
Dihari
keempat, Allah menciptakan manusia. Sabda Allah, "Tugasmu adalah makan,
tidur, dan bersenang-senang. Inilah kehidupan. Kau akan menikmatinya.
Akan kuberikan engkau umur sepanjang 20 tahun!" Sang manusia keberatan,
katanya "Menikmati kehidupan selama 20 tahun? Itu terlalu pendek Allah.
Begini saja, karena sapi mengembalikan 30 tahun usianya, lalu anjing
mengembalikan 10 tahun, dan monyet mengembalikan 10 tahun usianya
padamu, berikanlah semuanya itu padaku. Semua itu akan menambah masa
hidupku menjadi 70 tahun. Setuju?" Maka setujulah Allah.
AKIBATNYA......
Pada 20 tahun pertama kehidupan, kita makan, tidur dan
bersenang-senang. 30 tahun berikutnya, kita harus bekerja keras
sepanjang hari untuk menopang keluarga kita. 10 tahun kemudian kita
menghibur dan membuat cucu kita tertawa dengan berperan sebagai monyet.
Dan 10 tahun berikutnya kita tinggal dirumah, duduk didepan pintu, dan
menggonggong kepada orang yang lewat.
“Begitulah,
tentu kita sebagai manusia yang sebenar-benarnya manusia (dibekali hati
nurani dan akal pikiran) tidak mau ibaratkan seperti manusia yang
tertulis dalam email itu bukan?”
Samapaikan walapun 1 Ayat
Saudaraku terkasih,...
Apa yg kau Tunggu,..!!?.
Sedang dihatimu ada seberkas rindu, setitik cinta,..yang kau sendiri
tidak tahu untuk siapa dan untuk apa...?!. Ada rasa kangen yg muncul
tiba" dlm keheningan jiwamu, ada asmara yg membara dlm hatimu, sedang
kau tak tahu rasa itu dari mana dan untuk siapa,.?!. Rasa rindu yg
menyeruak, rasa cinta yng menghentak,..seakan meluluh lantakan asa yg
retak, raga yg terkoyak oleh derunya keadaan yg bertandang, oleh lajunya sang waktu dlm perjalanan,..!!??.
Ketauilah olehmu,....wahai jiwa yg mendamba cinta..!?.
Segala rasa yg kau rasakan, segala cinta, rindu dan kangen yg
berkalang,..itu,..itu, adalah Rasa cinta, rindu dan kangen-nya Allah yg
terpantul dlm jiwa-mu, hingga kau merasakan rasa cinta, rindu dan
kangen,..yg merupakan biasa dr Rasa-Nya.
Maka dr itu, sambutlah
rasa itu, dgn kesadran jiwa-mu, dgn kepasrahan keadaan-mu,..Bahwa kau
abdi bagi-Nya, Abdi yg tak punya apa'', tak mampu Apa",.tidak berilmu
dan berharta, tidak bs berkendak dn melakukan apa" tnpa
ijin-Nya,...semua semata-mata krn-Nya. Sadarilah itu, agar kasih
sayang-Nya,...selalu membalut dn merengkuh jiwa-mu yg lingkih nan lusuh.
Kesadaran itu, adalah pintu awal untuk mengenal-Nya, tiada pintu yg lain selain itu. Salam
Makhluk Sosial
Manusia itu makhluk bidimensional, terdiri dari DIRI/jasmani dan PRIBADI/ rohani
Diri akan musnah dg 'berlalunya' hari2
Sedang Pribadi tidak, malah ia semakin tumbuh dan dewasa dg 'datangnya' hari2. Puncaknya ketika ia di syurga
Pribadi yg mulia adalah 'anak'/ buah hati, hasil perkawinan suci antara akal yg sehat dan agama yg fitri.
Maka manusia yg berakal betapapun ia cerdas bhkan jenius , tanpa agama yg lurus maka tak kan bisa memiliki PRIBADI YG LUHUR/ perfec man.
Sedangkan jika ada orang yg mengaku bergama; bhkn mengklaim sbg orang
yg paling murni dan konsekwen dlm beragama,tapi tdk melahirkan pribadi
yg mulia,malah sebaliknya jadi pribadi yg kasar ,suka mencaci,merasa
benar sendiri,egois, bengis ,rakus dan pendendam serta hipokrit, maka ia
termasuk orang yg GAGAL / BERDUSTA DALAM BERAGAMA.
