#melayang {position:fixed;_position:absolute;bottom:30px; left:0px;clip:inherit;_top:expression(document.documentElement.scrollTop+document.documentElement.clientHeight-this.clientHeight); _left:expression(document.documentElement.scrollLeft+ document.documentElement.clientWidth - offsetWidth); }

FILOSOFI HATI

seorang guru sufi menyuruh muridnya mengambil segelas air dan membubuhi segenggam garam; kemudian menyuruh si murid meminum air dari gelas itu. "Bagaimana rasanya?" "Asin sangat, Guru...."
Lalu, sang guru mengajak si murid ke pinggir danau, kembali menyuruh si murid melakukan hal yang sama; menaburkan segenggam garam, menceduk air danau dengan telapak tangan dan meminumnya.
"Bagaimana rasanya?" "Segar, Guru...." "Begitulah hatimu, Nak! Jika ruang hatimu sempit menerima realita miris kehidupan, kau akan tersiksa. Sebaliknya, jika engkau melapangkan hatimu, niscaya takkan ada persoalan yang terlalu berat untuk diatasi." jika engkau memandang kehidupan ini
dengan persepsi negatif, hal apa pun akan membuatmu susah; jika engkau menerima realita apa pun
dalam hidupmu dengan persepsi positif, bahkan penderitaan pun akan kau rasa
indah terkadang kita teramat kesal menghadapi sifat egois seseorang ...
pernahkah engkau memancing ikan di sungai atau di laut?
ketika umpan pada mata kailmu ditelan ikan besar, jangan buru-buru engkau tarik jika tali pancingmu halus; bisa-bisa putus, ikan tak jadi kau dapat tetapi, longgarkan dulu tali pancingmu dan biarkan si ikan kelelahan sendiri;.pada saatnya engkau bisa menarik ikan pancinganmu dengan mudah.
artinya... dalam menghadapi orang yang egois, entah suami, isteri, anak-anak, kerabat atau sejawat; bersabarlah, ikuti apa maunya dalam batas yang wajar... pada saatnya engkau akan bisa melunakkan
sifat egois orang itu atau, pernahkah engkau bermain layang- layang?


manakala angin di angkasa bertiup kencang, lepaslah layang-layangmu dengan melonggarkan benang; jika habis sepuntaran, tambah dan sambung dengan puntaran berikutnya, tambah lagi dan
lagi ....
pada saatnya angin berhembus stabil, kau pun dapat mengendalikan layang-layang itu sesuai keinginanmu begitulah; kesabaran tak boleh ada batasnya .


salam kasih  untuk seluruh makhluk di buka bumi .




Atas nama cinta

Atas nama cinta, yang kurajut dari sisi kegelapan, dalam jerit kefakiran, dalam dangkalnya penghambaan.
ªkυ͡ ikhlaskan wahai malam, sehelai sukma mengukir tasbih, merenda tahmit, merangkai tahlil, mengalir dalam zikir ke-Akbaran-Mu.
ªkυ͡ tikamkan wahai bumi, sepucuk belati terhunus sendiri, merenda salawat pada lembar dan rimbun ayat-Mu.
Atas nama cinta, biarkan ªkυ͡ , cair dalam lembut-Mu, menyanyikan debur-debur syahdu, menjilat ridho keagungan-Mu.
Atas nama cinta jua, wahai Yang Maha Benar, izinkan ªkυ͡ menyongsong-Mu, meski kerdil kepahamanku, hitam tapak jemariku membalut kalis tubuhku.
Atas nama cinta, kucium ujung jemari kaki-Mu yang bening, tunduk takzim menyetarakan dahi dan kakiku.
Atas nama cinta, kuteguk anggur firdaus-Mu, berpeluk dalam ke-Akbaran-Mu, Subhanallah, Alhamdulilah, Laaila Haillallah, Allahu Akbar.

BHINNEKA TUNGGAL IKA KARUNIA YANG BESAR

Umat manusia tidak akan pernah bisa disatukan dgn agama di muka bumi ini, terlebih di zaman ini yg sudah sangat sangat jauh dari zaman kenabian, karena manusia itu akan selalu berselisih paham sampai kapanpun, dan itu sungguh manusiawi. Penyatuan dgn penyeragaman hanya akan menghadirkan pemaksaan dalam kehidupan manusia sedangkan pemaksaan itu adalah sesuatu yang tidak beradab, tidak sesuai dgn fitrah, tidak sesuai dgn peri kemanusiaan dan peri keadilan. Itulah sebabnya ada dikatakan: tidak ada paksaan dalam agama. Sedangkan semua manusia hakikatnya satu.

Persatuan menyeluruh umat manusia hanya dapat dilakukan dgn toleransi, penerimaan pada perbedaan, tidak mempermasalahkan perbedaan keyakinan dan pemikiran, saling menghormati perbedaan keyakinan dan pemikiran seberapapun besarnya perbedaan itu, saling menghormati KEMERDEKAAN utk berkeyakinan dan berpendapat. Inilah jalan masuknya sistem MUSYAWARAH MUFAKAT dalam kehidupan kita, yang kemudian berlanjut kepada KERAKYATAN atau DEMOKRASI, untuk mendapatkan kehidupan yang BERADAB, tidak saling memerangi antar sesama manusia (civilized).

Lalu untuk menjamin tidak ada pihak yang dirugikan oleh keyakinan dan pemikiran pihak lain manapun maka semua pihak semua golongan masyarakat bersepakat utk menghormati dan berdamai serta bersatu sbg satu kesatuan di dalam prinsip bersama: KEMANUSIAAN YANG ADIL & BERADAB dan KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA, yang didorongkan oleh budi pekerti luhur dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan demikian damai sejahtera akan meliputi bangsa ini dalam berkat dan rahmat yang besar.

BHINNEKA TUNGGAL IKA sungguh suatu ajaran persatuan yang sangat tinggi nilainya dan cara bersatu yang sangat-sangat BERADAB. Ia bukanlah hanya sekedar semboyan. Ia bahkan adalah CINTA. Cinta kepada sesama manusia. Saling menghormati kemerdekaan. Toleransi. Berdamai. Bersatu. Peri kemanusiaan. Peri keadilan. Dan gotong-royong.

Hanya di dalam BHINNEKA TUNGGAL IKA Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia dapat dilakukan dgn sebaik-baiknya. Bangsa yang mampu melakukan persatuan dalam keberagaman BHINNEKA TUNGGAL IKA sungguh bangsa itu telah mendapatkan karunia yang besar dari Tuhan Yang Maha Esa.

