ASal Usul Agama Kristen bermula dari pengajaran Yesus Kristus sebagai
tokoh utama agama ini. Yesus lahir di kota Betlehem yang terletak di
Palestina sekitar tahun 4-8 SM, pada masa kekuasaan raja Herodes. Yesus
lahir dari rahim seorang wanita perawan, Maria, yang dikandung oleh Roh
Kudus. Sejak usia tiga puluh tahun, selama tiga tahun Yesus berkhotbah
dan berbuat mukjizat pada banyak orang, bersama keduabelas rasulnya.
Yesus yang semakin populer dibenci oleh orang-orang Farisi, yang
kemudian berkomplot untuk menyalibkan Yesus. Yesus wafat di salib pada
usia 33 tahun dan bangkit dari kubur pada hari yang ketiga setelah
kematiannya. Setelah kebangkitannya, Yesus masih tinggal di dunia
sekitar empat puluh hari lamanya, sebelum kemudian naik ke surga.
Setelah naiknya Yesus Kristus ke surga, rasul-rasul mulai menyebarkan
ajaran Yesus ke mana-mana, dan sebagai hasilnya, jemaat pertama Kristen,
sejumlah sekitar tiga ribu orang, dibaptis. Namun, pada masa-masa awal
berdirinya, agama Kristen cenderung dianggap sebagai ancaman hingga
terus-menerus dikejar dan dianiaya oleh pemerintah Romawi saat itu.
Banyak bapa Gereja yang menjadi korban kekejaman kekaisaran Romawi
dengan menjadi martir, yaitu rela disiksa maupun dihukum mati demi
mempertahankan imannya, salah satu contohnya adalah Ignatius dari
Antiokia yang dihukum mati dengan dijadikan makanan singa.
Saat itu, kepercayaan yang berkembang di Romawi adalah paganisme, di
mana terdapat konsep ‘balas jasa langsung’. Namun dengan gencarnya para
rasul menyebarkan ajaran Kristen, perlahan agama ini mulai berkembang
jumlahnya, sehingga pemerintah Romawi semakin terancam oleh keberadaan
agama Kristen. Romawi pun berusaha menekan, dan bahkan melarang agama
Kristen, karena umat Kristen saat itu tidak mau menyembah Kaisar, dan
hal ini menyulitkan kekuasaan Romawi. Selain itu, paganisme dan
ramalan-ramalan yang sejak zaman Republik sudah dipakai sebagai
alat-alat propaganda dan pembenaran segala tingkah laku penguasa atau
alasan kegagalan penguasa, sudah tidak efektif lagi dengan keberadaan
agama Kristen. Maka, di masa-masa ini, banyak umat Kristen yang dibunuh
sebagai usaha pemerintah Romawi untuk menumpas agama Kristen. Penyebar
utama agama Kristen pada masa itu adalah Rasul Paulus, yang paling
gencar menyebarkan ajaran Kristen ke berbagai pelosok dunia.
Pada masa inilah, datang masa-masa kegelapan (192-284), mulai dari
Kaisar Commodus hingga Kaisar Diocletian. Pada masa inilah orang-orang
masa itu kehilangan kepercayaan terhadap konsep balas jasa langsung yang
dianut di Paganisme, sehingga agama Kristen pun semakin diminati.
Hingga akhirnya pada tahun 313, Kaisar Konstantinus melegalkan agama
Kristen dan bahkan minta untuk dipermandikan, dan 80 tahun setelahnya,
Kaisar Theodosius melarang segala bentuk paganisme dan menetapkan agama
Kristen sebagai agama negara.
Sebagai agama resmi negara Kekristenan menyebar dengan sangat cepat.
Namun Gereja juga mulai terpecah-pecah dengan munculnya berbagai aliran
(bidaah). Salah satu upaya untuk menekan bidaah adalah dengan
diadakannya Konsili Nicea yang pertama pada tahun 325 M. Konsili Nicea
mencetuskan pengakuan iman umat Kristen keseluruhan pertama kali,
sebagai tanda persatuan Kristen universal yang dibedakan dari umat-umat
Kristen yang bidaah. Salah satu contohnya adalah bidaah Arianisme, yang
merupakan salah satu krisis bidaah terbesar saat itu yang menjadi alasan
utama diadakannya Konsili Nicea yang pertama.
Ketika Kerajaan Romawi runtuh dan tercerai-berai, Gereja Kristen tetap
bertahan. Pada abad ke-11 terjadilah Perang Salib, di mana kekejaman
prajurit perang salib menjadi sejarah kelam Kristen yang hingga kini
masih banyak disesali. Perang Salib adalah perang agama antara Kristen
dan Islam. Dicetuskan pertama kali oleh Paus Urbanus II, Perang Salib I
bertujuan merebut kembali kota suci Yerusalem dari kekuasaan Islam, yang
merupakan tempat penting umat Kristen sebagai tujuan ziarah saat itu.
Sementara itu, bagian timur dari Kerajaan Romawi, bertahan sebagai
Gereja yang disebut Yunani atau Ortodoks, yang mewartakan kabar gembira
di Rusia dan memisahkan diri dari belahan barat yang berada di bawah
pimpinan Gereja Roma. Pemisahan ini terjadi pada tahun 1054.
Sementara itu, pada tahun 1460 penemuan percetakan oleh Gutenberg
membuat Kitab Suci terjangkau bagi semua orang. Sebelumnya, Kitab Suci
dibatasi oleh Gereja kepada umat dengan tujuan untuk menekan bidaah yang
merupakan salah satu krisis besar dalam tubuh Gereja saat itu. Kitab
Suci hanya dibacakan di Gereja dan menjadi sumber kotbah.
Saat itu, banyak pihak-pihak tidak bertanggungjawab memanfaatkan
kedudukan di dalam Gereja Barat (Katolik) sebagai sumber kekuasaan,
sehingga secara tidak langsung mencoreng nama baik Gereja.
Pejabat-pejabat tinggi di dalam Gereja semakin terpengaruh untuk
mementingkan kepentingan duniawi sehingga semakin menyeleweng dari
ajaran dasar Gereja Katolik. Banyak oknum yang menduduki posisi penting
di dalam Gereja menggunakan kekuasaannya secara semena-mena sehingga
merugikan banyak umat saat itu. Hal ini membuat banyak umat Kristen
kecewa dan memprotes serta menuntut pembaharuan. Banyak umat yang
berpikir bahwa salah satu cara mendatangkan pembaharuan di dalam Gereja
ialah dengan memberikan Kitab Suci kepada semua orang.