Sunyi
"Tenangnya hati, dn diamnya segala hasrat dn pikiran, maka akan muncul tulisan", ilham" dlm hati, tentang kebenaran sejati."
Begitulah, bahwa hati itu laksana samudra,..!? Yg tak terbatas dn tak
bertepi,.!? Semakin kita mengarungi semakin tak sampai, semakin
menyelami maka semakin karam diri. Itulah bg hati" yg sdh bersambung dgn
Allah, yakni hati yg sll membesarkan Allah, hati yg sll mendhahirkan
Asma Allah dlm wujud kasih sayang dn ridha, kasih sayank kepada setiap
makluk, baik itu yg yg berbuat baik terlebih lagi yg berbuat buruk pd
kita. Ridha, atas segala ketetapan-Nya, suka dn duka, sempit dn lapang,
diterima dgn kadar yg sama, disertai rasa syukur di dalamnya. Itulah
hati yg tersambung dgn-Nya, dn itulah surga.
Maka jgn putuskan
sambungan hati kita pd Allah, dgn sll mengeluh dlm segala keadaan dn
ketetapan-Nya, dn mengotori hati dgn sifat" iri hari dengki dn benci pd
sesuatu, krn itu akan memutuskan sambungan hati kepada Allah, bila hati
sdh putus, maka cahaya hidayah-Nya akan mati dlm hati, hati jd gelap
gulita tanpa cahaya.!? Bila sdh demikian maka itulah Neraka.!?.
Berpikir
Untuk mengkaji makna berpikir
dan berasionisasi dalam al-Quran,
pertama-tama, kita harus melihat
secara global makna “akal” yang
disebutkan dalam beberapa
literatur Islam dan dengan
pendekatan ini kemudian kita
dapat meninjau secara lebih akurat
pada ayat-ayat al-Quran terkait
dengan berpikir dan
menggunakan akal dalam al-Quran.
Akal dan pikiran merupakan
karunia paling mulia yang
diberikan Allah Swt kepada
manusia. Orang-orang yang tidak
berpikir dan menolak untuk
menghamba kepada Tuhan,
dipandang sebagai mahkluk yang
lebih buruk daripada binatang.[1]
Akal dalam pandangan al-Quran
dan riwayat, bukanlah semata-
mata akal kalkulatif dan logika
Aristotelian. Keduanya meski dapat
menjadi media bagi akal namun
tidak mencakup semuanya.
Karena itu, berulang kali al-Quran
menyebutkan bahwa kebanyakan
orang tidak berpikir, atau tidak
menggunakan akalnya; sementara
kita tahu bahwa kebanyakan
manusia melakukan pekerjaannya
dengan berhitung dan kalkulatif
pada seluruh urusannya.
Memandang sama akal dan
berpikir kalkulatif merupakan
sebuah kesalahan epistemologis.
Bahkan melakukan komparasi dan
memiliki kemampuan berhitung
semata-mata merupakan salah satu
media permukaan akal yang lebih
banyak berurusan pada masalah
angka-angka dan kuantitas.
Namun untuk mencerap realitas-
realitas segala sesuatu, baik dan
buruk, petunjuk dan kesesatan,
kesempurnaan dan kebahagiaan,
dan lain sebagainya diperlukan
cahaya yang disebut sebagai
sebuah anasir Ilahi yang
terpendam dalam diri manusia.
Anasir ini adalah akal dan fitrah
manusia dalam artian sebenarnya.
Sebagaimana sesuai dengan sabda
Imam Ali As bahwa nabi-nabi
diutus adalah untuk menyemai
khazanah akal manusia.[2]
Dalam Islam, akal dan agama[3]
adalah satu hakikat tunggal dan
sesuai dengan sebagian riwayat,
dimanapun akal berada maka
agama akan selalu mendampingi,
[4] tidak ada jarak yang terbentang
antara iman dan kekurufan kecuali
dengan kurangnya akal.[5]
Menggunakan pikiran dan akal
dapat digunakan di jalan benar
dan tepat apabila digunakan
dalam rangka ibadah dan
penghambaan. Imam Shadiq As
ditanya tentang apakah akal itu?”