Makna di balik Manusia Haji


Meneropong makna yang tersembunyi dibalik simbolisasi
ritual haji tidak kalah penting dibandingkan dengan mendalami
persoalan haji dari ranah fiqhiyah(yurisprudensi Islam menyangkut tata cara dan aturan haji). Dengan
pemahaman makna atas simbol- simbol inilah calon haji atau penyandang gelar haji diharapkan akan termotivasi untuk menyelaraskan dirinya dengan makna-makna tersebut. Sehingga ia
tidak sekadar maqbul (sah secara ritual dan menggugurkan kewajiban) atau mabur (dalam bahasa Jawa berarti sekadar menikmati terbang dengan pesawat), atau bahkan mardud (ditolak ibadahnya oleh Allah SWT), melainkan secara sempurna meraih predikat mabrur. Mabrur yang berakar dari kata “al- birr” berarti kebaikan. Artinya, seseorang yang menghendaki predikat tersebut mesti mampu
mempertahankan nilai-nilai kebaikan
yang dijalankan, tak hanya di tanah
suci melainkan terus berlanjut
hingga kembali ke Tanah Air, bahkan
sampai ajal menjemput.
Dalam tengarai Van Gannep (1960),
prosesi haji adalah serangkaian ritus
keagamaan (rites de passage) yang
menjadi sarana perubahan efektif
seorang individu muslim dari posisi
tertentu sebelumnya ke posisi yang
lebih tinggi derajatnya; dari
orientasi individual menuju misi
sosial, dari kemewahan menuju
kesederhanaan, dari "kebengkokan"
menuju kehidupan yang lurus, dan
dari apatis menuju simpati bahkan
empati.
Memaknai Simbol
Ibadah haji bukan sekadar ritualitas-
verbal yang hampa makna,
melainkan juga mengandung
simbolisasi filosofis yang maknanya
“mengglobal”, yakni menyentuh
aktivitas kehidupan manusia sehari-
hari. Di antaranya:
Pertama, ihram. Pakaian ihram
menyimbolkan egalitarianisme
bahwa manusia tidak dipandang
dari pangkat, kedudukan dan
superioritas lainnya, melainkan
kadar ketakwaannya. (Q.S. Al-Hujurat
[49]: 13)
Demikian halnya dengan kain putih
yang dikenakan, mengingatkan
bahwa dengan kain itulah kelak
manusia akan dibalut sekujur
tubuhnya ketika mengakhiri
perjalanannya di dunia ini. Pakaian
putih juga bermakna bahwa kita
wajib menjaga kehormatan, kesucian
jiwa, dan keikhlasan semata karena-
Nya.
Kedua, thawaf. Thawaf merupakan
simbolisasi dinamisme dan
optimisme dalam kehidupan
manusia. Sebab, thawaf itu bergerak
dan tidak diam seraya terus berdoa
kepada Allah. Seakan-akan Allah
SWT memerintahkan kepada kita,
“Bergeraklah dalam kehidupan ini
untuk mencari kehidupan yang lebih
bermakna dan bermanfaat ke arah
yang lebih baik.”
Semangat thawaf sangat relevan
untuk membenahi bangsa yang
tengah karut-marut ini. Optimisme
dan dinamisme hidup mutlak
diperlukan untuk melepaskan
bangsa dari krisis yang
berkepanjangan dan
multidimensional. Jangan hanya
pandai mengeluh dan memprotes
tanpa dibarengi semangat berusaha.
Semua unsur masyarakat di negeri
ini hendaknya melakukan “gerakan
tawaf” untuk menjadikan bangsa ini
lebih makmur, bermartabar dan
berkeadilan. Atau dalam bahasa
Alquran disebut baldatun
thayyibatun wa rabbun ghafur (Q.S.
Saba’ [34]: 15)
Ketiga, wukuf. Wukuf di Padang
Arafah merupakan salah satu rukun
terpenting dari rangkaian ibadah
haji. Bahkan Nabi SAW menegaskan,
"Al-hajju Arafah (pokok dari haji
adalah wukuf di Arafah)". Sayyid
Sabiq dalam al-Fiqh al-Sunnah
menyebutkan, wukuf merupakan
ibadah yang unik, tidak disyaratkan
suci sebagaimana shalat. Dalam
kondisi bagaimana pun, suci
ataupun tidak (junub atau
menstruasi), semua harus hadir.
Pada tanggal 9 Zulhijjah, lebih dari
dua juta umat manusia akan
berkonsentrasi di satu tempat yang
luas, gersang dan panas, yakni
Arafah. Ini merupakan refleksi
pusaran hidup manusia yang
menyimbolkan bahwa manusia kelak
dikumpulkan di Padang Mahsyar
(Q.S. al-An’am [6]:51) untuk
mempertanggungjawabkan seluruh
amalannya di dunia.
Secara harfiyah, wukuf berarti rehat,
istirahat, jeda atau break. Makna
yang dapat dipetik adalah, dalam
rangkaian hidup yang penuh intrik
dan ilusif ini manusia memerlukan
masa rehat. Rehat yang dimaksud
adalah manusia mesti
mengistirahatkan tenaga dan
pikirannya dari aktivitas perburuan
duniawi. Meski hanya sesaat,
hendaklah manusia melakukan
kontemplasi dengan ber-tafakkur
dan muhasabah.
Keempat, melontar Jumrah di Mina.
‘Mina’ dalam bahasa Arab berarti
cita-cita. Artinya, untuk menggapai
cita-cita luhur dan derajat tinggi di
sisi-Nya, terlebih dahulu manusia
harus mampu memerangi iblis dan
pasukan setan dengan jihad akbar
(perjuangan besar), yaitu
mengendalikan hawa nafsu agar
tunduk dan patuh hanya kepada-
Nya.
Simbolisasi jihad akbar ini tercermin
pula dalam ritual kurban, yang
secara harfiah berarti dekat. Kurban
merupakan puncak perayaan ibadah
haji dengan menyembelih hewan
kurban sebagai upaya taqarrub
(mendekatkan diri) kepada Allah
SWT. Ritualitas ini dilakukan setelah
shalat Idul Adha dilaksanakan.
Ritual ini merupakan simbol upaya
menyembelih “nafsu kebinatangan”
yang ada dalam diri kita selaku
manusia. Rasa egoisme,
dehumanisme dan tindakan amoral
merupakan kumpulan sifat-sifat
kebinatangan dalam diri yang wajib
dibuang.
Kelima, sa'i. Ia merupakan simbol
penyempurna sikap optimisme dan
dinamisme dalam hidup. Sa'i
merupakan simbol perjuangan untuk
meraih sesuatu (kala itu zamzam).
Ritual ini diadopsi dari peristiwa Siti
Hajar yang berlari-lari antara Shafa
dan Marwa guna mencari air untuk
putranya Ismail yang sedang
kehausan.
Ini merupakan cerminan bagi kita
agar selalu berusaha dan memiliki
etos kerja yang tinggi. Menyerah
dengan kondisi dan keadaan
bukanlah cerminan ajaran Islam. Jika
semangat sa'i ini kita terapkan
secara konsekuen dalam hal apa
pun, maka grafik dinamisasi umat
Islam lebih tinggi dibandingkan
umat-umat lainnya.
Perjalanan sa’i sebanyak tujuh kali
ini diawali dari Bukit Shafa --yang
arti harfiyahnya adalah kesucian dan
ketegaran—melambangkan perlunya
manusia mencapai kehidupan
melalui usaha yang penuh kesucian
dan ketegaran. Dan berakhir di
Marwah --yang berarti ideal--
melambangkan adanya tujuan ideal
yang mesti dicapai manusia dalam
setiap denyut nadi dan tarikan
nafasnya di dunia ini. Namun, ada
pula yang mengaitkan kata Marwah
dengan “muru’ah” yang berarti
pemeliharaan harga diri.
Kerampungan ritual haji ditandai
dengan mencukur rambut (al-halqu)
atau sekadar memotong beberapa
helai saja (al-taqshir). Ritual ini
disebut tahallul (Q.S. Al-Fath [48]:
27). Serampung ritual inilaah,
manusia dituntut untuk menutup
masa lalu dan membuka catatan
kehidupan baru yang lebih baik dan
diridlai oleh-Nya. Bukannya menjadi
haji "tomat"; berangkat haji berniat
tobat, e... sepulang haji malah
kumat.
Penutup
Memaknai simbol-simbol haji dalam
bahasa universal dan global tidak
hanya penting bagi pelaku ibadah
haji, namun juga amat bermanfaat
bagi yang belum mendapatkan
kesempatan menjalankan ibadah itu.
Dalam memandang haji, hendaknya
kita tidak berhenti pada aspek-aspek
teknis atau ritualitas verbal,
melainkan meluaskan pandangan itu
pada makna-makna terdalam di
baliknya. Sehingga haji tidak
tereduksi maknanya sebatas
selebrasi, melainkan berkontribusi
positif dan berkait erat dengan
dimensi sosial serta nilai-nilai
transformatif baik individual
maupun kolektif.
Wallahu a'lam

