#melayang {position:fixed;_position:absolute;bottom:30px; left:0px;clip:inherit;_top:expression(document.documentElement.scrollTop+document.documentElement.clientHeight-this.clientHeight); _left:expression(document.documentElement.scrollLeft+ document.documentElement.clientWidth - offsetWidth); }

FILOSOFI HATI

seorang guru sufi menyuruh muridnya mengambil segelas air dan membubuhi segenggam garam; kemudian menyuruh si murid meminum air dari gelas itu. "Bagaimana rasanya?" "Asin sangat, Guru...."
Lalu, sang guru mengajak si murid ke pinggir danau, kembali menyuruh si murid melakukan hal yang sama; menaburkan segenggam garam, menceduk air danau dengan telapak tangan dan meminumnya.
"Bagaimana rasanya?" "Segar, Guru...." "Begitulah hatimu, Nak! Jika ruang hatimu sempit menerima realita miris kehidupan, kau akan tersiksa. Sebaliknya, jika engkau melapangkan hatimu, niscaya takkan ada persoalan yang terlalu berat untuk diatasi." jika engkau memandang kehidupan ini
dengan persepsi negatif, hal apa pun akan membuatmu susah; jika engkau menerima realita apa pun
dalam hidupmu dengan persepsi positif, bahkan penderitaan pun akan kau rasa
indah terkadang kita teramat kesal menghadapi sifat egois seseorang ...
pernahkah engkau memancing ikan di sungai atau di laut?
ketika umpan pada mata kailmu ditelan ikan besar, jangan buru-buru engkau tarik jika tali pancingmu halus; bisa-bisa putus, ikan tak jadi kau dapat tetapi, longgarkan dulu tali pancingmu dan biarkan si ikan kelelahan sendiri;.pada saatnya engkau bisa menarik ikan pancinganmu dengan mudah.
artinya... dalam menghadapi orang yang egois, entah suami, isteri, anak-anak, kerabat atau sejawat; bersabarlah, ikuti apa maunya dalam batas yang wajar... pada saatnya engkau akan bisa melunakkan
sifat egois orang itu atau, pernahkah engkau bermain layang- layang?


manakala angin di angkasa bertiup kencang, lepaslah layang-layangmu dengan melonggarkan benang; jika habis sepuntaran, tambah dan sambung dengan puntaran berikutnya, tambah lagi dan
lagi ....
pada saatnya angin berhembus stabil, kau pun dapat mengendalikan layang-layang itu sesuai keinginanmu begitulah; kesabaran tak boleh ada batasnya .


salam kasih  untuk seluruh makhluk di buka bumi .




Atas nama cinta

Atas nama cinta, yang kurajut dari sisi kegelapan, dalam jerit kefakiran, dalam dangkalnya penghambaan.
ªkυ͡ ikhlaskan wahai malam, sehelai sukma mengukir tasbih, merenda tahmit, merangkai tahlil, mengalir dalam zikir ke-Akbaran-Mu.
ªkυ͡ tikamkan wahai bumi, sepucuk belati terhunus sendiri, merenda salawat pada lembar dan rimbun ayat-Mu.
Atas nama cinta, biarkan ªkυ͡ , cair dalam lembut-Mu, menyanyikan debur-debur syahdu, menjilat ridho keagungan-Mu.
Atas nama cinta jua, wahai Yang Maha Benar, izinkan ªkυ͡ menyongsong-Mu, meski kerdil kepahamanku, hitam tapak jemariku membalut kalis tubuhku.
Atas nama cinta, kucium ujung jemari kaki-Mu yang bening, tunduk takzim menyetarakan dahi dan kakiku.
Atas nama cinta, kuteguk anggur firdaus-Mu, berpeluk dalam ke-Akbaran-Mu, Subhanallah, Alhamdulilah, Laaila Haillallah, Allahu Akbar.