Imam Shadiq As menjawab,
“Sesuatu yang dengannya Tuhan
disembah dan surga diraih.”[6]
Berdasarkan hal ini, harap
diperhatikan, berpikir dalam al-
Quran tidak serta merta bermakna
menggunakan akal yang dikenal
secara terminologis. Tatkala al-
Quran menyeru untuk berpikir dan
merenung dalam rangka
penghambaan yang lebih serta
terbebas dari belenggu kegelapan
dan kesilaman jiwa, boleh jadi
merupakan salah satu tanda
berpikir dan berasionisasi.
Dalam pandangan ini, kedudukan
akal dan pikiran sedemikian tinggi
dan menjulang sehingga Allah Swt
dalam al-Quran, tidak sekali pun
menyuruh hamba-Nya untuk tidak
berpikir atau menempuh jalan
secara membabi buta.[7]
Menurut Allamah Thabathabai, Allah
Swt dalam al-Quran menyeru
manusia sebanyak lebih dari tiga
ratus kali untuk menggunakan dan
memberdayakan anugerah
pemberian Tuhan ini,[8] dimana
ayat-ayat ini dapat diklasifikasikan
secara ringkas sebagaimana
berikut:
Mencela secara langsung manusia
yang tidak mau berpikir:
Pada kebanyakan ayat al-Quran,
Allah Swt menghukum manusia
disebabkan karena mereka tidak
berpikir. Dengan beberapa
ungkapan seperti, “afalâ ta’qilun”,
“afalâ tatafakkarun”, “afalâ
yatadabbaruna al-Qur’ân”,[9] Allah
Swt mengajak mereka untuk
berpikir dan menggunakan
akalnya.
Ajakan untuk berpikir dalam
pembahasan-pembahasan tauhid:
Allah Swt menggunakan ragam
cara untuk mengajak manusia
berpikir tentang keesaan Allah Swt;
seperti pada ayat, “Sekiranya ada di
langit dan di bumi tuhan-tuhan
selain Allah, tentulah keduanya itu
telah rusak binasa. Maka Maha Suci
Allah yang mempunyai ‘Arasy dari
apa yang mereka sifatkan.” (Qs. Al-
Anbiya [21]:22)[10] dan
“Katakanlah, “Mengapa kamu
menyembah selain dari Allah,
sesuatu yang tidak dapat memberi
mudarat kepadamu dan tidak
(pula) mendatangkan manfaat
bagimu? Dan Allah-lah Yang Maha
Mendengar lagi Maha
Mengetahui.” (Qs. Al-Maidah [5]:76)
serta ayat-ayat yang menyinggung
tentang kisah Nabi Ibrahim As
dalam menyembah secara lahir
matahari, bulan dan bintang-
bintang, semua ini dibeberkan
sehingga manusia-manusia jahil
dapat tergugah pikirannya terkait
dengan ketidakmampuan tuhan-
tuhan palsu.[11] Dengan demikian,
Allah Swt mengajak manusia untuk
merenungkan dan memikirkan
ucapan dan ajakan para nabi,
“Apakah mereka tidak memikirkan
bahwa teman mereka
(Muhammad) tidak berpenyakit
gila? Ia (Muhammad itu) tidak lain
hanyalah seorang pemberi
peringatan yang nyata (yang
bertugas mengingatkan umat
manusia terhadap tugas-tugas
mereka). “(Qs. Al-A’raf [7]:184);
“Katakanlah, “Sesungguhnya aku
hendak memperingatkan
kepadamu suatu hal saja, yaitu
supaya kamu menghadap Allah
(dengan ikhlas) berdua-dua atau
sendiri-sendiri; kemudian kamu
pikirkan (tentang Muhammad)
tidak ada penyakit gila sedikit pun
pada kawanmu itu. Dia tidak lain
hanyalah pemberi peringatan
bagimu sebelum (menghadapi)
azab yang keras.” (Qs. Al-Saba
[34]:46)
FILOSOFI HATI
seorang guru sufi menyuruh muridnya
mengambil segelas air dan membubuhi
segenggam garam; kemudian menyuruh si
murid meminum air dari gelas itu.
"Bagaimana rasanya?"
"Asin sangat, Guru...."
