Thisisgender.com – WACANA
kerukunan antar umat beragama bukanlah hal yang baru dalam ajaran Islam.
Sejak agama Islam diturunkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala kepada Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam nilai-nilai kerukunan sudah
diajarkan dan diterapkan. Bukan hanya kepada sesama umat muslim. Bahkan
kepada non-muslim pun Islam menjalin kerukunan.
Tapi, akhir-akhir ini, Islam justru disudutkan dengan berbagai macam
tuduhan. Dan yang terbaru ialah “Islam bukan agama toleran” yang
dilontarkan oleh LSI. Untuk itu, penulis merasa perlu menyikapi tuduhan
tersebut. Adapun tulisan ini ingin mendudukkan toleransi dengan konsep
tasamuh dalam Islam serta mencari benang merah perbedaan antara
keduanya.
Beda Toleransi dan Tasamuh
Secara terminologi, kata “tolerance” (toleransi) sebagaimana dalam
The New International Webster Comprehensive Dictionary of The English
Language (1996:1320) diartikan dengan menahan perasaan tanpa protes (to
endure without protest). Artinya seseorang tidak berhak protes atas
argumen orang lain, meskipun itu adalah gagasan yang salah dalam
keyakinan. Inilah toleransi dalam pengertian Barat.
Berbeda dengan Islam. Islam mengartikan toleransi dengan istilah
“tasamuh”. Dalam kamus al-Muhit, Oxford Study Dictionary English-Arabic
(2008:1120) istilah tasamuh memiliki arti tasahul (kemudahan). Artinya,
Islam memberikan kemudahan bagi siapa saja untuk menjalankan apa yang ia
yakini sesuai dengan ajaran masing-masing tanpa ada tekanan dan tidak
mengusik ketauhidan.
Dalam pandangan Harun Nasution dalam Kamus Lengkap Islamologi (2009),
toleransi meliputi beberapa hal. Di antaranya yaitu : Mencoba melihat
kebenaran yang ada di luar agama lain. Artinya, Harun percaya bahwa
kebenaran tidak hanya ada dalam Islam, melainkan kebenaran juga ada
dalam agama selain Islam. Selain itu, toleransi menurut Harun berarti
upaya membina rasa persaudaraan se-Tuhan.
Definisi Harun di atas sangat sarat akan aroma paham pluralis.
Pertama, Harun ingin merelatifkan nilai kebenaran itu sendiri. Gagasan
Harun ini bukanlah hal yang baru. Ia mengekor dengan ide John Hick, yang
menganggap kebenaran itu relatif. Kedua, Harun juga ingin menyamakan
Tuhan agama-agama. Dalam hal ini ia terpengaruh oleh Frichof Schuon yang
percaya akan Tuhan agama-agama yaitu “The One”.
Lain halnya dengan Dr Yusuf al-Qaradhawi dalam Ghair al-Muslimin fii
al-Mujtama’ Al-Islami yang memaknai konsep tasamuh dalam beberapa hal.
Tasamuh adalah keyakinan terhadap kemuliaan manusia, apapun agamanya,
kebangsaannya dan kerukunannya. Selain itu, tasamuh juga berarti
keyakinan bahwa Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan untuk berbuat
adil dan mengajak kepada budi pekerti mulia meskipun kepada orang
musyrik.
Jadi, antara toleransi dalam pandangan Barat memiliki perbedaan
mendasar dengan konsep tasamuh dalam Islam. Perbedaan tersebut terlihat
dalam hal konsekwensi berkeyakinan dalam beragama. Toleransi ingin
merelatifkan nilai-nilai kebenaran dalam beragama. Sedangkan tasamuh
justru untuk meyakini akan kebenaran yang hanya berasal dari Allah
Subhanahu Wata’ ala. Dari defenisi Qaradhawi ini saja ada perbedaan
besar antara toleransi (dalam konsep Barat) dan Islam.
Islam Intoleran yang Tasamuh
Belum lama ini Islam kembali menjadi sorotan media massa. Kali ini
Islam tidak sedang dituduh sebagai agama teroris. Tapi, Islam dianggap
sebagai agama yang intoleran.
Statemen tersebut dilontarkan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI).
Wacana itu merupakan kesimpulan dari hasil survei yang mereka lakukan
pada tanggal 1-8 Oktober 2012. Kabarnya, survei tersebut dilengkapi
dengan riset kualitatif, analisis media dan Focus Group Discussion
(FGD). (antaranews.com)
Adapun survei tersebut menemukan bahwa publik (umat islam) tidak
nyaman hidup berdampingan dengan orang yang berbeda agama naik 8,2
persen dari 6,9 persen menjadi 15,1 pada survei tahun 2012.
Ketidaknyamanan bertetangga dengan orang Syiah sebelumnya sebesar 26,7
persen sekarang naik 15,1 persen menjadi 41,8 persen.
Sementara mereka yang tidak nyaman hidup berdampingan dengan orang
Ahmadiyah naik sebesar 7,5 persen yang sebelumnya hanya 38,1 persen
menjadi 46,6 persen pada 2012. Dan mereka yang tidak nyaman bertetangga
dengan homoseksual pada 2005 hanya 64,7 persen kini menjadi 80,6 persen.