BHINNEKA TUNGGAL IKA KARUNIA YANG BESAR

Umat manusia tidak akan pernah bisa disatukan dgn agama di muka bumi ini, terlebih di zaman ini yg sudah sangat sangat jauh dari zaman kenabian, karena manusia itu akan selalu berselisih paham sampai kapanpun, dan itu sungguh manusiawi. Penyatuan dgn penyeragaman hanya akan menghadirkan pemaksaan dalam kehidupan manusia sedangkan pemaksaan itu adalah sesuatu yang tidak beradab, tidak sesuai dgn fitrah, tidak sesuai dgn peri kemanusiaan dan peri keadilan. Itulah sebabnya ada dikatakan: tidak ada paksaan dalam agama. Sedangkan semua manusia hakikatnya satu.

Persatuan menyeluruh umat manusia hanya dapat dilakukan dgn toleransi, penerimaan pada perbedaan, tidak mempermasalahkan perbedaan keyakinan dan pemikiran, saling menghormati perbedaan keyakinan dan pemikiran seberapapun besarnya perbedaan itu, saling menghormati KEMERDEKAAN utk berkeyakinan dan berpendapat. Inilah jalan masuknya sistem MUSYAWARAH MUFAKAT dalam kehidupan kita, yang kemudian berlanjut kepada KERAKYATAN atau DEMOKRASI, untuk mendapatkan kehidupan yang BERADAB, tidak saling memerangi antar sesama manusia (civilized).

Lalu untuk menjamin tidak ada pihak yang dirugikan oleh keyakinan dan pemikiran pihak lain manapun maka semua pihak semua golongan masyarakat bersepakat utk menghormati dan berdamai serta bersatu sbg satu kesatuan di dalam prinsip bersama: KEMANUSIAAN YANG ADIL & BERADAB dan KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA, yang didorongkan oleh budi pekerti luhur dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan demikian damai sejahtera akan meliputi bangsa ini dalam berkat dan rahmat yang besar.

BHINNEKA TUNGGAL IKA sungguh suatu ajaran persatuan yang sangat tinggi nilainya dan cara bersatu yang sangat-sangat BERADAB. Ia bukanlah hanya sekedar semboyan. Ia bahkan adalah CINTA. Cinta kepada sesama manusia. Saling menghormati kemerdekaan. Toleransi. Berdamai. Bersatu. Peri kemanusiaan. Peri keadilan. Dan gotong-royong.

Hanya di dalam BHINNEKA TUNGGAL IKA Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia dapat dilakukan dgn sebaik-baiknya. Bangsa yang mampu melakukan persatuan dalam keberagaman BHINNEKA TUNGGAL IKA sungguh bangsa itu telah mendapatkan karunia yang besar dari Tuhan Yang Maha Esa.