Filosofi 5 Jari Manusia Dalam Kehidupan

aik teman, berikut ini saya punya falsafah 5 jari manusia, terutama buat jari tangan. Seperti pada judulnya, falsafah 5 jari dalam kehidupan Manusia.

1. Ada si gendut jempol yang selalu berkata baik dan menyanjung.
2. Ada telunjuk yang suka menunjuk dan memerintah.
3. Ada si jangkung jari tengah yang sombong dan suka menghasut jari telunjuk.
4. Ada jari manis yang selalu menjadi teladan, baik, dan sabar sehingga diberi hadiah cincin.
5. Ada kelingking yang lemah dan penurut serta pemaaf (waktu kecil kalau kita berbaikan dengan musuh kita pasti saling sentuh jari kelingking?).

Dari kelima point di atas (sesuai dengan jumlah jarinya), kita bisa lihat bahwa terdapat perbedaan yang positif dan negatif, tapi meskipun kelima jari tersebut memiliki perbedaan, mereka bisa bersatu dan bekerja sama untuk mengaplikasikan apa yang hendak kita lakukan. Misalnya : menulis, memegang sesuatu, melakukan pekerjaan, dll. Pastinya untuk menolong anggota badan lainnya

Mungkin dari sini kita bisa belajar memahami apa yang sebenarnya falsafah kelima jari kita, yang jelas kita jangan sampai merendahkan yang lain karena suatu hal, tapi kita bisa mengajak mereka untuk bekerja sama sehingga bisa menghasilkan apa yang dituju.

Ada sebuah cerita, dimana dalam cerita ini dikatakan bahwa ada 2 anak yang sedang bersama, kita sebut saja si A dan si B. Kemudian si A marah dan menunjuk si B dengan jari telunjuknya sambil mengatakan "Kamu Monyet", kemudian si A ditegur sama orang tuanya dan berkata yang seperti itu jangan dilakukan. Kemudian orang tuanya itu berkata lagi "Tidakkah kamu ketahui 1 jari telunjuk di hadapkan kepada si B dan 1 jari itu mengatakan si B “monyet”, tapi lihat kemana 4 jari lainnya mengarah?”, anda sendiri tau kan jawabannya 4 jari itu mengarah kemana?! Kesimpulannya 1 jari ke si B dan 4 jari ke si A. Maka saat kita menunjuk kepada orang lain sambil memaki, sebenarnya secara tidak langsung kita sedang memaki diri kita sendiri, bahkan yang menunjuk kepada diri sendiri itu lebih banyak daripada yang ditunjukkan kepada orang lain.

Nah, dari falsafah 5 jari diatas maka alangkah baiknya bila kita memahami bahwa setiap manusia itu diciptakan dengan berbeda - beda. Tapi, sebenarnya kita sebagai ciptaannya jangan sampai membeda - bedakan, justru kita harus bisa mempererat dan mempersatukan perbedaan tersebut menjadikan suatu kesatuan yang tidak bisa terlepaskan. Ibarat sapu lidi, jika jumlah yang banyak maka akan sulit untuk dipatahkan, tapi jika hanya ada satu lidi kita bisa mematahkannya dengan sangat mudah. Kita haruslah memiliki rasa saling menyayangi, saling menolong, saling membantu, dan saling melengkapi / mengisi. Bukan untuk saling menuduh satu sama lain, menunjuk dengan seenaknya, merusak bahkan membunuh orang lain.

Seperti itulah teman, falsafah 5 jari yang saya ketahui. Semoga apa yang sudah saya tulis bisa bermanfaat ya. :)

Misteri Keberadaan Kerajaan Demak dan Pulau Muria

Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama di Jawa dan ada sesudah era Kerajaan Majapahit. Sebagian raja Demak adalah turunan raja-raja Majapahit, termasuk Raden Patah –sang pendiri Kerajaan Demak.

Pada tahun 1515, Kerajaan Demak sudah berwilayah dari Demak sampai Cirebon. Pada tahun 1546, Kerajaan Demak sudah semakin luas wilayahnya termasuk Jambi, Palembang, Bangka, Banten, Sunda Kalapa, dan Panarukan di Jawa Timur. Tahun 1588 Demak lenyap dan penerusnya berganti ke Pajang yang merupakan pendahulu kerajaan/kesultanan di Yogyakarta dan Surakarta sekarang.

Runtuhnya Kerajaan Demak tak berbeda dengan penaklukannya atas Majapahit. Peristiwa gugurnya tokoh-tokoh penting Demak saat menyerang Blambangan yang eks Majapahit, dan rongrongan dari dalam Demak sendiri membuat kerajaan makin lemah dan akhirnya runtuh dengan sendirinya. Sebuah pelajaran dari sejarah –cerai-berai dari dalam akan membahayakan kesatuan dan persatuan.

Lokasi Keraton Demak
Lokasi bekas Keraton Kerajaan Demak belumlah ada kesepakatan di antara para ahli. Sekelompok ahli mengatakan bahwa letak lokasi keraton tersebut paling mungkin ada di kawasan selatan alun-alun kota Demak sekarang dan menghadap ke utara. Di kawasan selatan Demak ini terdapat suatu tempat bernama Sitinggil/Siti Hinggil–sebuah nama yang biasanya berasosiasi dengan keraton.

Namun kelompok ahli yang lain menentang pendapat tersebut, sebab pada abad XV, yaitu saat Kerajaan Demak ada, kawasan Demak masih berupa rawa-rawa liar. Sangat tidak mungkin kalau Raden Patah mendirikan kerajaannya di situ. Yang lebih mungkin, menurut kelompok ini, pusat Kerajaan Demak ada di wilayah sekitar Semarang yaitu Alastuwo, Kecamatan Genuk. Pendapat ini didukung oleh temuan benda-benda arkeologi.