Puncak dari penyalahgunaan ajaran Gereja diawali dengan jual beli surat
indulgensia. Praktik ini sendiri sesungguhnya bertentangan dengan ajaran
iman Gereja Katolik. Martin Luther, seorang rahib, memutuskan untuk
melakukan pembaharuan dengan melakukan pemberontakan terhadap Gereja
Katolik dan membangun gereja tandingan baru. Sedangkan Ignatius Loyola,
pendiri ordo Jesuit dalam Gereja Katolik, berusaha melakukan pembaharuan
dari dalam, salah satunya adalah dengan memberikan pendidikan teologi
Kristen yang ketat kepada para klerus, terutama dalam kepatuhan penuh
pada otoritas dan ajaran Gereja, agar praktek korup dalam Gereja
berkurang dan tidak menjadi-jadi. Konsili Trente merupakan konsili yang
diadakan sebagai reaksi dari reformasi Martin Luther, di mana reformasi
Martin Luther dianggap oleh Gereja Katolik sebagai tindakan yang
memperparah kondisi kekristenan. Dalam Konsili Trente-lah ajaran iman
Gereja Katolik dipertegas (termasuk kanonisasi terakhir Alkitab Katolik)
demi menekan dan mengurangi berbagai macam penyalahgunaan yang
sewenang-wenang dalam tubuh Gereja.
Ketika Martin Luther menerjemahkan Kitab Suci menjadi bahasa Jerman,
pengikut-pengikutnya mulai memiliki pandangan yang berbeda-beda akan
Kitab Suci tersebut, lalu terjadilah pertentangan penafsiran antara umat
satu dengan yang lain, salah satu kasusnya adalah pertentangan antara
denominasi protestan reformed-nya Zwingli dan denominasi anabaptis,
reformed-nya Calvinis dengan Arminian, dan masih banyak lagi. Inilah
yang membuat agama Kristen Protestan sekarang banyak terbagi-bagi lagi
menjadi denominasi-denominasi lagi.
Agama Kristen
sejarah budha
1. Kehidupan Masyarakat India Pra-Buddha
Agama Buddha berasal dari India bagian utara diajarkan oleh Buddha
Sakyamuni. Beliau juga dikenal dengan sebutan Buddha Gautama, Bhagava,
Tathagata, Sugata, dan sebagainya. Pada masa kecil, Beliau adalah
seorang pangeran, bernama Siddharta. Pangeran Siddharta dilahirkan pada
tahun 623 sebelum Masehi, jadi sekitar 2600 tahun yang lalu.
Sebelum lahirnya agama Buddha, masyarakat India telah mengenal berbagai
kepercayaan agama. Saat itu terdapat beberapa pandangan hidup di India.
Pada periode awal, masyarakat India bercorakkan tradisi pertapaan dengan
pertapa-pertapa berambut panjang yang telanjang. Periode berikutnya,
masyarakat mengenal upacara-upacara keagamaan dan ritus kurban dari kaum
Brahmana.
Selanjutnya, masyarakat India mengenal agama dari kaum Upanishad.
Menurut kaum ini, manusia memiliki suatu diri atau jiwa yang kekal.
Kebahagiaan kekal hanya dapat diraih jika manusia dapat bersatu dengan
alam semesta. Untuk bersatu dengan alam semesta, mereka mengembangkan
meditasi yoga.
Pandangan ini mendapat reaksi keras dari kaum materialis. Kaum
materialis menganggap bahwa tidak ada jiwa yang kekal. Menurut kaum ini,
jiwa tidak lain tidak bukan adalah badan jasmani itu sendiri. Setelah
kematian, kehidupan manusia berakhir, tidak ada lagi kehidupan
berikutnya. Kebahagiaan kekal itu tidak ada. Kebahagiaan hanya dapat
diraih selagi hidup. Mereka yang mengikuti kaum materialis menjalani
hidup bersenang-senang untuk menikmati kebahagiaan duniawi.
Perkembangan selanjutnya, masyarakat India mengenal tradisi pertapaan
keras dari kaum Jaina. Kaum ini percaya bahwa setiap manusia
sesungguhnya memiliki jiwa yang suci dan bersih dalam dirinya. Jiwa yang
murni ini menjadi kotor karena perasaan-perasaan indera. Menurut kaum
ini, kebahagiaan kekal dapat dicapai bila dapat membunuh
perasaan-perasaan indera melalui cara-cara penyiksaan diri.
2. Masa Kehidupan Sang Buddha
Pangeran Siddharta dilahirkan dalam sebuah keluarga kerajaan. Ayahnya
adalah seorang raja yang memerintah di kota Kapilavasthu. Hidup dalam
keluarga istana, sang pangeran bergelimangan dengan
kesenangan-kesenangan duniawi.
Kehidupan dalam kebahagiaan duniawi sangat didambakan banyak orang.
Kekayaan yang berlimpah, kekuasaan yang tinggi, istri yang cantik, dan
segala kemewahan duniawi lainnya. Kehidupan yang serba berlebihan di
mana segala keinginan dapat terpenuhi ternyata tidak membuat sang
pangeran berbahagia. Setelah sekian lama menikmati kehidupan duniawi
yang menyenangkan dalam istana, suatu perjalanan keluar istana yang
untuk pertama kalinya dilakukan dalam masa hidupnya segera merubah
seluruh jalan hidupnya.
Kejadian di luar istana yang belum pernah ditemuinya selama hidup di
dalam istana: orang tua renta yang berjalan tergopoh-gopoh dengan
bantuan sebuah tongkat, orang sakit parah yang sedang merintih kesakitan
dalam pembaringan, orang mati yang diusung menuju tempat kremasi, dan
seorang pertapa suci yang sedang bermeditasi dengan heningnya; keempat
kejadian yang dijumpainya ini pada kesempatan berbeda, telah membuat
dirinya merenung dan terus merenung akan hidup ini: Mengapa harus ada
usia tua? Mengapa harus ada masa sakit? Mengapa harus ada kematian?
Mengapa harus ada penderitaan? Apa arti hidup ini? Dapatkah manusia
terbebas dari usia tua, sakit dan mati?
Demikianlah batinnya diliputi dengan segala pergolakan yang akhirnya
puncak pergolakan pada usia 29 tahun di mana Beliau memutuskan untuk
menjalani kehidupan suci, seperti halnya kejadian keempat yang telah
dilihatnya: seorang pertapa suci yang sedang tenang bermeditasi. Beliau
memutuskan untuk mengikuti jejaknya dalam menemukan jawaban atas semua
hal yang menyebabkan penderitaan manusia. Beliau bertekad untuk
menemukan obat penderitaan yang dapat membebaskan manusia dari
penderitaan karena usia tua, sakit dan mati. Masa ini disebut sebagai
Masa Pelepasan Agung.
Pangeran Siddharta telah membuktikan bahwa kebahagiaan yang diperoleh
dari kehidupan duniawi bukanlah kebahagiaan yang abadi. Kebahagiaan
duniawi bersifat sementara. Setelah kebahagiaan lenyap, muncullah
penderitaan. Demikianlah dalam hidup ini, suka dan duka datang silih
berganti.
Beliau yakin adanya suatu kebahagiaan yang bersifat abadi. Dalam usaha
pencarian, Beliau mengembara dan berturut-turut berguru kepada beberapa
orang guru meditasi. Pertapa Gautama, demikianlah kemudian Beliau
dikenal, mempelajari berbagai ilmu meditasi. Dengan cepat, Beliau
menyamai kepandaian gurunya. Demikianlah, Beliau berpindah dari satu
guru ke guru lainnya dan dengan segera pula segala ilmu dari gurunya
dapat dikuasainya. Namun, usaha Beliau menemukan obat penderitaan tetap
belum berhasil.
