#melayang {position:fixed;_position:absolute;bottom:30px; left:0px;clip:inherit;_top:expression(document.documentElement.scrollTop+document.documentElement.clientHeight-this.clientHeight); _left:expression(document.documentElement.scrollLeft+ document.documentElement.clientWidth - offsetWidth); }

JATUH CINTA & BANGUN CINTA




Mengapa orang menikah?
K a r e n a mereka jatuh cinta. 


Mengapa rumah tangganya kemudian bahagia?
Apakah karena jatuh cinta?
Bukan,
T a p i mereka terus bangun cinta.
Jatuh cinta itu gampang, 10 menit juga bisa;
T a p i bangun cinta itu perlu waktu seumur hidup.
Mengapa jatuh cinta gampang?
K a r e n a saat itu kita buta, bisu & tuli terhadap keburukan pasangan kita. T a p i saat memasuki pernikahan, tak ada yg bisa di tutupi lagi. Dgn interaksi 24 jam per hari 7 hari dalam seminggu,
semua belang tersingkap. Di sini letak perbedaan jatuh cinta & bangun cinta. Jatuh cinta dalam keadaan menyukai,
n a m u n bangun cinta di perlukan dalam keadaan jengkel. Dalam keadaan jengkel, cinta bukan lagi berwujud pelukan, m e l a i n k a n berbentuk itikad baik memahami konflik & ber-sama² mencari solusi yg dapat di terima semua pihak. Cinta yg dewasa tak menyimpan uneg², w a l a u ada beberapa hal
peka untuk bisa di ungkapkan, seperti masalah keuangan, ortu & keluarga.
N a m u n sepeka apapun masalah itu, perlu di bicarakan agar kejengkelan tidak berlarut. Syarat untuk keberhasilan pembicaraan adalah kita bisa saling memperhitungkan perasaan.


Jika suami istri saling memperhatikan perasaan sendiri, mereka akan saling melukai. Jika di biarkan berlarut, mereka bisa saling mmemusuhi & rumah tangga sudah berubah,
bukan surga lagi t a p i neraka.
Apakah kondisi ini bisa di perbaiki?
Tentu saja bisa, saat masing² mengingat komitmen awal merekadulu apakah dulu ingin mencari
teman hidup atau musuh hidup?
Kalo memang mencari teman hidup, kenapa sekarang malah bermusuhan?
Mencari teman hidup memang di mulai dgn jatuh cinta,
t a p i sesudahnya, porsi terbesar adalah membangun cinta, s e h i n g g a kedua pihak
bisa : Mendengarkan, Menghargai, Memahami, Mengalah, & Menopang.
”Siapa mengabaikan didikan, membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan
teguran, memperoleh akal budi.”

Budaya untuk anak




Kadang orang tua itu lebih bangga kpd anaknya yg pintar dalam sekolahnya, fisika. matematika dan ilmu yg lainya dgn nilai yg bagus, bila perlu di ikutkan les dgn bayaran yg mahal, orang tua
bangga dn semua itu. 


Bahkan, ada yg bangga anaknya sdh katam Al- qur'an atau bahkan hafid, bangga dgn prestasi pondok dan sekolah-nya, mereka lupa bahwa mereka tdk mengajarkan budaya dan
moral kpd anak"nya.
Kepandaian akademi tanpa budaya adalah tidak bermoral, agama tanpa budayapun tidak bermoral,
tidak ada rasa-nya dan tidak ada keindahanya. Apapun kepandaian anak" kita, jgn lupa diajarkan berbudaya, budaya sopan santun, ramah, malu, antri, beretika dan lain"... Agama dan pendidikan adalah ilmunya,
sedangkan budaya adalah cara prakteknya. AKAN MENJADI PERCUMA, mendidik anak dgn agama dan pendidikan tanpa diajarkan budaya, mereka memang pandai dan pintar, tetapi mereka bodoh dn
sangat bodoh untuk mempraktekan ilmunya. Misalnya budaya antri, coba perhatikan di tempat permainan anak", bagaimana orang tua mengajarkana anak"nya untuk menyerobot antrian
anak" yg lain, main dorong- dorongan dgn yg lain, dgn berbagai alasan agar anaknya dapat antrian yg
terdepan, tanpa mau berpikir dan menghargai hak orang lain yg telah antri duluan. Hal in tampak sepele, akan tetapi coba bayangkan bagimana bila anak" kita nanti menjadi pejabat, menjadi karyawan, atau menjadi pemimpin umat dan negara, lalu apa yg akan mereka lakukan, apa mereka tdk main serobot, main sikut"tan, main jegal, main gunting dalam lipatan dan etika buruk yg lainya,...
Kadang, pengetahuan agama dan pendidikan itu tdk penting, pada suatu keadaan, yg diperlukan
adalah pendidikan budaya yg telah orang tua tanamkan, Perlu kita ketahui dlm budaya antri saja ada
berbagai macam pelajaran dan etika, dlm budaya antri anak" kita belajar untuk mengahrgai hak" orang lain, belajar disiplin waktu, kalau mau dapat antrian yg terdepan hrs datang lebih dulu, kalau dapat antrian belakang yg hrs menerima konsekwensinya, anak belajar kuat dan tabah dlm menjalani sebuah proses untuk menunggu giliran, dan yg lebih utama adalah mendidik anak untuk disiplin, teratur dan rapih.