Makna di balik Manusia Haji


Meneropong makna yang tersembunyi dibalik simbolisasi
ritual haji tidak kalah penting dibandingkan dengan mendalami
persoalan haji dari ranah fiqhiyah(yurisprudensi Islam menyangkut tata cara dan aturan haji). Dengan
pemahaman makna atas simbol- simbol inilah calon haji atau penyandang gelar haji diharapkan akan termotivasi untuk menyelaraskan dirinya dengan makna-makna tersebut. Sehingga ia
tidak sekadar maqbul (sah secara ritual dan menggugurkan kewajiban) atau mabur (dalam bahasa Jawa berarti sekadar menikmati terbang dengan pesawat), atau bahkan mardud (ditolak ibadahnya oleh Allah SWT), melainkan secara sempurna meraih predikat mabrur. Mabrur yang berakar dari kata “al- birr” berarti kebaikan. Artinya, seseorang yang menghendaki predikat tersebut mesti mampu
mempertahankan nilai-nilai kebaikan
yang dijalankan, tak hanya di tanah
suci melainkan terus berlanjut
hingga kembali ke Tanah Air, bahkan
sampai ajal menjemput.
Dalam tengarai Van Gannep (1960),
prosesi haji adalah serangkaian ritus
keagamaan (rites de passage) yang
menjadi sarana perubahan efektif
seorang individu muslim dari posisi
tertentu sebelumnya ke posisi yang
lebih tinggi derajatnya; dari
orientasi individual menuju misi
sosial, dari kemewahan menuju
kesederhanaan, dari "kebengkokan"
menuju kehidupan yang lurus, dan
dari apatis menuju simpati bahkan
empati.
Memaknai Simbol
Ibadah haji bukan sekadar ritualitas-
verbal yang hampa makna,
melainkan juga mengandung
simbolisasi filosofis yang maknanya
“mengglobal”, yakni menyentuh
aktivitas kehidupan manusia sehari-
hari. Di antaranya:
Pertama, ihram. Pakaian ihram
menyimbolkan egalitarianisme
bahwa manusia tidak dipandang
dari pangkat, kedudukan dan
superioritas lainnya, melainkan
kadar ketakwaannya. (Q.S. Al-Hujurat
[49]: 13)
Demikian halnya dengan kain putih
yang dikenakan, mengingatkan
bahwa dengan kain itulah kelak
manusia akan dibalut sekujur
tubuhnya ketika mengakhiri
perjalanannya di dunia ini. Pakaian
putih juga bermakna bahwa kita
wajib menjaga kehormatan, kesucian
jiwa, dan keikhlasan semata karena-
Nya.
Kedua, thawaf. Thawaf merupakan
simbolisasi dinamisme dan
optimisme dalam kehidupan
manusia. Sebab, thawaf itu bergerak
dan tidak diam seraya terus berdoa
kepada Allah. Seakan-akan Allah
SWT memerintahkan kepada kita,
“Bergeraklah dalam kehidupan ini
untuk mencari kehidupan yang lebih
bermakna dan bermanfaat ke arah
yang lebih baik.”
Semangat thawaf sangat relevan
untuk membenahi bangsa yang
tengah karut-marut ini. Optimisme
dan dinamisme hidup mutlak
diperlukan untuk melepaskan
bangsa dari krisis yang
berkepanjangan dan
multidimensional. Jangan hanya
pandai mengeluh dan memprotes
tanpa dibarengi semangat berusaha.
Semua unsur masyarakat di negeri
ini hendaknya melakukan “gerakan
tawaf” untuk menjadikan bangsa ini
lebih makmur, bermartabar dan
berkeadilan. Atau dalam bahasa
Alquran disebut baldatun
thayyibatun wa rabbun ghafur (Q.S.
Saba’ [34]: 15)
Ketiga, wukuf. Wukuf di Padang
Arafah merupakan salah satu rukun
terpenting dari rangkaian ibadah
haji. Bahkan Nabi SAW menegaskan,
"Al-hajju Arafah (pokok dari haji
adalah wukuf di Arafah)". Sayyid
Sabiq dalam al-Fiqh al-Sunnah
menyebutkan, wukuf merupakan
ibadah yang unik, tidak disyaratkan
suci sebagaimana shalat. Dalam
kondisi bagaimana pun, suci
ataupun tidak (junub atau
menstruasi), semua harus hadir.
Pada tanggal 9 Zulhijjah, lebih dari
dua juta umat manusia akan
berkonsentrasi di satu tempat yang
luas, gersang dan panas, yakni
Arafah. Ini merupakan refleksi