Dalam meditasi, Beliau berhasil menemukan adanya suatu bentuk
kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan duniawi. Kebahagiaan dalam
meditasi ini adalah kebahagiaan spiritual. Kebahagiaan spiritual
berbentuk lebih halus. Tetapi, Beliau menyadari bahwa kebahagiaan ini
belumlah sempurna, masih bersifat sementara.
Akhirnya, Beliau mencoba menemukan sendiri Jalan Pembebasan tersebut,
yang membebaskan manusia dari penderitaan. Beliau mulai mempraktekkan
pertapaan dengan menyiksa diri. Setelah bertahun-tahun bertapa menyiksa
diri membuat tubuh Beliau kurus kering. Hampir saja Beliau mati karena
tubuhnya yang tinggal kulit pembalut tulang. Namun, Jalan Pembebasan
tidak juga diperolehnya. Jawaban atas semua penderitaan tetap tidak
didapatkannya.
Hingga pada suatu saat, Beliau disadari oleh serombongan pemain kecapi
yang sedang lewat sambil berbincang-bincang menasehati yang lain:
"Jika tali senar ini dikencangkan, suaranya akan semakin tinggi. Jika
terus dikencangkan, senarnya akan putus dan lenyaplah suaranya. Jika
tali senar ini dikendorkan, suaranya akan melemah. Jika terus
dikendorkan, lenyaplah suaranya."
Kata-kata ini ternyata telah menyadari Pertapa Gautama bahwa di dalam
tubuh yang lemah karena menyiksa diri, tidak akan ditemukan pikiran yang
jernih. Bagaimana Pengetahuan tentang Pembebasan dapat diperoleh tanpa
pikiran yang jernih?
Pertapa Gautama akhirnya memutuskan untuk bangkit dari meditasinya.
Beliau ingin mengakhiri cara bertapa menyiksa diri dan bergegas untuk
mandi membersihkan tubuhnya. Namun, begitu Beliau bangkit, tubuhnya yang
sedemikian lemahnya tak kuat menopang dirinya, yang membuatnya segera
terjatuh pingsan.
Saat itu, seorang pemuda gembala bernama Nanda sedang lewat dan segera
menolongnya. Ia memberikannya semangkuk air tajin. Ketika Beliau sadar
dari pingsannya, Beliau segera mencicipi air tajin tersebut, dan
akhirnya secara perlahan kesehatannya pulih kembali.
Pertapa Gautama pun akhirnya meninggalkan kehidupan menyiksa diri.
Beliau telah membuktikan bahwa kehidupan menyiksa diri tidak akan
membawa seseorang kepada kebahagiaan abadi, Jalan Pembebasan, Pencerahan
Sempurna.
Beliau kemudian memutuskan untuk bermeditasi di bawah pohon Bodhi sambil
mengumandangkan kebulatan tekadnya dengan berprasetya: "Meskipun
darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulangku jatuh
berserakan, tetapi Aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai Aku
mencapai Pencerahan Sempurna."
Dikisahkan bahwa di dalam meditasinya, pertapa Gautama dihantui
perasaan-perasaan bimbang dan ragu. Pikiran-pikiran seperti keinginan
nafsu, keinginan jahat, ketakutan, keragu-raguan dan kemalasan mencoba
menggagalkan usahanya dalam meraih Pengetahuan mengenai Pembebasan.
Hampir saja Beliau dikalahkan oleh Mara, penggoda yang dahsyat itu.
Namun dengan keteguhan hati Beliau yang membaja, akhirnya membuat-Nya
berhasil menaklukkan Sang Mara.
Pertapa Gotama telah mencapai Pencerahan Sempurna. Beliau telah menjadi
Buddha. Peristiwa penting ini terjadi pada saat malam terang purnama di
bulan Waisak ketika Beliau berusia 35 tahun. Beliau telah menyadari
tentang asal mula penderitaan dan jalan untuk melenyapkannya. Dhamma
inilah yang akan diajarkan-Nya kepada seluruh umat manusia agar kita
semua dapat mengetahui hakekat sesungguhnya dari kehidupan ini dan
berusaha untuk melenyapkan penderitaan sehingga kebahagiaan tertinggi
dapat kita raih.
Selama 45 tahun Sang Buddha mengajarkan dhamma kepada umat manusia.
Melalui pengalamannya sendiri, dengan usaha dan perjuangan Beliau
sendiri, dhamma telah ditemukannya, dan telah diajarkannya pada kita
semua.
3. Perkembangan Agama Buddha
Sang Buddha pertama kali mengajarkan dhamma kepada lima orang pertapa di
taman rusa Isipatana, Sarnath. Beliau membimbing mereka menuju Arahat.
Arahat adalah gelar bagi mereka yang telah melatih diri dan berhasil
mencapai tingkat kesucian tertinggi yang dapat dicapai manusia. Seorang
Arahat telah terbebas dari kekotoran batin duniawi. Mereka telah bersih
dari keserakahan, keinginan yang disebabkan keakuan, kebencian, dan
ketidaktahuan akan Jalan Pembebasan.
Dengan sifat-sifat tanpa cela yang dimilikinya, seorang Arahat adalah
pelestari dhamma terbaik untuk meneruskan dhamma Sang Buddha di kemudian
hari.
Setelah Sang Buddha Parinibbana, para Arahat kemudian berkumpul untuk
menghimpun ajaran-ajaran Beliau yang telah disampaikan kepada banyak
orang yang berbeda, di waktu dan tempat yang berlainan. Akhirnya,
terhimpunlah Kitab Suci Agama Buddha.
Kitab suci berbahasa Pali dinamakan Tipitaka sedangkan kitab suci
berbahasa Sansekerta dinamakan Tripitaka. Tipitaka atau Tripitaka
berarti tiga keranjang. Nama ini digunakan karena kitab-kitab suci yang
tersusun berhasil terkumpul sebanyak tiga keranjang.
Secara kuantitas, kitab suci agama Buddha adalah kitab suci yang paling
tebal di antara semua kitab suci yang ada di dunia. Secara keseluruhan,
ajaran-ajaran Sang Buddha dan para siswa-Nya yang telah Arahat, jika
telah dibukukan diperkirakan memiliki ketebalan berkisar antara puluhan
hingga puluhan ribu kali lipat lebih tebal dari Kitab Injil yang telah
dikenal umum.
Ajaran Sang Buddha yang sedemikian luasnya menyebabkan tumbuhnya banyak
tradisi dan aliran dalam agama Buddha. Mereka mencoba menemukan suatu
cara praktis yang mudah untuk mempraktekkan ajaran Sang Buddha yang
sangat luas itu dengan penekanan pada sutra-sutra tertentu dalam bagian
Kitab Suci Agama Buddha.
Agama Buddha dipraktekkan meluas di India setelah Sang Buddha
Parinibbana. Tradisi Buddhis pun terbentuk di wilayah yang sekarang
bernama Pakistan dan Afghanistan, dan mengakar di Asia Tengah pada awal
Masehi. Invansi Islam di kemudian hari melemahkan agama ini pada
sub-benua India dan Asia Tengah.