Kedua pendapat di atas menarik diuji secara geologi sebab keduanya mau tak mau melibatkan sebuah proses geologi bernama sedimentasi. Mari kita lihat sedikit proses sedimentasi di wilayah yang terkenal ini. Ya, wilayah ini dalam hal sedimentasi Kuarter, cukup terkenal. Ada pendapat bahwa dahulu kala Gunung Muria di sebelah utara Demak tidak menyatu dengan tanah Jawa, ia merupakan sebuah pulau volkanik yang kemudian akhirnya menyatu dengan daratan Jawa oleh proses sedimentasi antara Demak-Muria.

Moh. Ali dalam bukunya “Peranan Bangsa Indonesia dalam Sejarah Asia Tenggara”, menuliskan bahwa pada suatu peristiwa, Raden Patah diperintahkan oleh gurunya, Sunan Ampel dari Surabaya, agar merantau ke barat dan bermukim di sebuah tempat yang terlindung oleh tanaman gelagah wangi. Tanaman gelagah yang rimbun tentu hanya subur di daerah rawa-rawa. Dalam perantauannya itu, Raden Patah sampailah ke daerah rawa di tepi selatan Pulau Muryo (Muria), yaitu suatu kawasan rawa-rawa besar yang menutup laut atau lebih tepat sebuah selat yang memisahkan Pulau Muryo dengan daratan Jawa Tengah. Di situlah ditemukan gelagah wangi dan rawa; kemudian tempat tersebut dinamai Raden Patah sebagai “Demak”.

Menurut Slamet Muljana dalam bukunya, “Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit”, hutan di Gelagah Wangi itu dibuka dan dijadikan tempat hunian baru bernama “Bintara”. Dari nama wilayah baru itulah Raden Patah terkenal sebagai Pangeran Bintara. Slamet Muljana juga menulis bahwa Raden Patah (nama Tionghoanya Jin Bun – Raden Patah adalah anak raja Majapahit Prabu Brawijaya dan salah seorang istrinya yang disebut Putri Cina) memilih tinggal di daerah kosong dan berawa di sebelah timur Semarang, di kaki Gunung Muria. Daerah itu sangat subur dan strategis untuk menguasai pelayaran di pantai utara. Jin Bun berkedudukan di Demak. Di Demak, Jin Bun menjadi ulama sesuai pesan gurunya, Sunan Ampel. Ia mengumpulkan para pengikutnya baik dari masyarakat Jawa maupun Cina. Saat sebelum memberontak kepada Majapahit, Jin Bun atau Raden Patah adalah bupati yang ditempatkan di Demak atau Bintara.

Di sebelah baratlaut kawasan ini nampak bukit Prawoto, sebuah tonjolan darat semacam semenanjung yang batuannya terdiri atas napal di Pegunungan Kendeng bagian tengah. Dalam sejarah Demak terdapat tokoh bernama Sunan Prawoto (Prawata) yaitu anak Pangeran Trenggono. Nama sebenarnya adalah Mukmin, tetapi kemudian ia dijuluki Sunan Prawoto karena setiap musim penghujan, demi menghindari genangan di sekitar Demak, ia mengungsi ke pesanggrahan yang dibangun di bukit Prawoto. Sisa-sisa pesanggrahan tersebut masih menunjukkan pernah adanya gapura dan sitinggil (siti hinggil) serta kolam pemandian (De Graaf, 1954, “De Regering van Panembahan Senapati Ingalaga”).

De Graaf dan Th. Pigeaud (1974), “De Eerste Moslimse Voorstendommen op Java” punya keterangan yang baik tentang lokasi Demak. Letak Demak cukup menguntungkan bagi kegiatan perdagangan maupun pertanian. Selat yang memisahkan Jawa Tengah dan Pulau Muryo pada masa itu cukup lebar dan dapat dilayari dengan leluasa, sehingga dari Semarang melalui Demak perahu dapat berlayar sampai Rembang. Baru pada abad ke-17 selat tadi tidak dapat dilayari sepanjang tahun.

Pada abad ke-17 khususnya pada musim penghujan perahu-perahu kecil dapat berlayar dari Jepara menuju Pati yang terletak di tepi sungai Juwana. Pada tahun 1657, Tumenggung Pati mengumumkan bahwa ia bermaksud memerintahkan menggali terusan yang menghubungkan Demak dengan Pati sehingga dengan demikian Juwana dapat dijadikan pusat perniagaan.

Pada abad ke-16 Demak diduga menjadi pusat penyimpanan beras hasil pertanian dari daerah-daerah sepanjang Selat Muryo. Adapun Juwana pada sekitar tahun 1500 pernah pula berfungsi seperti Demak. Sehubungan itu, menurut laporan seorang pengelana asing terkenal di Indonesia saat itu –Tom Pires, pada tahun 1513 Juwana dihancurkan oleh seorang panglima perang Majapahit dan Demak menjadi satu-satunya yang berperan untuk fungsi itu. Perhubungan Demak dengan daerah pedalaman Jawa Tengah adalah melalui Kali Serang yang muaranya terletak di antara Demak dan Jepara. Sampai hampir akhir abad ke-18 Kali Serang dapat dilayari dengan kapal-kapal sampai pedalaman. Mata air Kali Serang terletak di Gunung Merbabu dan di Pegunungan Kendeng Tengah. Di sebelah selatan pegunungan tersebut terdapat bentangalam Pengging (di antara Boyolali dan Pajang/Kartasura).

Sedimen di Selat Muryo akhirnya semakin banyak dan kemudian mendangkalkannya sehingga tak dapat lagi dilayari, pelabuhan Demak mati dan peranan pelabuhan diambil alih oleh Jepara yang letaknya di sisi barat Pulau Muryo. Pelabuhannya cukup baik dan aman dari gelombang besar karena terlindung oleh tiga pulau yang terletak di depan pelabuhan. Kapal-kapal dagang yang berlayar dari Maluku ke Malaka atau sebaliknya selalu berlabuh di Jepara.

Selat Muria saat ini. Masih tampak bekasnya pada Google Earth

Jalan raya pantura yang menghubungkan Semarang-Demak-Kudus-Pati-Juwana sekarang sesungguhnya tepat berada di atas Selat Muria yang dulu ramai dilayari kapal-kapal dagang yang melintas di antara Juwana dan Demak pada abad ke-15 dan ke-16. Bila Kali Serang, Kali Tuntang, dan Kali Juwana meluap, ke jalan-jalan inilah genangannya –tak mengherankan sebab dulunya juga memang ke selat inilah air mengalir.

Bila kapan-kapan kita menggunakan mobil melintasi jalan raya pantura antara Demak-Pati-Juwana-Rembang, ingatlah bahwa sekitar 500 tahun yang lalu jalan raya itu adalah sebuah selat yang ramai oleh kapal-kapal niaga Kerajaan Demak dan tetangganya.

Jadi kraton kerajaan Demak memang besar kemungkinannya berada di Demak sekarang, bukan di daerah Semarang.