Artinya, bahwa mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam lebih
menerima hidup bertetangga dengan orang yang beda agama daripada hidup
bertetangga dengan orang Islam yang berbeda paham agama seperti Syiah
dan Ahmadiyah. Jadi, muslim Indonesia sangat intoleran. Demikianlah
kesimpulan dari LSI yang dimuat dalam situs resminya. (lsi.co.id)
Ini artinya, orang Islam Indonesia semakin sadar akan kebenaran agama
Islam. Pasalnya, sample (muslim) bisa membedakan bahwa orang yang
memiliki pemahaman berbeda dengan Islam (Syiah dan Ahmadiyah) adalah
sesat dan menyesatkan. Akhirnya, mereka tidak mau hidup bersama mereka.
Dalam hal ini, wajar jika LSI mengatakan umat Islam (yang menjadi
sample riset) itu intoleran. Dari pernyataan tersebut dapat diketahui
bahwa cara pandang menyikapi toleransi yang digunakan oleh LSI adalah
toleransi model Barat yang tidak membedakan antara kebenaran dan
kesesatan. Bagi Barat (yang akhirnya jadi pijakan LSI), semua harus
ditolerir. Tentu akan berbeda hasilnya apabila LSI menggunakan kaca mata
Islam (dalam hal ini konsep tasamuh) dalam menilai hal tersebut.
Sebagaimana disebutkan di awal, Islam memiliki konsep tasamuh atau
(kemudahan). Saat LSI melakukan survei, sebenarnya umat muslim sedang
menerapkan konsep tasamuh. Hal ini dapat dilihat dari data yang
menunjukkan penolakan terhadap kesesatan (Homosex/Lesbian, Syiah dan
Ahmadiyah). Sikap ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Yusuf
Al-Qardhawi dalam Ghair al-Muslimin fii al-Mujtama’ Al-Islami
(1992:53-55) yang mengatakan bahwa dalam bertasamuh, Islam harus tetap
mengedepankan tauhid.
Sebab, pada dasarnya, konsep bertasamuh dalam Islam mengandung
konsep-konsep yang rahmatan lil ‘alamin. Di antaranya konsep yang
mengikat makna tasamuh yaitu ar-Rahmah (Kasih Sayang), QS. Al-Balad :
17, al-Salam (keselamatan), QS. Al-Furqan: 63, al-Adl (keadilan) dan
al-Ihsan (kebaikan), QS. al-Nahl : 90 dan al-Tauhid (Menuhankan Allah
SWT), QS. Al-Ikhlas : 1-4. Dan inilah yang sedang dipraktekkan oleh
sample (Muslim).
Ini berarti jelas bahwa masyarakat yang disurvei tidak sedang
menerapkan toleransi ala Barat tapi mereka bertasamuh. Dan apabila itu
tidak disadari oleh LSI maka itu menunjukkan bahwa LSI tidak berimbang
dalam menilai data survei. Sebab, LSI telah menggunakan kaca mata Barat
untuk menilai umat Islam yang hasilnya akan selalu negatif.
Penutup
Dari paparan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa antara toleransi
dan tasamuh memiliki perbedaan yang mendasar. Toleransi ala Barat
merupakan sikap menahan tanpa protes meskipun dalam hal kebaikan dan
kesesatan. Baik dalam hal bersosial maupun berkeyakinan.
Hal yang berbeda dengan Islam. Dalam hal bermasyarakat, Islam harus
menerapkan konsep tasamuh. Artinya, Islam memberi kemudahan kepada orang
lain yang tidak mengusik keimanan umat Islam.
Adapun sikap yang ditunjukkan oleh umat Islam yang disurvei –bagi
penulis- adalah sudah sangat tepat dan harus tetap dijaga (bila perlu
ditingkatkan). Sebab seperti itulah seharusnya hidup bertasamuh, yaitu
tidak menjual tauhid dengan toleransi semu.
Jadi, prinsip toleransi yang menjadi pegangan LSI sangat bertolak
belakang dengan prinsip tasamuh dalam Islam. Dengan demikian, menurut
hemat penulis, jauh lebih baik bertasamuh dari pada bertoleransi. Dan
satu hal yang tak kalah penting, masalah kerukunan antar umat beragama,
Islam tidak perlu belajar dari Barat. Islam telah memiliki prinsip
tersendiri yang tidak bisa diganti dengan model kerukunan agama lain
yang selama ini terkesan mendikte kaum Muslim.
Sebagai penutup, penulis meminta kaum Muslim tidak perlu ragu.
Selanjutnya juga menghimbau pihak LSI bisa bersikap adil dalam menilai
sikap kaum Muslim. Itupun jika mau melakukan. Hanya saja, biasanya akan
sulit. Karena biasanya semua survey dan program-program kalangan LSM di
Indonesia sudah merupakan paket dari sponsor yang agendanya jelas
bertolak-belakang dengan nilai Islam itu sendiri. Wallahu a’lam bi
al-shawab.*
0 komentar :
Posting Komentar