Dari India, agama Buddha menyebar ke SriLanka. Dari India dan SriLanka,
agama Buddha menyebar ke Asia Tenggara dan sekarang berakar kuat di
Thailand dan Myanmar. Pemerintahan komunis di beberapa negara Asia telah
menekan perkembangan agama Buddha. Namun, sejak abad modern,
intelektual Barat mulai tertarik dengan agama Buddha. Banyak vihara
Buddhis, pusat-pusat Dharma, dan berbagai tempat pelatihan meditasi
telah dibangun di negara-negara Barat.
Dari Asia Tengah, agama Buddha pertama kali masuk ke China, kemudian
agama Buddha dibawa dari India. Banyak peziarah China membawa kekayaan
naskah agama Buddha dari India ke China. Dalam masyarakat China, agama
Buddha mengalami akulturasi dengan kebudayaan masyarakat setempat.
Dari China, agama Buddha menyebar ke Vietnam dan Korea. Dari Korea,
agama Buddha mencapai Jepang. Dari Jepang, agama Buddha menyebar ke
negara-negara Barat.
Agama Buddha pertama kali diperkenalkan ke Tibet dari Nepal (India
Utara) dan China. Dari Tibet, agama Buddha menyebar ke Mongolia dan
Manchuria. Sejak China Komunis mencaplok Tibet, ribuan rakyat Tibet
terpaksa melarikan diri ke pengasingan di India dan Nepal, dan telah
membangun kembali vihara-vihara di India. Banyak pemimpin spiritual di
Tibet pergi ke negara-negara Barat dan Asia, yang menyebabkan
pusat-pusat Dharma bermunculan.
4. Agama Buddha di Indonesia
Di masa pemerintahan Sriwijaya, Syailendra dan Majapahit, agama Buddha
berkembang dengan pesat di Indonesia. Bahkan, Sriwijaya menjadi pusat
pendidikan Buddhis terkenal pada masa itu.
Akulturasi agama Buddha dengan kebudayaan masyarakat setempat di
Indonesia tercermin lewat bangunan candi-candi bercorak Buddhis yang
dibangun dengan megah pada masa pemerintahan raja-raja wangsa
Syailendra. Pembangunan candi-candi Buddhis seperti Borobudur, Mendut
dan Pawon menunjukkan kebudayaan bangsa kita yang sangat tinggi pada
saat itu.
Pada masa pemerintahan Majapahit, agama Buddha dan Hindu dapat
berkembang bersama-sama. Toleransi beragama pada saat itu sangat tinggi.
Hal ini terbukti seperti yang tertulis dalam Kitab Sutasoma, karya
seorang pujangga besar Buddhis saat itu, Mpu Tantular. Dalam kitab
Sutasoma, terdapat perkataan "Bhinneka Tunggal Ika" yang digunakan saat
ini dalam lambang negara kita.
Sejak runtuhnya kerajaan Majapahit dan masa penyebaran agama Islam di
Indonesia, perkembangan agama Buddha di Indonesia mengalami kemunduran.
Pada masa kolonial Belanda, agama Buddha berada antara ada dan tiada.
Kemudian pada abad ke-20, sejak diundangnya bhikkhu Narada Thera dari
SriLanka ke Indonesia, agama Buddha secara perlahan mulai berkembang
kembali. Bhikkhu Narada Thera banyak memberikan pengetahuan Dharma dan
informasi mengenai agama Buddha ke seluruh pelosok Nusantara.
Sejak itulah agama Buddha berkembang kembali di Indonesia dan dewasa ini
sedang berada dalam tahap pembinaan masyarakat Buddhis Indonesia yang
berlandaskan Pancasila untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur.
5. Agama Buddha di Dunia
Akulturasi agama Buddha dengan kebudayaan setempat di mana agama Buddha
tumbuh tidak mungkin dapat dihindari. Agama Buddha mengambil bentuk luar
dari kebudayaan setempat yang ada dan menyesuaikannya dengan ajaran
agama Buddha.
Agama Buddha berasal dari India. Kebudayaan India sangat mempengaruhi
bentuk luar agama Buddha. Kemudian, agama Buddha berkembang di Tibet dan
China. Agama Buddha pun mengalami akulturasi dengan kebudayaan setempat
di Tibet dan China.
Terkadang perpaduan antara agama Buddha dengan kebudayaan setempat
menyebabkan batas yang kurang jelas antara praktek agama Buddha dengan
praktek bukan agama Buddha. Sebagai contoh, perpaduan antara agama
Buddha dengan kebudayaan China.
Sebelum perkembangan agama Buddha di China, masyarakat China sangat
dipengaruhi ajaran filsafat dari Khonghucu dan kepercayaan Taoisme, yang
keduanya merupakan kebudayaan asli setempat. Khonghucu sangat
menekankan tata cara persembahyangan dan mengutamakan ajaran bakti.
Dalam perkembangannya, agama Buddha menyesuaikan dengan menitikberatkan
Sutra Bakti, sebagai pelengkap nilai-nilai budaya China. Segala tata
cara dan upacara formal juga sangat ditekankan pada vihara-vihara
Buddhis.
Pada abad modern ini, agama Buddha mulai berkembang di negara-negara
Barat. Banyak cendekiawan Barat yang tertarik dan berminat untuk
mempelajari agama Buddha. Mereka, setelah belajar agama Buddha,
menyatakan bahwa di dalam agama Buddha, mereka menemukan sesuatu yang
logis dan ajaran bermanfaat sebagai pedoman bagi kehidupan mereka.
Ternyata agama Buddha memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan
cendekiawan Barat. Umat Buddha juga boleh berbangga hati dengan semakin
diterimanya agama Buddha di negara-negara Barat seperti Amerika Serikat,
Inggris, Jerman, dan sebagainya. Banyak pula ilmuwan Barat menyatakan
bahwa prinsip-prinsip dasar agama Buddha tidak bertentangan bahkan
sejalan dengan prinsip-prinsip ilmiah Sains modern. Dengan demikian,
perkembangan dan kemajuan Buddhadharma di berbagai wilayah di belahan
dunia di masa mendatang dapatlah diharapkan.
sejarah Agama hindu
asal usul agama hindu :
Agama Hindu (Bahasa Sanskerta: Sanātana Dharma सनातन धर्म "Kebenaran
Abadi" [1]), dan Vaidika-Dharma ("Pengetahuan Kebenaran") adalah sebuah
agama yang berasal dari anak benua India. Agama ini merupakan lanjutan
dari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa
Indo-Iran (Arya). Agama ini diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM
sampai 1300 SM dan merupakan agama tertua di dunia yang masih bertahan
hingga kini.[2][3] Agama ini merupakan agama ketiga terbesar di dunia
setelah agama Kristen dan Islam dengan jumlah umat sebanyak hampir 1
miliar jiwa.[4]
Penganut agama Hindu sebagian besar terdapat di anak benua India. Di
sini terdapat sekitar 90% penganut agama ini. Agama ini pernah tersebar
di Asia Tenggara sampai kira-kira abad ke-15, lebih tepatnya pada masa
keruntuhan Majapahit. Mulai saat itu agama ini digantikan oleh agama
Islam dan juga Kristen. Pada masa sekarang, mayoritas pemeluk agama
Hindu di Indonesia adalah masyarakat Bali, selain itu juga yang tersebar
di pulau Jawa,Lombok, Kalimantan (Suku Dayak Kaharingan), Sulawesi
(Toraja dan Bugis - Sidrap).