Hakikatnya wudhu

Assalamualaikum,...
"Berwudhu secara syariat adalah untuk mensucikan diri dr segala hadas jasmani, akan tetapi wudhu secara hakikatnya adalah membersihkan dan mensucikan hati dr segala kotoran dan najis rohani, yg membuat kita jauh dr Allah. Air adalah untuk mensucikan kotoran jasmani dn istighfar untuk mensucikan hati kita.

Hakikatnya wudhu adalah,..

Saat membasuh telapak tangan, hendaknya kita jg beristighfar bila selam ini tangan kita dipergunakan untuk mengambil yg bukan hak kita dn berbuat jahil, saat berkumur" sebaiknya disertai dgn istighfar bila selam ini mulut kita sering kita gunakan untuk berkata" kotor, dan tak bermanfaat, sering mengumpat dn sering membicarakan kejelekan orang lain, saat membasuh muka sebaiknya beristighfar krn sering kali muka kita ini masih sering dihadapkan pd sesuatu selain Allah, seperti berbuat krn ingin di puji orang dan lain"nya, saat membasuh lengan sebaiknya beristighfar bila selama ini lengan kita masih sering kita gunakan untuk menyikut kanan kiri demi kepentingan diri kita, saat membasuh kepala sebaiknya beristighfar krn seringnya kita berbuat sombong, angkuh dan merasa benar sendiri, saat membasuh telinga sebaiknya beristighfar krn selama ini telinga kita masih sering kita gunakan untuk mendengar sesuatu yg tdk di ridhai, saat membasuh kaki sebaiknya beristighfar bila selama ini langkah kaki kita selalu ragu" dan was" dr segala ketentuan Allah, hingga Allah kuatkan keyakinan kita untuk berjalan menuju cinta kasih-Nya,.

******* RENUNGAN UNTUK INDONESIAKU *******

Konsep Al-Qur’an adalah mengutamakan Akhlak yang terpuji untuk kebaikan seluruh Makhluk, menjadi Rahmat bagi sekalian Alam merupakan Pilar-Pilar Kebahagiaan dan kedamaian. Namun….jika Manusia sudah tiada menyadari akan Hakikat dirinya, buta akan Nilai-nilai Dasar Fitrahnya maka tentunya apa yang menjadi tujuan Hidup yaitu Kebahagiaan dan Kedamaian tak akan terwujud.

Apapun yang ada di luar dari diri adalah cermin dari apa yang ada pada diri. Ketika Bangsa dan Negara mengalami Krisis Multi Demensi karena Tonggak Dasar dari pada TAUHID sudah ternodai dengan segala Aneka Ragam yang serba gemerlapan menjadi keutamaan dan kebutuhan pada diri lalu melangkah tanpa Arah yang sudah di tetapkan dalam Norma Kebenaran, mengikuti Nafsu, ke-EGO-an diri semata tentunya bias dari pada itu akan terjadi sikut menyikut satu dengan yang lain, gontok-gontokkan meraja lela, saling menjatuhkan bahkan tidak jarang yang saling bunuh membunuh hanya di karenakan persaingan dalam mendapatkan Kedudukan, Tahta, Kekayaan dan Kecantikkan. Lalu dimanakah…Kemuliaan Manusia yang telah dinyatakan Allah lebih Mulia dari pada Makhluk2 yang lain…????. Ternyata kemuliaan yang di Anugrahkan Allah kepada Manusia itu telah di-GADAI-kan untuk kepuasan Hawa Nafsu/ke-EGO-an semata dalam memenuhi rasa ketidak puasan akan sesuatu yang ada pada dirinya. Semuanya serba kurang….kurang….dan kurang, Jika Seandainya Dunia dan seluruh isinya bisa di genggamnya maka tentunya manusia-manusia yang buta Hatinya akan berlomba-lomba untuk meraihnya.

Marilah…bersama-sama melangkah dalam Kesadaran Diri yang berlandaskan Azaz Lillaahi Ta’ala dan mengerti bahwa Hidup bukan hanya sekedar untuk mengisi perut dan menurutkan Hawa Nafsu tetapi yang terlebih utama adalah Berbagi dalam Cinta Kasih, menebarkan Rahmat kepada sekeliling menjadi pengayom bagi orang2 yang membutuhkan, menjadi Kawan bagi yang kekurangan, menjadi Kebahagiaan untuk orang lain bukan menjadi orang yang mengharapkan kebahagiaan orang lain.

Tentunya….jika hal itu terwujud di muka Bumi ini, di Bumi Pertiwi ini, di Negara yang kita Cintai ini yaitu INDONESIA RAYA dari Sabang sampai Merauke maka tak akan diragukan lagi….Kebahagiaan dan Kedamaian berangsur-angsur akan di dapatkan. Seiring dengan Waktu, jika Manusia yang didalamnya menyadari akan Jati Dirinya dan kemudian menyelam kedalam Dirinya senantiasa Introspeksi diri, merenung dalam Musyahadah, Menyaksikan akan dirinya beserta Alam adalah sebagai Bukti dan Saksi adanya Allah yang Arrohmaan Arrohiim dan selalu mendengarkan Hati Nuraninya yang tiada tercampur oleh Nafsu/EGO, Maka merekalah sebagai Penyelamat Bangsa, merekalah sebagai Tonggak Negara, merekalah sebagai Pejuang-Pejuang Tuhan untuk membela Ibu Pertiwi dan merekalah Khalifah di muka Bumi ini untuk menebarkan Rahmat dan Cinta Kasih. Temukanlah Jati Diri itu mulai saat ini, jangan sia-siakan Waktu karena waktu terus berputar dan berputar tak perduli Status diri kita. Waktu akan segera menelan orang2 yang yang tiada menyadari akan Jati Dirinya.

Karenanya….
“Demi Masa/Waktu di setiap harinya dalam 24 jam Sehari Semalam dari buka mata sampai tutup mata kembali, sesungguhnya Manusia itu dalam Kerugian karena tiada Kesadaran akan Jati Dirinya(Nilai-nilai Dasar Fitrah)”. Dan Mereka yang mengerti serta menyadari akan Jati Dirinya(Nilai-nilai Dasar Fitrah) adalah mereka yang ber Iman dan ber Amal Sholeh(ber-Akhlakul Karimah/Baik Budi Pekertinya). Mereka itu senantiasa saling berbagi dalam nasihat menasihati(Sharing) dalam Kebenaran dan juga saling berbagi dalam nasihat menasihati(Sharing) dalam kesabaran.

Sebuah Sindiran Untuk Direnungkan

“Suatu hari ada email masuk ke mailbox saya, ternyata isinya adalah sindiran mengenai perilaku manusia, saya rasa perlu kita cermati, jangan sampai kita seperti yang tertulis didalamnya, dalam email tersebut tertulis:”



Diawal zaman, Allah menciptakan seekor sapi. Beliau berkata kepada sang sapi "Hari ini kuciptakan kau! Sebagai sapi engkau harus pergi kepadang rumput. Kau harus bekerja dibawah terik matahari sepanjang hari. Kutetapkan umurmu sekitar 50 tahun". Sang Sapi keberatan, "Kehidupanku akan sangat berat selama 50 tahun. Kiranya 20 tahun cukuplah buatku. Kukembalikan kepadamu yang 30 tahun". Maka setujulah Allah.



