#melayang {position:fixed;_position:absolute;bottom:30px; left:0px;clip:inherit;_top:expression(document.documentElement.scrollTop+document.documentElement.clientHeight-this.clientHeight); _left:expression(document.documentElement.scrollLeft+ document.documentElement.clientWidth - offsetWidth); }



Segala ibadah itu adalah sebagai tanda kasih sayang Allah, dan hendaknya kau beribadah itu krn rasa syukur kepada Allah, krn limpahan rahmad dan hidayah-Nya yg tak terbatas,... Bukan untuk sesuatu yang lain, untuk ini dan itu, begini dan begitu. Apa lagi untuk membanggakan diri, kepada Allah dan makluk, tanda ahli ibadah itu bukan hitamnya dahi-nya agar terlihat ahli sembayang, tetapi tanda-nya ahli ibadah itu ada dalam ahlaq-mu, bukan juga dalam baju gamis dan serban yg kau gunakan, akan tetapi bagusnya hati dan rasa-mu.
Maka merenunglah agar kau lebih mengenal Tuhan-mu, agar kau lebih dekat dan lebih cinta kpd-Nya. Krn ibadah-mu tdk akan mendekatkan diri-mu kpd Tuhan-mu, sebelum kau mengenal siapa yg kau dekati.




Buku ditulis memiliki tujuan untuk turut serta mencerdaskan bangsa. Bagaimana bila isi buku itu menghasut masyarakat? Nah, hal demikian ini sama saja dengan tulisan-tulisan sosmed yang banyak juga isinya itu menghasut, provokasi, atau sampah. Tetapi, kalaumasyarakat semakin cerdas, yang berupa sampah itu akan terpinggirkan dengan sendirinya. Oleh karena itu, harus diimbangi dengan tulisan-tulisan yang bersifat mendidik dan mencerdaskan bangsa. Agar anak bangsa semakin
sadar bahwa di negeri ini ada leluhur-leluhur yang bisa dijadikan panutan untuk menjadi manusia yang
berbudi pekerti luhur dan memiliki landasan moralitas yang kokoh. Di negeri ini ada leluhur-leluhur yang memiliki komitmen untuk menjalankan agama secara nyata, artinya agama adalah kebajikan yang diamalkan secara nyata, dan bukan sekadar berkhayal di atas-dalil-dalil.
Dalil memang diperlukan, seperti kalau kita belajar matematika, fisika, atau kimia. Tetapi, dalil akan
bermakna dalam kehidupan ini kalau diwujudkan dalam bentuk nyata, seperti: berupa bangunan, kelistrikan, otomotif, alat-alat telekomunikasi, alat-alat transportasi, dan lain-lainnya. Buku-buku yang isinya tentang agama dan spirtitual pun akan bermakna bagi kehidupan bila diwujudkan dalam bentuk nyata, yaitu perilaku yang mulia dan hidup sejahtera dan bahagia.
Dalil-dalil, dalam ilmu pengetahuan alam maupun dalam ilmu agama, harus diwujudkan dalam dunia nyata (bukan dunia tafsiran) untuk membangun kehidupan nyata yang sejahtera, aman, sentosa, dan bahagia. Dalil kita pelajari, kita ketahui, bukan untuk mengisi TTS (teka-teki silang) semata; meski pada saat jenuh, mengisi TTS berguna untuk menetralisir kejenuhan. Semoga kita bisa mewujudkan dalil-dalil agama dalam kehidupan nyata, dan bukan hanya sebagai TTS untuk kepuasan pikiran belaka.