ETIMOLOGI
Dalam bahasa Persia, kata Hindu berakar dari kata Sindhu (Bahasa
Sanskerta). [5] Dalam Reg Weda, bangsa Arya menyebut wilayah mereka
sebagai Sapta Sindhu (wilayah dengan tujuh sungai di barat daya anak
benua India, yang salah satu sungai tersebut bernama sungai Indus). Hal
ini mendekati dengan kata Hapta-Hendu yang termuat dalam Zend Avesta
(Vendidad: Fargard 1.18) — sastra suci dari kaum Zoroaster di Iran. Pada
awalnya kata Hindu merujuk pada masyarakat yang hidup di wilayah sungai
Sindhu. Hindu sendiri sebenarnya baru terbentuk setelah Masehi ketika
beberapa kitab dari Weda digenapi oleh para brahmana. Pada zaman
munculnya agama Buddha, agama Hindu sama sekali belum muncul semuanya
masih mengenal sebagai ajaran Weda.
KEYAKINAN DALAM AGAMA HINDU
Hindu seringkali dianggap sebagai agama yang beraliran politeisme karena
memuja banyak Dewa, namun tidaklah sepenuhnya demikian. Dalam agama
Hindu, Dewa bukanlah Tuhan tersendiri. Menurut umat Hindu, Tuhan itu
Maha Esa tiada duanya. Dalam salah satu ajaran filsafat Hindu, Adwaita
Wedanta menegaskan bahwa hanya ada satu kekuatan dan menjadi sumber dari
segala yang ada (Brahman), yang memanifestasikan diri-Nya kepada
manusia dalam beragam bentuk.
Dalam Agama Hindu ada lima keyakinan dan kepercayaan yang disebut dengan
Pancasradha. Pancasradha merupakan keyakinan dasar umat Hindu. Kelima
keyakinan tersebut, yakni:
1. Widhi Tattwa - percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan segala aspeknya
2. Atma Tattwa - percaya dengan adanya jiwa dalam setiap makhluk
3. Karmaphala Tattwa - percaya dengan adanya hukum sebab-akibat dalam setiap perbuatan
4. Punarbhava Tattwa - percaya dengan adanya proses kelahiran kembali (reinkarnasi)
5. Moksa Tattwa - percaya bahwa kebahagiaan tertinggi merupakan tujuan akhir manusia
KONSEP KETUHANAN
Agama Hindu merupakan agama tertua di dunia dan rentang sejarahnya yang
panjang menunjukkan bahwa agama Hindu telah melewati segala paham
ketuhanan yang pernah ada di dunia.[9] Menurut penelitian yang dilakukan
oleh para sarjana, dalam tubuh Agama Hindu terdapat beberapa konsep
ketuhanan, antara lain henoteisme, panteisme, monisme, monoteisme,
politeisme, dan bahkan ateisme. Konsep ketuhanan yang paling banyak
dipakai adalah monoteisme (terutama dalam Weda, Agama Hindu Dharma dan
Adwaita Wedanta), sedangkan konsep lainnya (ateisme, panteisme,
henoteisme, monisme, politeisme) kurang diketahui. Sebenarnya konsep
ketuhanan yang jamak tidak diakui oleh umat Hindu pada umumnya karena
berdasarkan pengamatan para sarjana yang meneliti agama Hindu tidak
secara menyeluruh.
Arti Yang terkandung dalam setiap Huruf Hijaiyah
ب ba = Dengan sifat maha pengasih dan maha penyayang, Allah mencitakan alam semesta, dimana hanya Allah SWT yang tidak dihinggapi rasa kantuk dan berdiri sendiri menjadi penopang atasnya.(Qs. Al. Baqarah;255).
Dalam hal ini, huruf tersebut terdiri dari sebuah mangkuk yang melambangkan sebuah alam, dan sebuah titik dibawah sebagai pertanda, , Exsistensi Allah sebagai penyangga. dan yang kita tau sebuah titik dalam besaran vector adalah tetap sebagai titik, entah bagaimanapun diperbesar berapa kali, adalah tetap sebagai titik.
ت ta = setelah itu Allah SWT menciptakan mahkluk secara berpasang-pasangan.
ث tsa = setelah keberadaan mahkluk, maka Allah berbaik hati menuntun umat manusia diatas nya (bismillahirahman arrahim)
ج jim = sebuah sunnatullah yang telah diciptakan sebagai fundament tatanan alam semesta.
ح ha = berlakunya sunnatullah diatas alam semesta
خ kha = sunnatullah yang diberikannya kekuasaan kepada manusia sebagai tuntunan dalam tugasnya sebagai wali Allah SWT di alam semesta.
د dal = bayangan kesempurnaan penciptaan alam semesta terpenuhi dengan adanya mahkluk sebagai ma�mur, hukum alam yang dikenakan kepada setiap ciptaanNya dan terakhir diangkatnya Manusia sebagai amir. (dua mangkuk yang disusun simetris)
ذ dzal = penisbahan dal ke pundak manusia (Qs. Al Ahzab-72)
ر ra = sebuah rahmat sebagai manifestasi keberagaman sifat-sifat Allah SWT didalam mengatur ketetapan penyeimbang alam semesta ini. (bentuk mangkuk yang seolah tumpah)
ز za = penisbahan dza ke dalam fitrah manusia sebagaimana peniupan Ruh dikala penciptaan manusia.
س sin = Dengan seperangkat anugrah diatas, manusia mampu menjadi pemakmur bumi, sehingga dari sebuah ب tanpa titik, manusia mampu memperluasnya demi upaya kesejahteraan mahkluk-mahkluk yang lain. (adanya mangkuk baru hasil bikinan manusia dengan domain usahanya)
ش syin = dan pada akhirnya, manifestasi huruf ث sebagaimana amanah Allah SWT kepada manusia tercapai.
ص sha = kemudian perluasan-perluasan dunia yang dibikin oleh manusia itu tunduk. Dalam hal ini alam telah dapat dibikin untuk mencukupi segala kebutuhannya (ada bagian 2 mangkuk yang ditelungkupkan)
ض dla = penisbahan ص ke pundak manusia, amanat manusia sebagai amir
ط tha = dan dalam kondisi kecukupannya/kemakmurannya, Allah SWT turun untuk membimbing manusia dalam bidang yang telah ditundukkannya, sebagai taufiq supaya manusia taqwa kepada Allah SWT.
ظ dha = dengan kecakapannya, manusia mampu menerima bimbingan dari Rabb pencipta alam dengan perantaraan amir.
ع a�in = Setelah pengusahaan perluasan alam kearah horizontal, manusia mulai mencari nilai-nilai vertikal yang melalui cahaya akal budi, manusia mulai mencari tuhan sejati.
غ gha�in = tingkatan manusia dalam mencapai tingkatan perjalanan vertikal dalam mencari tuhannya; makrifat Illah
ف fa = sebuah keridhoan manusia atas segenap upaya manusia pemimpin dalam mengatur
ق qaf = suatu kondisi keridhoan manusia secara bermasyarakat atas system kemasyarakatan yang dibentuknya sendiri.