pusaran hidup manusia yang
menyimbolkan bahwa manusia kelak
dikumpulkan di Padang Mahsyar
(Q.S. al-An’am [6]:51) untuk
mempertanggungjawabkan seluruh
amalannya di dunia.
Secara harfiyah, wukuf berarti rehat,
istirahat, jeda atau break. Makna
yang dapat dipetik adalah, dalam
rangkaian hidup yang penuh intrik
dan ilusif ini manusia memerlukan
masa rehat. Rehat yang dimaksud
adalah manusia mesti
mengistirahatkan tenaga dan
pikirannya dari aktivitas perburuan
duniawi. Meski hanya sesaat,
hendaklah manusia melakukan
kontemplasi dengan ber-tafakkur
dan muhasabah.
Keempat, melontar Jumrah di Mina.
‘Mina’ dalam bahasa Arab berarti
cita-cita. Artinya, untuk menggapai
cita-cita luhur dan derajat tinggi di
sisi-Nya, terlebih dahulu manusia
harus mampu memerangi iblis dan
pasukan setan dengan jihad akbar
(perjuangan besar), yaitu
mengendalikan hawa nafsu agar
tunduk dan patuh hanya kepada-
Nya.
Simbolisasi jihad akbar ini tercermin
pula dalam ritual kurban, yang
secara harfiah berarti dekat. Kurban
merupakan puncak perayaan ibadah
haji dengan menyembelih hewan
kurban sebagai upaya taqarrub
(mendekatkan diri) kepada Allah
SWT. Ritualitas ini dilakukan setelah
shalat Idul Adha dilaksanakan.
Ritual ini merupakan simbol upaya
menyembelih “nafsu kebinatangan”
yang ada dalam diri kita selaku
manusia. Rasa egoisme,
dehumanisme dan tindakan amoral
merupakan kumpulan sifat-sifat
kebinatangan dalam diri yang wajib
dibuang.
Kelima, sa'i. Ia merupakan simbol
penyempurna sikap optimisme dan
dinamisme dalam hidup. Sa'i
merupakan simbol perjuangan untuk
meraih sesuatu (kala itu zamzam).
Ritual ini diadopsi dari peristiwa Siti
Hajar yang berlari-lari antara Shafa
dan Marwa guna mencari air untuk
putranya Ismail yang sedang
kehausan.
Ini merupakan cerminan bagi kita
agar selalu berusaha dan memiliki
etos kerja yang tinggi. Menyerah
dengan kondisi dan keadaan
bukanlah cerminan ajaran Islam. Jika
semangat sa'i ini kita terapkan
secara konsekuen dalam hal apa
pun, maka grafik dinamisasi umat
Islam lebih tinggi dibandingkan
umat-umat lainnya.
Perjalanan sa’i sebanyak tujuh kali
ini diawali dari Bukit Shafa --yang
arti harfiyahnya adalah kesucian dan
ketegaran—melambangkan perlunya
manusia mencapai kehidupan
melalui usaha yang penuh kesucian
dan ketegaran. Dan berakhir di
Marwah --yang berarti ideal--
melambangkan adanya tujuan ideal
yang mesti dicapai manusia dalam
setiap denyut nadi dan tarikan
nafasnya di dunia ini. Namun, ada
pula yang mengaitkan kata Marwah
dengan “muru’ah” yang berarti
pemeliharaan harga diri.
Kerampungan ritual haji ditandai
dengan mencukur rambut (al-halqu)
atau sekadar memotong beberapa
helai saja (al-taqshir). Ritual ini
disebut tahallul (Q.S. Al-Fath [48]:
27). Serampung ritual inilaah,
manusia dituntut untuk menutup
masa lalu dan membuka catatan
kehidupan baru yang lebih baik dan
diridlai oleh-Nya. Bukannya menjadi
haji "tomat"; berangkat haji berniat
tobat, e... sepulang haji malah
kumat.
Penutup
Memaknai simbol-simbol haji dalam
bahasa universal dan global tidak
hanya penting bagi pelaku ibadah
haji, namun juga amat bermanfaat
bagi yang belum mendapatkan
kesempatan menjalankan ibadah itu.
Dalam memandang haji, hendaknya
kita tidak berhenti pada aspek-aspek
teknis atau ritualitas verbal,
melainkan meluaskan pandangan itu
pada makna-makna terdalam di
baliknya. Sehingga haji tidak
tereduksi maknanya sebatas
selebrasi, melainkan berkontribusi
positif dan berkait erat dengan
dimensi sosial serta nilai-nilai
transformatif baik individual
maupun kolektif.
Wallahu a'lam