Lalu, sang guru mengajak si murid ke
pinggir danau, kembali menyuruh si murid
melakukan hal yang sama; menaburkan
segenggam garam, menceduk air danau
dengan telapak tangan dan meminumnya.
"Bagaimana rasanya?"
"Segar, Guru...."
"Begitulah hatimu, Nak! Jika ruang hatimu
sempit menerima realita miris kehidupan,
kau akan tersiksa. Sebaliknya, jika engkau
melapangkan hatimu, niscaya takkan ada
persoalan yang terlalu berat untuk diatasi."
jika engkau memandang kehidupan ini
dengan persepsi negatif, hal apa pun akan
membuatmu susah;
jika engkau menerima realita apa pun
dalam hidupmu dengan persepsi positif,
bahkan penderitaan pun akan kau rasa
indah
terkadang kita teramat kesal menghadapi
sifat egois seseorang ...
pernahkah engkau memancing ikan di
sungai atau di laut?
ketika umpan pada mata kailmu ditelan
ikan besar, jangan buru-buru engkau tarik
jika tali pancingmu halus; bisa-bisa putus,
ikan tak jadi kau dapat
tetapi, longgarkan dulu tali pancingmu dan
biarkan si ikan kelelahan sendiri;.pada
saatnya engkau bisa menarik ikan
pancinganmu dengan mudah.
artinya...
dalam menghadapi orang yang egois,
entah suami, isteri, anak-anak, kerabat
atau sejawat; bersabarlah, ikuti apa
maunya dalam batas yang wajar... pada
saatnya engkau akan bisa melunakkan
sifat egois orang itu
atau, pernahkah engkau bermain layang-
layang?
manakala angin di angkasa bertiup
kencang, lepaslah layang-layangmu
dengan melonggarkan benang; jika habis
sepuntaran, tambah dan sambung dengan
puntaran berikutnya, tambah lagi dan
lagi ....
pada saatnya angin berhembus stabil, kau
pun dapat mengendalikan layang-layang
itu sesuai keinginanmu
begitulah; kesabaran tak boleh ada
batasnya,
PUASA
Puasa
berasal dari dua kata dalam bahasa Sansekerta, yaitu: upa dan wasa.
Upa, semacam perfiks yang berarti dekat. Wasa berarti Yang Maha Kuasa,
seperti umat Hindu di Indonesia menyebut Sang Hyang Widhi Wasa. Jadi
upawasa, atau yang kemudian pengucapannya
menjadi puasa, tidak lain daripada cara mendekatkan diri dengan Tuhan.
Sebagai cara untuk mendekatkan diri dengan Tuhan, puasa adalah pelatihan
mental dan spiritual yang bertujuan mengubah sikap dan kejiwaan
manusia. Sikap yang diubah adalah sikap yang buruk, sehingga menjadi
baik. Jadi puasa berkaitan dengan sebuah pelatihan sikap spiritual
melalui pelatihan badani. Orang yang berpuasa adalah orang yang terus
melatih diri menjadi baru di dalam sikap.
Oleh karena itu,
hanya berpuasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga
mengontrol emosi, kata-kata, tindakan, pikiran, dan perilaku. Orang yang
berpuasa adalah orang yang sadar diri dan selalu berada di dalam
pengendalian diri. Sikapnya terlatih untuk terkendali dari bersikap
sembrono, atau mengambil keputusan secara asal-asalan, atau bertindak
ngawur. Orang yang dapat mengendalikan diri dari hawa nafsu makan dan
minum adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya.
Bahasa
Yunani untuk puasa adalah nestuo, berasal dari dua kata ne dan esteia,
artinya tidak makan. Sekalipun tampaknya hanya soal tidak makan, namun
Yesus menekankan yang lebih daripada itu. “Apabila kamu berpuasa,
janganlah muram mukamu seperti orang menafik” (Mat 6:16). Artinya, puasa
hati atau puasa batin, yakni pembaruan seluruh diri itulah yang
ditekankan oleh Yesus. “Bapamu melihat yang tersembunyi” (Mat 6:18).
Dengan demikian, puasa – terutama dalam agama Hindu – dipahami sebagai
sarana, cara, atau metode untuk mencapai sesuatu. Dalam mencapai sesuatu
itu adalah dengan mengendalikan sikap sehingga menjadi baru. Orang yang
terkendali sikapnya adalah laksana orang yang berada di dekat Tuhan.