ك kaf = jadilah alam semesta yang berdiri diatas ketentuan Allah SWT dengan medium manusia didalamnya
ل lam = jadilah alam semesta yang berdiri diatas ketentuan Allah SWT
م mim = wujud faktual (tauladan Nabi Muhammad). Ketundukkan manusia pada Allah.
ن nun = manusia dalam tingkatan rahmatan lil alamin
وwau = permadani ampunan yang �dipersiapkan�Allah kepada manusia.(batas al A�raf bagi manusia kecuali Nabi Muhammad SAW)
هha= Kesempurnaan manusia, sebagai perwujudan Shibghah Allah. (tanda kehidupan seimbang/ moksa:lingkaran)
צ lam alif = alam semesta dan ِِِeksistensi Allah bersatu.
ء hamza�h = manusia mengenakan mahkota khalifatullah, kemuliaan independent manusia. Menjadi Rasulullah/ utusan Allah (tapi bukan nabi karena, Nabi Muhammad adalah Yang terakhir)
ي ya = �bersama Allah�, manusia menjadi penopang alam semesta. Dalam menjaga.
01.Menarik ragam inti (Ali bin abi thalib ) : al Qur’an – al fatihah – dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang – huruf ba� ب – dan akhirnya sebuah titik yang menopang mangkuk diatasnya. Alam semesta
02.Atmonadi; Otentifikasi al Qur’an : perspektif dalam mengurai suatu ayat.yakni
– huruf/kata/makna (bahasa),
– numerik (bilangan)-matematik (bilangan), dan
– simbolis geometrik, baik individual maupun dari huruf dan bilangan
Klo buku tersebut ngebahas tentang constrain al Qur’an, maka dengan restrukturisasi menjadi ulasan diatas.
03. huruf alif, ba dan ya dengan dua titik dibawahnya, ada apa?.
04. surat al fatehah.
Baca ayat-ayat pertama dari tiap surat, sebagimana kombinasi “huruf-huruf”, Haa miim, alif laam miim, yaa siin, dsb. Dan liat pada tafsir huruf Arab diatas. Kemudian cari kesimpulan dibalik ayat-ayat pertama tersebut.
Tahukah Anda Pengertian Dari Agama ?
- 1. AGAMA(ARTI DAN RUANG LINGKUPNYA)
- 2.
ARTI AGAMA• Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu dari
kata “a” yang artinya “tidak” dan kata “gama” yang artinya “kacau”.
Dengan demikian “agama” artinya tidak “kacau”.• Ada pula pendapat yang
menyatakan bahwa kata agama berasal dari akar kata “gam” yang mendapat
awalan dan akhiran “a” sehingga menjadi agama. Kadang-kadang mendapat
awalan “i” atau “u” dengan akhiran yg sama, sehingga menjadi “igama”
atau “ugama” yang berarti “jalan”.
- 3. Dalam bhs Bali, ketiga
istilah tsb mempunyai makna sbb :1. Agama artinya peraturan, tata
cara, upacara hubungan manusia dg raja.2. Igama artinya peraturan,
tata cara, upacara dlm berhubungan dengan dewa-dewa.3. Ugama
artinya peraturan, tata cara dalam berhubungan antar manusia.
Ketiga istilah tsb kini dipakai dalam 3 bhs, yaitu agama (bhs
Indonesia), igama (bhs Jawa) dan ugama (bhs Melayu) dengan
pengertian yang sama.
- 4. • Setelah agama Nasrani masuk ke
Indonesia, muncul istilah baru yg diidentikkan dg istilah agama, yaitu
“religion” (bhs Inggris) yg berasal dari bhs Latin yaitu dari kata
“relegere” yg artinya berpegang kepada norma-norma.• Dlm bhs Indonesia
kata religion dikenal dg sebutan “religi” dibaca reliji. Istilah ini
erat kaitannya dengan sistem dan ruang lingkup agama Nasrani yg
menunjukkan hubungan tetap antara manusia dengan Tuhan saja.• Dlm Islam
kata agama merupakan arti dari kata “ad- diin” yg berarti pengaturan
hubungan manusia dg Tuhan (vertikal) dan hubungan manusia dg manusia,
termasuk dg dirinya sendiri dan alam lingkungan hidupnya (horisontal).
- 5.
RUANG LINGKUP AGAMA1. Aturan ttg hubungan manusia dengan Tuhan atau
sesuatu yang dianggap tuhan (vertikal).2. Aturan ttg hubungan manusia
dengan sesama manusia, hubungan manusia dg dirinya sendiri, dan
hubungan manusia dengan alam sekitarnya (horisontal).
- 6.
KLASIFIKASI AGAMA Berdasarkan sumber (asalnya), agama dapat
diklasifikasikan dalam 2 golongan, yaitu :1. Agama wahyu (revealed
religion, agama samawi)2. Agama budaya (cultural religion atau
natural religion, agama ardhi)
- 7. PERBEDAAN CIRI-CIRI ANTARA
AGAMA WAHYU DG AGAMA BUDAYAAGAMA WAHYU AGAMA
BUDAYA• Dapat dipastikan • Tdk dpt dipastikan kelahirannya
kelahirannya.• Disampaikan kpd mns • Tdk melalui
utusan, tetapi melalui utusan Allah. filosof/pendiri.•
Mempunyai kitab suci yg • Tdk mempunyai kitab diwahyukan Allah.
suci yg diwahyukan.• Kebenarannya mutlak • Kebenarannya
relatif.• Sistem hub mns dg Allah • Sistem hub mns dg tuhan
ditentukan oleh Allah dan ditentukan oleh akal Rasul-Nya.
berdasar kepercayaan.
- 8. • Konsep ketuhanan • Konsep ketuhanan monoteisme cenderung politeisme• Jika menyebut ttg • Jika menyebut ttg alam, kebenarannya alam, kekeliruannya bisa dibuktikan dg sering dapat ilmu pengetahuan dibuktikan oleh sains
MAKNA ORNAMEN DALAM GUNUNGAN (WAYANG JAWA)
Gunungan dalam wayang biasa juga disebut kayon, yaitu salah satu unsur yang mendukung pergelaran wayang. Dalam gunungan terdapat ornamen yang sangat unik dan makna yang dalam. Disebut gunungan karena berbentuk segitiga, seperti gunung. Disebut kayon, semula berasal dari bahasa arab “chayu” yang berarti hidup.
Gunungan atau kayon merupakan pusat perkerilan yang diartikan sebagai lambang bahwa pada awal mulanya sebelum ada kelahiran, pertama kali yang ada adalah kayu (hidup), yang dimaksudkan sebelum Bapak Adam lahir ke bumi yang ada hanyalah pohon dan binatang – binatang buas.
Dalam ornamen gunungan di dalamnya terdapat berbagai lukisan sebagai berikut :
Rumah dengan pintu tertutup
Ular atau naga
Rusa berekor
Ayam di atas pohon / ayam alas
Kera / monyet
Banteng
Singa / harimau
Burung
Kepala raksasa
Dua raksasa bermulut lebar dan bersayap garuda
Bejana berbentuk bunga padma
dalam gunungan itu memiliki makna yang erat hubungannya dengan kehidupan manusia. Makna dari masing – masing lukisan adalah sebagai berikut :
Pintu gerbang melambangkan jalan masuk ke dalam alam gelap, yang merupakan batas antara alam terang (dunia fana) dengan alam gelap (alam baka / akherat) yang sering disebut juga kerajaan maut.