Dihari kedua, Allah menciptakan monyet. "Hai monyet, hiburlah manusia. Aku berikan kau umur 20 tahun!" Sang monyet menjawab "Apa? Menghibur mereka dan membuat mereka tertawa? 10 tahun cukuplah. Kukembalikan 10 tahun padamu". Maka setujulah Allah.



Dihari ketiga, Allah menciptakan anjing. "Apa yang harus kau lakukan adalah menjaga pintu rumah majikanmu. Setiap orang mendekat kau harus menggongongnya. Untuk itu kuberikan hidupmu selama 20 tahun!" Sang anjing menolak, "Menjaga pintu sepanjang hari selama 20 tahun? Tidak mau! Kukembalikan 10 tahun padamu". Maka setujulah Allah.



Dihari keempat, Allah menciptakan manusia. Sabda Allah, "Tugasmu adalah makan, tidur, dan bersenang-senang. Inilah kehidupan. Kau akan menikmatinya. Akan kuberikan engkau umur sepanjang 20 tahun!" Sang manusia keberatan, katanya "Menikmati kehidupan selama 20 tahun? Itu terlalu pendek Allah. Begini saja, karena sapi mengembalikan 30 tahun usianya, lalu anjing mengembalikan 10 tahun, dan monyet mengembalikan 10 tahun usianya padamu, berikanlah semuanya itu padaku. Semua itu akan menambah masa hidupku menjadi 70 tahun. Setuju?" Maka setujulah Allah.



AKIBATNYA......

Pada 20 tahun pertama kehidupan, kita makan, tidur dan bersenang-senang. 30 tahun berikutnya, kita harus bekerja keras sepanjang hari untuk menopang keluarga kita. 10 tahun kemudian kita menghibur dan membuat cucu kita tertawa dengan berperan sebagai monyet. Dan 10 tahun berikutnya kita tinggal dirumah, duduk didepan pintu, dan menggonggong kepada orang yang lewat.



“Begitulah, tentu kita sebagai manusia yang sebenar-benarnya manusia (dibekali hati nurani dan akal pikiran) tidak mau ibaratkan seperti manusia yang tertulis dalam email itu bukan?”

Samapaikan walapun 1 Ayat

Saudaraku terkasih,...

Apa yg kau Tunggu,..!!?.
Sedang dihatimu ada seberkas rindu, setitik cinta,..yang kau sendiri tidak tahu untuk siapa dan untuk apa...?!. Ada rasa kangen yg muncul tiba" dlm keheningan jiwamu, ada asmara yg membara dlm hatimu, sedang kau tak tahu rasa itu dari mana dan untuk siapa,.?!. Rasa rindu yg menyeruak, rasa cinta yng menghentak,..seakan meluluh lantakan asa yg retak, raga yg terkoyak oleh derunya keadaan yg bertandang, oleh lajunya sang waktu dlm perjalanan,..!!??.

Ketauilah olehmu,....wahai jiwa yg mendamba cinta..!?.
Segala rasa yg kau rasakan, segala cinta, rindu dan kangen yg berkalang,..itu,..itu, adalah Rasa cinta, rindu dan kangen-nya Allah yg terpantul dlm jiwa-mu, hingga kau merasakan rasa cinta, rindu dan kangen,..yg merupakan biasa dr Rasa-Nya.

Maka dr itu, sambutlah rasa itu, dgn kesadran jiwa-mu, dgn kepasrahan keadaan-mu,..Bahwa kau abdi bagi-Nya, Abdi yg tak punya apa'', tak mampu Apa",.tidak berilmu dan berharta, tidak bs berkendak dn melakukan apa" tnpa ijin-Nya,...semua semata-mata krn-Nya. Sadarilah itu, agar kasih sayang-Nya,...selalu membalut dn merengkuh jiwa-mu yg lingkih nan lusuh.

Kesadaran itu, adalah pintu awal untuk mengenal-Nya, tiada pintu yg lain selain itu. Salam

Makhluk Sosial

Manusia itu makhluk bidimensional, terdiri dari DIRI/jasmani dan PRIBADI/ rohani
Diri akan musnah dg 'berlalunya' hari2
Sedang Pribadi tidak, malah ia semakin tumbuh dan dewasa dg 'datangnya' hari2. Puncaknya ketika ia di syurga

Pribadi yg mulia adalah 'anak'/ buah hati, hasil perkawinan suci antara akal yg sehat dan agama yg fitri.

Maka manusia yg berakal betapapun ia cerdas bhkan jenius , tanpa agama yg lurus maka tak kan bisa memiliki PRIBADI YG LUHUR/ perfec man.

Sedangkan jika ada orang yg mengaku bergama; bhkn mengklaim sbg orang yg paling murni dan konsekwen dlm beragama,tapi tdk melahirkan pribadi yg mulia,malah sebaliknya jadi pribadi yg kasar ,suka mencaci,merasa benar sendiri,egois, bengis ,rakus dan pendendam serta hipokrit, maka ia termasuk orang yg GAGAL / BERDUSTA DALAM BERAGAMA.

Sunyi

"Tenangnya hati, dn diamnya segala hasrat dn pikiran, maka akan muncul tulisan", ilham" dlm hati, tentang kebenaran sejati."

Begitulah, bahwa hati itu laksana samudra,..!? Yg tak terbatas dn tak bertepi,.!? Semakin kita mengarungi semakin tak sampai, semakin menyelami maka semakin karam diri. Itulah bg hati" yg sdh bersambung dgn Allah, yakni hati yg sll membesarkan Allah, hati yg sll mendhahirkan Asma Allah dlm wujud kasih sayang dn ridha, kasih sayank kepada setiap makluk, baik itu yg yg berbuat baik terlebih lagi yg berbuat buruk pd kita. Ridha, atas segala ketetapan-Nya, suka dn duka, sempit dn lapang, diterima dgn kadar yg sama, disertai rasa syukur di dalamnya. Itulah hati yg tersambung dgn-Nya, dn itulah surga.

Maka jgn putuskan sambungan hati kita pd Allah, dgn sll mengeluh dlm segala keadaan dn ketetapan-Nya, dn mengotori hati dgn sifat" iri hari dengki dn benci pd sesuatu, krn itu akan memutuskan sambungan hati kepada Allah, bila hati sdh putus, maka cahaya hidayah-Nya akan mati dlm hati, hati jd gelap gulita tanpa cahaya.!? Bila sdh demikian maka itulah Neraka.!?.