Siapa pun tidak akan urakan atau liar jika berada di dekat Sang Maha
Agung. Oleh karena itu, sifat puasa adalah sakral, karena dihubungkan
dengan niat mendekatkan diri kepada Tuhan. Orang yang berpuasa adalah
orang yang secara tulus menyelaraskan diri dengan sifat Tuhan.
Berdasarkan pengertiannya, puasa tidak bertujuan pada dirinya atau untuk
berdiet, melainkan bertujuan untuk membarui sikap iman melalui
pelatihan spiritualitas. Orang Kristen yang berpuasa adalah orang yang
bersikap takut hanya kepada Tuhan di dalam berperilaku dan bersikap
dalam dunia sesehari. Takut dan hormat adalah sikap orang yang berada di
dekat Tuhan.
Selamat Berpuasa untuk sahabat mulim
Kata puasa sudah sangat
lazim kita kenal sebagai kegiatan atau ibadah tidak makan dan tidak
minum. Namun apakah kita tahun arti kata puasa itu sendiri?
Puasa berasal dari dua kata dalam bahasa Sansekerta, yaitu: upa dan
wasa. Upa, semacam perfiks yang berarti dekat. Wasa berarti Yang Maha
Kuasa, seperti umat Hindu di Indonesia menyebut Sang Hyang Widhi Wasa.
Jadi upawasa, atau yang kemudian pengucapannya
menjadi puasa, tidak lain daripada cara mendekatkan diri dengan Tuhan.
Sebagai cara untuk mendekatkan diri dengan Tuhan, puasa adalah pelatihan
mental dan spiritual yang bertujuan mengubah sikap dan kejiwaan
manusia. Sikap yang diubah adalah sikap yang buruk, sehingga menjadi
baik. Jadi puasa berkaitan dengan sebuah pelatihan sikap spiritual
melalui pelatihan badani. Orang yang berpuasa adalah orang yang terus
melatih diri menjadi baru di dalam sikap.
Oleh karena itu,
hanya berpuasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga
mengontrol emosi, kata-kata, tindakan, pikiran, dan perilaku. Orang yang
berpuasa adalah orang yang sadar diri dan selalu berada di dalam
pengendalian diri. Sikapnya terlatih untuk terkendali dari bersikap
sembrono, atau mengambil keputusan secara asal-asalan, atau bertindak
ngawur. Orang yang dapat mengendalikan diri dari hawa nafsu makan dan
minum adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya.
Bahasa
Yunani untuk puasa adalah nestuo, berasal dari dua kata ne dan esteia,
artinya tidak makan. Sekalipun tampaknya hanya soal tidak makan, namun
Yesus menekankan yang lebih daripada itu. “Apabila kamu berpuasa,
janganlah muram mukamu seperti orang menafik” (Mat 6:16). Artinya, puasa
hati atau puasa batin, yakni pembaruan seluruh diri itulah yang
ditekankan oleh Yesus. “Bapamu melihat yang tersembunyi” (Mat 6:18).
Dengan demikian, puasa – terutama dalam agama Hindu – dipahami sebagai
sarana, cara, atau metode untuk mencapai sesuatu. Dalam mencapai sesuatu
itu adalah dengan mengendalikan sikap sehingga menjadi baru. Orang yang
terkendali sikapnya adalah laksana orang yang berada di dekat Tuhan.
Siapa pun tidak akan urakan atau liar jika berada di dekat Sang Maha
Agung. Oleh karena itu, sifat puasa adalah sakral, karena dihubungkan
dengan niat mendekatkan diri kepada Tuhan. Orang yang berpuasa adalah
orang yang secara tulus menyelaraskan diri dengan sifat Tuhan.
Berdasarkan pengertiannya, puasa tidak bertujuan pada dirinya atau untuk
berdiet, melainkan bertujuan untuk membarui sikap iman melalui
pelatihan spiritualitas. Orang Kristen yang berpuasa adalah orang yang
bersikap takut hanya kepada Tuhan di dalam berperilaku dan bersikap
dalam dunia sesehari. Takut dan hormat adalah sikap orang yang berada di
dekat Tuhan.