Di alam baka segala sesuatunya diterima sebagai hal yang bernilai tinggi akan kemanfaatannya. Semua yang ada di sekitarnya dalam keadaan sangat subur dan makmur. Segala kehidupan di alam baka semua diliputi rasa tenang dan tentram.
Makna tersebut dapat dilihat juga dalam cerita Dewa Ruci, yaitu sewaktu Bima masuk di dalam tubuh Dewi Ruci. Dilukiskan bahwa waktu Bima berada di dalam tubuh Dewa Ruci, seperti memasuki alam gelap, semua perasaan tertutup tiada merasakan sesuatu. Dalam suasana demikian itu, seolah – olah berada dalam kerajaan maut. Dalam keadaan gelap tersebut kemudian nampak bercahaya, tetapi tanpa penyinaran, sehingga banyak jalan menuju ke segala arah tanpa ada ujung pangkalnya. Hal yang demikian menggambarkan adanya petunjuk dari Sang Pencipta, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Petunjuk / jalan yang diberikan oleh Tuhan tersebut juga tidak jelas mana yang benar dan mana yang salah.
Dari makna tersebut Dr. Hidding mengemukakan bahwa kakayon itu diartikan sebagai lambang suatu tempat atau sumber hidup dan kehidupan dengan sifat baik dan buruk serta berbahaya. Kayon merupakan lambang atau gelanggang perjuangan semua sifat.
Ular atau naga diartikan sebagai lambang sejatining urip, menggambarkan betapa sulitnya jalan berliku – liku yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan.
Rusa yang berekor yang sering disebut komodo adalah binatang aneh yang diartikan sebagai lambang kemauan hidup yang bermacam – macam tanpa mempertimbangkan segi untung ruginya, hanya memburu kesenangan.
Ayam di atas pohon melambangkan suatu tantangan hidup yang akan datang. Waktu fajar menyingsing selalu ditandai ayam berkokok. Suatu pertanda di hari esok penuh dengan tantangan kehidupan.
Kera / monyet melambangkan ketangkasan dalam kehidupan yang belum tentu menjamin terkabulnya suatu keinginan dan merupakan binatang yang dapat menampilkan keuletan dalam menempuh kehidupan.
Banteng melambangkan watak atau pendirian yang jujur, kuat, tidak / pantang menyerah demi tujuan yang suci.
Singa / harimau adalah suatu lambang keindahan yang disertai gengsi atau kewibawaan dan juga tangguh dalam menghadapi lawannya.
Burung melambangkan suatu kesenangan dan lambang ketentuan. Suara burung di fajar menyingsing merupakan pertanda ketentuan di hari esok.
Kepala raksasa melambangkan kewaspadaan dalam menempuh jalan menuju kesempurnaan hidup. Dalam pewayangan tokoh ini ditampilkan sebagai penguasa hutan rimba. Dia adalah Batara Kala, dewa yang berkuasa atas keadaan sakit dan mati. Hutan rimba adalah tempat menempa tokoh ksatria dalam mencapai tingkat kesempurnaan hidup.
Dua raksasa bermulut lebar dan bersayap garuda yang disebut bledegan, adalah lambang penguasa empat nafsu, yaitu mutmainah, supiah, aluamah, dan amarah.
Bejana berbentuk bunga padma yang terletak di pucuk pohon, berisikan air suci. Air suci adalah air kehidupan yang diberikan oleh Sang Pencipta. Bagi yang memperoleh air tersebut dapat menyucikan hidupnya dan akan sempurnalah hidupnya.
Dari uraian makna yang ada maka jelas bahwa lukisan yang ada pada gunungan mengandung makna filosofis dan mistik. Gunungan melambangkan pusat seluruh kehidupan, yang berarti lambang Ketuhanan (Tuhan YME). Sedangkan kayon adalah lambang permulaan hidup yang menjelma di dalam dan di atas kerajaan maut. Dari uraian yang ada, maka gunungan memiliki banyak fungsi tergantung ceritera yang akan dipagelarkan.
MAKNA ISLAM DALAM WAYANG
Berdasarkan buku Minanur Rahman dan Arabic The Source Of All The Langguages yang menyatakan bahwa bahasa Arab itu merupakan induk semua bahasa. Dengan demikian, berdasarkan teori itu kemungkinan penamaan Wayang itu diambil dari kata “wachyan” artinya wahyu/firman Tuhan.
Jadi, nama figur dan kisah dalam Ramayana dan Maha Barata itu pada mulanya berasal dari wahyu Ilahi. Sedangkan Dalang, yang memainkan wayang tersebut berasal dari kata Arab “Dallan” artinya penuntun atau penunjuk jalan. Jadi, Dalang itu adalah orang yang mempertunjukan kisah tentang wayang yang bernuansa petunjuk-petunjuk Tuhan untuk manusia, baik dalam urusan pribadi, keluarga, pemerintahan, Negara, hubungan internasional, peperangan dan sebagainya. Ada juga kerajaan antagonis yaitu Astina (Asysayithon) dengan penguasanya Duryudana (Durjana) yang selalu bersikap jahat seperti syaithan.
Tokoh punakawan yang menjadi figur penasehat yang senantiasa memberikan pencerahan dalam cerita wayang juga memiliki makna yang begitu mendalam dan sarat makna. Punakawan yang terdiri dari Semar, Gareng Petruk dan Bagong ada kemungkinan berasal dari kata Semar/Sammir berarti siap sedia, Gareng/Khair berarti kebaikan/kebagusan, Petruk/Fatruk berarti meninggalkan, sedangkan Bagong/Bagho artinya lalim atau kejelekan “Sammir Ilal Khairi Fatruk Minal Bagho” yang artinya“Berangkatlah menuju kebaikan maka kamu akan meninggalkan kejelekan”. Ini juga selaras dengan perintah Allah SWT supaya “amar ma’ruf nahi munkar” yaitu “Mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan buruk”
Dalam cerita Maha Barata yang mencerita kisah keturunan Pandu Dewanata yang dikenal dengan Pandawa juga sangat lekat dengan tuntunan ajaran Islam. Pandawa yang terdiri dari lima bersaudara Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, mengisyaratkan kepada Lima Rukun Islam. Sedang tokoh kontranya adalah bala Kurawa dan Astina yang selalu membuat kemudhorotan. Dalam pementasan wayang, sang dalang juga selalu menempatkan mereka pada posisi yang berseberangan, dimana tokoh Pandawa berada dikanan sebagai lambang kebaikan, sedang Kurawa/Astina selalu di kiri sebagai lambang keburukan.