Berpikir

Untuk mengkaji makna berpikir
dan berasionisasi dalam al-Quran,
pertama-tama, kita harus melihat
secara global makna “akal” yang
disebutkan dalam beberapa
literatur Islam dan dengan
pendekatan ini kemudian kita
dapat meninjau secara lebih akurat
pada ayat-ayat al-Quran terkait
dengan berpikir dan
menggunakan akal dalam al-Quran.
Akal dan pikiran merupakan
karunia paling mulia yang
diberikan Allah Swt kepada
manusia. Orang-orang yang tidak
berpikir dan menolak untuk
menghamba kepada Tuhan,
dipandang sebagai mahkluk yang
lebih buruk daripada binatang.[1]
Akal dalam pandangan al-Quran
dan riwayat, bukanlah semata-
mata akal kalkulatif dan logika
Aristotelian. Keduanya meski dapat
menjadi media bagi akal namun
tidak mencakup semuanya.
Karena itu, berulang kali al-Quran
menyebutkan bahwa kebanyakan
orang tidak berpikir, atau tidak
menggunakan akalnya; sementara
kita tahu bahwa kebanyakan
manusia melakukan pekerjaannya
dengan berhitung dan kalkulatif
pada seluruh urusannya.
Memandang sama akal dan
berpikir kalkulatif merupakan
sebuah kesalahan epistemologis.
Bahkan melakukan komparasi dan
memiliki kemampuan berhitung
semata-mata merupakan salah satu
media permukaan akal yang lebih
banyak berurusan pada masalah
angka-angka dan kuantitas.
Namun untuk mencerap realitas-
realitas segala sesuatu, baik dan
buruk, petunjuk dan kesesatan,
kesempurnaan dan kebahagiaan,
dan lain sebagainya diperlukan
cahaya yang disebut sebagai
sebuah anasir Ilahi yang
terpendam dalam diri manusia.
Anasir ini adalah akal dan fitrah
manusia dalam artian sebenarnya.
Sebagaimana sesuai dengan sabda
Imam Ali As bahwa nabi-nabi
diutus adalah untuk menyemai
khazanah akal manusia.[2]
Dalam Islam, akal dan agama[3]
adalah satu hakikat tunggal dan
sesuai dengan sebagian riwayat,
dimanapun akal berada maka
agama akan selalu mendampingi,
[4] tidak ada jarak yang terbentang
antara iman dan kekurufan kecuali
dengan kurangnya akal.[5]
Menggunakan pikiran dan akal
dapat digunakan di jalan benar
dan tepat apabila digunakan
dalam rangka ibadah dan
penghambaan. Imam Shadiq As
ditanya tentang apakah akal itu?”
Imam Shadiq As menjawab,
“Sesuatu yang dengannya Tuhan
disembah dan surga diraih.”[6]
Berdasarkan hal ini, harap
diperhatikan, berpikir dalam al-
Quran tidak serta merta bermakna
menggunakan akal yang dikenal
secara terminologis. Tatkala al-
Quran menyeru untuk berpikir dan
merenung dalam rangka
penghambaan yang lebih serta
terbebas dari belenggu kegelapan
dan kesilaman jiwa, boleh jadi
merupakan salah satu tanda
berpikir dan berasionisasi.
Dalam pandangan ini, kedudukan
akal dan pikiran sedemikian tinggi
dan menjulang sehingga Allah Swt
dalam al-Quran, tidak sekali pun
menyuruh hamba-Nya untuk tidak
berpikir atau menempuh jalan
secara membabi buta.[7]
Menurut Allamah Thabathabai, Allah
Swt dalam al-Quran menyeru
manusia sebanyak lebih dari tiga
ratus kali untuk menggunakan dan
memberdayakan anugerah
pemberian Tuhan ini,[8] dimana
ayat-ayat ini dapat diklasifikasikan
secara ringkas sebagaimana
berikut:
Mencela secara langsung manusia
yang tidak mau berpikir:
Pada kebanyakan ayat al-Quran,
Allah Swt menghukum manusia
disebabkan karena mereka tidak
berpikir. Dengan beberapa
ungkapan seperti, “afalâ ta’qilun”,
“afalâ tatafakkarun”, “afalâ
yatadabbaruna al-Qur’ân”,[9] Allah
Swt mengajak mereka untuk
berpikir dan menggunakan
akalnya.
Ajakan untuk berpikir dalam
pembahasan-pembahasan tauhid:
Allah Swt menggunakan ragam
cara untuk mengajak manusia
berpikir tentang keesaan Allah Swt;
seperti pada ayat, “Sekiranya ada di
langit dan di bumi tuhan-tuhan
selain Allah, tentulah keduanya itu
telah rusak binasa. Maka Maha Suci
Allah yang mempunyai ‘Arasy dari
apa yang mereka sifatkan.” (Qs. Al-
Anbiya [21]:22)[10] dan
“Katakanlah, “Mengapa kamu
menyembah selain dari Allah,
sesuatu yang tidak dapat memberi
mudarat kepadamu dan tidak
(pula) mendatangkan manfaat
bagimu? Dan Allah-lah Yang Maha
Mendengar lagi Maha
Mengetahui.” (Qs. Al-Maidah [5]:76)
serta ayat-ayat yang menyinggung
tentang kisah Nabi Ibrahim As
dalam menyembah secara lahir
matahari, bulan dan bintang-
bintang, semua ini dibeberkan
sehingga manusia-manusia jahil
dapat tergugah pikirannya terkait
dengan ketidakmampuan tuhan-
tuhan palsu.[11] Dengan demikian,
Allah Swt mengajak manusia untuk
merenungkan dan memikirkan
ucapan dan ajakan para nabi,
“Apakah mereka tidak memikirkan
bahwa teman mereka
(Muhammad) tidak berpenyakit
gila? Ia (Muhammad itu) tidak lain
hanyalah seorang pemberi
peringatan yang nyata (yang
bertugas mengingatkan umat
manusia terhadap tugas-tugas
mereka). “(Qs. Al-A’raf [7]:184);
“Katakanlah, “Sesungguhnya aku
hendak memperingatkan
kepadamu suatu hal saja, yaitu
supaya kamu menghadap Allah
(dengan ikhlas) berdua-dua atau
sendiri-sendiri; kemudian kamu
pikirkan (tentang Muhammad)
tidak ada penyakit gila sedikit pun
pada kawanmu itu. Dia tidak lain
hanyalah pemberi peringatan
bagimu sebelum (menghadapi)
azab yang keras.” (Qs. Al-Saba
[34]:46)

FILOSOFI HATI

seorang guru sufi menyuruh muridnya
mengambil segelas air dan membubuhi
segenggam garam; kemudian menyuruh si
murid meminum air dari gelas itu.
"Bagaimana rasanya?"
"Asin sangat, Guru...."
Lalu, sang guru mengajak si murid ke
pinggir danau, kembali menyuruh si murid
melakukan hal yang sama; menaburkan
segenggam garam, menceduk air danau
dengan telapak tangan dan meminumnya.
"Bagaimana rasanya?"
"Segar, Guru...."
"Begitulah hatimu, Nak! Jika ruang hatimu
sempit menerima realita miris kehidupan,
kau akan tersiksa. Sebaliknya, jika engkau
melapangkan hatimu, niscaya takkan ada
persoalan yang terlalu berat untuk diatasi."
jika engkau memandang kehidupan ini
dengan persepsi negatif, hal apa pun akan
membuatmu susah;
jika engkau menerima realita apa pun
dalam hidupmu dengan persepsi positif,
bahkan penderitaan pun akan kau rasa
indah
terkadang kita teramat kesal menghadapi
sifat egois seseorang ...
pernahkah engkau memancing ikan di
sungai atau di laut?
ketika umpan pada mata kailmu ditelan
ikan besar, jangan buru-buru engkau tarik
jika tali pancingmu halus; bisa-bisa putus,
ikan tak jadi kau dapat
tetapi, longgarkan dulu tali pancingmu dan
biarkan si ikan kelelahan sendiri;.pada
saatnya engkau bisa menarik ikan
pancinganmu dengan mudah.
artinya...
dalam menghadapi orang yang egois,
entah suami, isteri, anak-anak, kerabat
atau sejawat; bersabarlah, ikuti apa
maunya dalam batas yang wajar... pada
saatnya engkau akan bisa melunakkan
sifat egois orang itu
atau, pernahkah engkau bermain layang-
layang?
manakala angin di angkasa bertiup
kencang, lepaslah layang-layangmu
dengan melonggarkan benang; jika habis
sepuntaran, tambah dan sambung dengan
puntaran berikutnya, tambah lagi dan
lagi ....
pada saatnya angin berhembus stabil, kau
pun dapat mengendalikan layang-layang
itu sesuai keinginanmu
begitulah; kesabaran tak boleh ada
batasnya,