RAMADLAN BARU SAJA BERLALU -atau kita yang
meninggalkannya?- dari hadapan kita, kemudian kita
menyambut Syawwal dengan takbir yang membahana
dan gegap gempita. Bukan hanya tabuhan beduk saja
yang mengiringi takbir ketika malam terakhir
Ramadlan, erangan knalpot motor hingga letusan
kembang api menghiasi langit pada malam 30
Ramadlan lalu. Dengan tajuk menyambut hari
kemenangan, sebagian besar masyarakat kita
merayakannya dengan gembira. Kemenangan atas
siapa?
Jika memang disebut sebagai hari kemenangan, maka
pasti ada pihak yang harus dikalahkan bukan? Lantas
siapa yang kita kalahkan selama 30 hari kita
berpuasa? Sedangkan para ustadz seringkali
mengatakan kepada kita bahwa pada bulan Ramadlan
maka setan akan dipenjara didalam neraka. Lantas
dalam turnamen Ramadlan lalu sebenarnya kita
mengalahkan siapa sehingga ketika Idul Fitri tiba kita
dengan bangga menyebut sebagai hari kemenangan?
Maka, selain menahan lapar dan haus, jawaban kita
akan tertuju pada; Hawa Nafsu.
Mungkin karena sudah terlalu banyak masyarkaat kita
terbiasa dalam kesalahan memposisikan sebuah kata
sehingga akhirnya banyak dari kita menganggap
bahwa Hawa Nafsu merupakan satu kesatuan.
padahal sebenarnya berbeda. Hawa sendiri jika kita
tarik dari asal katanya, dalam kosakata Bahasa Arab
memiliki arti keinginan, kehendak atau hasrat. Hawa
inilah yang sebenarnya kemudian identik dengan
Syahwat. Sedangkan Nafsu, jika kita melihat dari asal
katanya dalam Bahasa Arab memiliki arti jiwa atau
ruh. Yaa ayyatuha-n-nafsu-l-muthmainnah; wahai jiwa
yang tenang. Sehingga sangat aneh jika kemudian kita
menganalogikan bahwa hawa nafsu merupakan satu
kesatuan yang kemudian kita mengenal istilah
Syahwat. Sehingga, jika memang kita menganggap
Ramadlan sebagai sebuah arena pertandingan yang
dipuncaki dengan perayaan hari kemenangan, maka
bisa kita sepakati bahwa yang kita lawan pada saat
Ramadlan adalah Syahwat.
Kita analogikan saja seperti sebuah pertandingan
sepakbola, dimana dalam sebuah turnamen sudah
pasti harus ada satu kesebelasan yang harus menjadi
pemenang sehingga mereka yang kemudian berhak
menyandang status Sang Juara. Dalam sebuah
pertandingan sepakbola, dimana sebuah kesebelasan
diasuh oleh beberapa staff pelatih, mereka kemudian
menentukan 11 pemain terbaik yang akan diturunkan
ketika pertandingan berlangsung. Apakah hanya itu
saja? Tentu tidak. Seorang pelatih akan berfikir keras
untuk menentukan strategi permainan yang akan ia
instruksikan kepada 11 pemain pilihannya itu untuk
kemudian diaplikasikan selama 90 menit ketika
bertanding di lapangan. Bahkan tidak jarang seorang
pelatih menyiapkan lebih dari dua rencana strategi
untuk satu pertandingan.
Jikalau memang Ramadlan merupakan sebuah
turnamen bagi setiap individu melawan Syahwatnya,
apakah kemudian Syahwat yang ia kalahkan itu sudah
tidak akan bergejolak dan bangkit lagi setelah
Ramadlan berlalu?. Apakah ada jaminan bahwa dalam
11 bulan setelah Ramadlan, kita benar-benar sudah
sangat unggul atas Syahwat kita sendiri sehingga kita
dengan pongah merayakan hari kemenangan ketika
Idul Fitri tiba? Strategi seperti apa yang membuat diri
kita sangat yakin bahwa setelah Ramadlan kita benar-
benar mampu mengalahkan Syahwat? Dan pada
hakikatnya, Syahwat itu bukan hanya soal seks saja,seperti yang selama ini difahami oleh masyarakat.
Bahwa semua keinginan-keinginan kita, itu merupakan
Syahwat.