Kisah Tokoh Pandawa jika diselaraskan dengan ajaran Islam terutama sebagai pengejawantahan Rukun Islam adalah sebagai berikut;
1) Yudhistira
Yudhistira merupakan rangkaian dari kata “Yudh, is dan tira”. Yudh kependekan dari kata ‘Yudha” artinya jihad atau perang; Is kependekan dari kata “Islam” dan Tira merupakan kependekan dari kata “Tirakat”. Yudhistira ini juga memiliki Jimat Kalima sada, yang mengisyaratkan kepada “Kalimah Syahadat” Rukun Islam yang pertama. Maksudnya adalah seseorang yang telah mengucapkan kalimah Syahadat (masuk agama Islam) berarti ia bertekad untuk memerangi hawa-nafsunya dan berupaya menaklukkannya agar ia dapat mengikuti kehendak Allah SWT, sebagai Tuhannya dan mengikuti Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya. Oleh karena itu Rasulullah SAW menyatakan bahwa jihad melawan hawa-nafsu itu merupakan jihad paling besar.
Yudhistira dilambangkan dengan ibu jari dimana mengucapkan kalimah syahadat atau tauhid Ilahi merupakan ibu atau induk dari ajaran Islam. Seperti julukannya sebagai Satrio Pembareb
2) Bima
Bima atau Raden Werkudoro yang selalu siap dengan senjata pamungkasnya yaitu Kuku Pancanaka yang diartikan sholat lima waktu haruslah ditegakkan dalam keadaan apapun. Bima juga memiliki julukan Ksatria Penegak yang merefleksikan Ibadah Shalat sebagai Tiang Agama atau Penegak Agama
Bima merupakan rangkaian dari kata “Bi dan Ma”. Bi kependekan dari kata “Bisa” sedangkan Ma kependekan dari kata “Manunggal”. Jadi, Bima itu bisa manunggaling kawula marang Gusti, dan dia memiliki kuku Pancanaka yaitu memiliki kekuatan lima waktu yang mengisyaratkan kepada “Shalat” rukun Islam yang kedua. Maksudnya, amalan shalat itu merupakan media bertemunya seorang hamba dengan Khaliqnya. Oleh karena itu Rasulullah SAWmenyatakan bahwa seorang yang sedang menunaikan shalat hendaknya ia seakan-akan sedang melihat Tuhannya, tapi jika tidak dapat melihat-Nya, hendaknya ia merasa sedang dilihat Tuhannya.
Bima dilambangkankan dengan jari telunjuk, telunjuk sebagai simbol dan alat penunjuk arah. Dengan shalat manusia juga bisa mendapat petunjuk dan dapat bertemu dengan Allah swt, ketika shalat juga ada gerakkan menegakkan jari telunjuk. Selain itu shalat juga harus ditegakkan, karena sebagai tiang agama.
3) Arjuna
Raden Arjuna digambarkan sebagai tokoh yang sangat tampan, lemah lembut, pemberani, pemanah ulung, pembela kebenaran, dan idola kaum wanita. Ini merefleksikan Ibadah Puasa wajib dibulan Ramadhan yang penuh hikmah dan pahala sehingga menarik hati kaum Muslim utk beribadah sebanyak-banyaknya. Keahlian Raden Arjuna dalam bertempur dan memanah ini, merefleksikan Ibadah Puasa sebagai senjata utk melawan hawa nafsu.
Arjuna merupakan rangkaian dari kata Ar, ju dan na. Ar kependekan dari kata Arsa, artinya akan atau mengharapkan, Ju kependekan dari kata maju, dan Na kependekan dari kata rahina, artinya terang karena penerangan dari langit atau agama. Jadi, ARJUNA bermakna mengharapkan kemajuan atau kesuksesan ruhani (agama). Ini mengisyaratkan kepada ”Shiyam” atau Puasa sebagai rukun Islam ketiga. Maksudnya adalah amalan Puasa dapat membuat pelakunya berhati suci yang menyebabkan Tuhan berkenan mengaruniakan wahyu (petunjuk), sehingga hati menjadi terang-benderang. Oleh karena itu sejarah membuktikan bahwa sebelum para nabi menerima wahyu, biasanya mereka melakukan puasa lebih dahulu (atau bertapa).
Arjuna sebagai Ksatria Penengah disimbolkan dengan jari tengah, dimana jari tengah yang memiliki posisi paling tinggi ini menggambarkan bahwa dengan puasa manusia dapat meraih derajat yang tinggi, dan merupakan penengah atau penyeimbang untuk menahan hawa nafsu.
4) Nakula
Nakula merupakan rangkaian dari kata “Na dan Kula”. Na kependekan dari kata “Trisna” artinya kasih-sayang, sedangkan Kula kependekan dari kata “Kawula” artinya masyarakat. Jadi, Nakula itu mengisyaratkan kepada “Zakat” sebagai rukun Islam keempat. Maksudnya, memberikan zakat, infaq, sedekah, hadiah dan yang sejenisnya merupakan manifestasi dari cinta-kasih seorang muslim kepada sesama manusia sebagai makhluq Allah SWT.
Nakula disimbolkan dengan jari manis dimana jari manis sebagai simbol cinta dan kasih sayang, karena biasa dipakaikan cincin tanda cinta.
5) Sadewa
Sadewa merupakan rangkaian dari kata “Sa dan Dewa”. Sa kependekan dari kata “Sangu” artinya bekal, De kependekan dari kata “Gede” artinya besar dan banyak, sedangkan Wa kependekan dari kata “Dawa” artinya panjang atau lama. Jadi, Sadewa itu mengisyaratkan kepada ibadah “Haji” sebagai rukun Islam kelima. Maksudnya, ibadah Haji itu membutuhkan bekal yang besar dan untuk keperluan hidup dalam waktu yang panjang, disamping untuk biaya transportasi, terlebih bagi seorang muslim Indonesia yang jauh dari kota Mekkah, kerajaan Saudi Arabia.
Sadewa disimbolkan dengan jari kelingking, karena jari kelingking merupakan jari terkecil. Haji merupakan ibadah yang memerlukan syarat, sehingga tidak semua umat Islam bisa memenuhinya, atau hanya sebagian kecil saja yang bisa melaksanakannya.
Jika kelima tokoh diatas bersatu, maka akan menjadi kekuatan yang luara biasa, seperti halnya jika 5 rukun jika kita jalankan dengan sepenuhnya, maka keimanan kita juga akan sangat kuat.
5 pesan tanah untuk manusia
2. Silakan kalian makan apapun yang kalian suka, tapi ingat nanti kalian akan dimakan oleh belatung di dalam perutku.
3. Silakan kalian tertawa di punggungku, tapi ingat nanti kalian akan menangis di dalam perutku.
4. Silakan kalian berbahagia di punggungku, tapi ingat nanti kalian akan sedih ketika didalam perutku.
5. Silakan kalian berbuat dosa sesuka kalian di punggungku, tapi ingat nanti kalian akan disiksa ketika di dalam perutku.
Pesan ini mengingatkan kita bahwa kekayaan, jabatan, dan apapun yang kita miliki tidak akan berguna di dalam kubur, oleh sebab itu jangan menyombongkan yang kita miliki,, karena kita semua akan mati .., Perbanyak amal, dan sedekah karena itulah yang kita bawa sampai ke dalam kubur..
Semoga Bermanfaat...
MAKNA DINDING (WALL) DI FB
Sudah begitu lama aku pendamkan.