PUASA

Puasa berasal dari dua kata dalam bahasa Sansekerta, yaitu: upa dan wasa. Upa, semacam perfiks yang berarti dekat. Wasa berarti Yang Maha Kuasa, seperti umat Hindu di Indonesia menyebut Sang Hyang Widhi Wasa. Jadi upawasa, atau yang kemudian pengucapannya menjadi puasa, tidak lain daripada cara mendekatkan diri dengan Tuhan. Sebagai cara untuk mendekatkan diri dengan Tuhan, puasa adalah pelatihan mental dan spiritual yang bertujuan mengubah sikap dan kejiwaan manusia. Sikap yang diubah adalah sikap yang buruk, sehingga menjadi baik. Jadi puasa berkaitan dengan sebuah pelatihan sikap spiritual melalui pelatihan badani. Orang yang berpuasa adalah orang yang terus melatih diri menjadi baru di dalam sikap.

Oleh karena itu, hanya berpuasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga mengontrol emosi, kata-kata, tindakan, pikiran, dan perilaku. Orang yang berpuasa adalah orang yang sadar diri dan selalu berada di dalam pengendalian diri. Sikapnya terlatih untuk terkendali dari bersikap sembrono, atau mengambil keputusan secara asal-asalan, atau bertindak ngawur. Orang yang dapat mengendalikan diri dari hawa nafsu makan dan minum adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya.

Bahasa Yunani untuk puasa adalah nestuo, berasal dari dua kata ne dan esteia, artinya tidak makan. Sekalipun tampaknya hanya soal tidak makan, namun Yesus menekankan yang lebih daripada itu. “Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang menafik” (Mat 6:16). Artinya, puasa hati atau puasa batin, yakni pembaruan seluruh diri itulah yang ditekankan oleh Yesus. “Bapamu melihat yang tersembunyi” (Mat 6:18).

Dengan demikian, puasa – terutama dalam agama Hindu – dipahami sebagai sarana, cara, atau metode untuk mencapai sesuatu. Dalam mencapai sesuatu itu adalah dengan mengendalikan sikap sehingga menjadi baru. Orang yang terkendali sikapnya adalah laksana orang yang berada di dekat Tuhan. Siapa pun tidak akan urakan atau liar jika berada di dekat Sang Maha Agung. Oleh karena itu, sifat puasa adalah sakral, karena dihubungkan dengan niat mendekatkan diri kepada Tuhan. Orang yang berpuasa adalah orang yang secara tulus menyelaraskan diri dengan sifat Tuhan.

Berdasarkan pengertiannya, puasa tidak bertujuan pada dirinya atau untuk berdiet, melainkan bertujuan untuk membarui sikap iman melalui pelatihan spiritualitas. Orang Kristen yang berpuasa adalah orang yang bersikap takut hanya kepada Tuhan di dalam berperilaku dan bersikap dalam dunia sesehari. Takut dan hormat adalah sikap orang yang berada di dekat Tuhan.

Selamat Berpuasa untuk sahabat mulim

Kata puasa sudah sangat lazim kita kenal sebagai kegiatan atau ibadah tidak makan dan tidak minum. Namun apakah kita tahun arti kata puasa itu sendiri?

Puasa berasal dari dua kata dalam bahasa Sansekerta, yaitu: upa dan wasa. Upa, semacam perfiks yang berarti dekat. Wasa berarti Yang Maha Kuasa, seperti umat Hindu di Indonesia menyebut Sang Hyang Widhi Wasa. Jadi upawasa, atau yang kemudian pengucapannya menjadi puasa, tidak lain daripada cara mendekatkan diri dengan Tuhan. Sebagai cara untuk mendekatkan diri dengan Tuhan, puasa adalah pelatihan mental dan spiritual yang bertujuan mengubah sikap dan kejiwaan manusia. Sikap yang diubah adalah sikap yang buruk, sehingga menjadi baik. Jadi puasa berkaitan dengan sebuah pelatihan sikap spiritual melalui pelatihan badani. Orang yang berpuasa adalah orang yang terus melatih diri menjadi baru di dalam sikap.

Oleh karena itu, hanya berpuasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga mengontrol emosi, kata-kata, tindakan, pikiran, dan perilaku. Orang yang berpuasa adalah orang yang sadar diri dan selalu berada di dalam pengendalian diri. Sikapnya terlatih untuk terkendali dari bersikap sembrono, atau mengambil keputusan secara asal-asalan, atau bertindak ngawur. Orang yang dapat mengendalikan diri dari hawa nafsu makan dan minum adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya.

Bahasa Yunani untuk puasa adalah nestuo, berasal dari dua kata ne dan esteia, artinya tidak makan. Sekalipun tampaknya hanya soal tidak makan, namun Yesus menekankan yang lebih daripada itu. “Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang menafik” (Mat 6:16). Artinya, puasa hati atau puasa batin, yakni pembaruan seluruh diri itulah yang ditekankan oleh Yesus. “Bapamu melihat yang tersembunyi” (Mat 6:18).

Dengan demikian, puasa – terutama dalam agama Hindu – dipahami sebagai sarana, cara, atau metode untuk mencapai sesuatu. Dalam mencapai sesuatu itu adalah dengan mengendalikan sikap sehingga menjadi baru. Orang yang terkendali sikapnya adalah laksana orang yang berada di dekat Tuhan. Siapa pun tidak akan urakan atau liar jika berada di dekat Sang Maha Agung. Oleh karena itu, sifat puasa adalah sakral, karena dihubungkan dengan niat mendekatkan diri kepada Tuhan. Orang yang berpuasa adalah orang yang secara tulus menyelaraskan diri dengan sifat Tuhan.

Berdasarkan pengertiannya, puasa tidak bertujuan pada dirinya atau untuk berdiet, melainkan bertujuan untuk membarui sikap iman melalui pelatihan spiritualitas. Orang Kristen yang berpuasa adalah orang yang bersikap takut hanya kepada Tuhan di dalam berperilaku dan bersikap dalam dunia sesehari. Takut dan hormat adalah sikap orang yang berada di dekat Tuhan.