Eforia Maulid Nabi saw



Begitu terasa sampai kedalam hati, pd bulan Maulid ini. Shalawat berkumadang dimana-mana,
ajakan bershalawat-pun dimana-mana, itulah keistimewaan bulan maulid, yg sangat dimulyakan
sebagai bulan kelahiran Kanjeng Nabi. Sayang-nya, aroma kecintaan kpd Nabi hny digemakan dlm bulan Maulid saja, 

sedangkan di bulan-bulan berikutnya mulai memudar dn cenderung terlupakan. Bagi pengikut baginda Nabi, mereka memperingati Maulid Nabi setahun sekali, sebagai penghormatan dan memuliakan kelahiran baginda Nabi. 

Sedangkan bagi "Pecinta baginda Nabi" mereka memperingati Maulid Nabi setiap hari, setiap nafas yg terhembus dan setiap darah yg mengalir dalam setiap detak Nadi. Dengan melahirkan kembali sikap dan pribadi Rasul dlm setiap tarikan nafas dan detak Nadi-nya, sehingga baginda Nabi tdk pernah mati dalam hati nurani-nya, ada dan selalu tumbuh kembang dlm segala ucap kata, sikap dn perbuatan sang pecinta-nya.
Shallu 'alla Muhammad,
Shallu 'alla Nabi.

Islam itu agama Rahmat






Islam itu agama Rahmat, agama ahlaq, yang berarti agama yang mengajarkan ibadah dan perbuatan,
bukan hny sekedar agama yg mengajarkan bacaan- bacaan, apalagi sekedar membaca mantra-mantra.
Memang banyak hadist dn dalil yang memberi petunjuk untuk mengamalkan bacaan sesuatu, untuk
mendapatkan balasan sesuatu dari Allah, seperti membaca shalawat, ayat Kursi, Al-fathihah, ayat Al-Kahfi dan lain"-nya, supaya mendapat syafaat, terang kuburnya di kemudian hari dn untuk memudahkan urusan dunia dan akherat, serta untuk mendapatkan pahala dan surga, tetapi tidak berhenti dlm bacaan saja, tetapi hrs melahirkan perbuatan. Dan untuk mendapatkan syafaat, serta kemudahan di dunia dan akherat.


tentunya tdk cukup ny dgn bacaan-bacaan, tetapi hrs dgn perbuatan dan perbuatan. Ahlaq seseorang tdk akan menjadi baik, selama hny bermodalkan bacaan-bacaan, bisa" justru akan menjadi tambah buruk ahlaq-nya krn bacaan-bacaan. Karena bacaan-bacaan tanpa adanya perbuatan dn praktek untuk mengamlakan apa" yg telah di baca, justru akan menjadi qadam, dan akan mempengaruhi
setiap perangai dan ahlaq-nya. Na'udhubillah... 

Stop bacaan-bacaan, mari praktek dan berbuat walau hny bermodal satu ayat dan setengah hadist, itu lebih baik dari pada hafid Qur'an, namaun hanya kau jadikan bacaan, dan itu hny akan menjadi qadam. Ayat" Al- quran dan hadist, bukan mantra hingga hny kau komat-kamitkan dgn mulut yg berbusa, akan tetapi ayat" dan hadist adalah petunjuk dan cahaya yg menerangi setiap prilaku dan perbuatan umat-nya. Sehingga terlahirlah ahlaqul karimah dalam diri kita, bukan hny sekedar umat yg pandai membaca mantra"....

Benar Bukan Malaikat, Salah Bukan Setan 
membuat saya semakin memahami bahwa manusia itu tidak ada yang sempurna. Manusia
memiliki kelebihan juga kekurangan. Ia tidak akan terlepas dari yang namanya baik dan buruk. Tidak
ada manusia yang selalu benar juga tidak ada manusia yang selalu salah. Baik dan buruk melekat
pada dirinya. Maka tidak pantas diantara manusia menyombongkan kebaikan atau kelebihannya dan
mencela kekurangan yang lainnya. Selevel ulama pun tidak lepas dari salah dan dosa. 
Oleh karena itu kita harus memahami dan memaafkan jika ada orang yang melakukan kesalahan kepada kita, tidak boleh menghakiminya sendiri. Walaupun sudah dimaafkan bukan berarti perbuatan jahatnya ditolerir, perbuatan buruk ya buruk harus diperbaiki dan diluruskan. 
Kita tidak boleh putus harapan bahwa seseorang yang jahat tidak bisa berubah menjadi orang soleh.
Apapun bisa dilakukan Allah SWT, sejahat apapun manusia bisa sekejap mata menjadi soleh jika sudah dikehendaki-Nya. Begitupun sebaliknya orang soleh dengan sekejap mata bisa menjadi jahat jika sudaha dikehendaki-Nya. Tetap do'akan dan sabar dalam berusaha memberikan stimulan perubahan positif padanya.
Menilai manusia jangan dari tampang fisiknya, melainkan dari dalam hatinya. Begitu dalamnya hati
maka tidak ada manusia yang bisa mengetahui isi hati. Maka kita jangan tergesa-gesa memvonis
seseorang itu baik atau juga buruk. Kita harus mengenal seseorang itu dengan mendalam, artinya
kita akan tahu karakter baik atau buruknya seseorang setelah kita benar-benar sudah mengenalnya dengan baik.
Bisa saja tampangnya cakep dan cantik tapi ternyata hatinya busuk, begitu pula bisa saja tampangnya jelek dan dekil tapi ternyata hatinya berlian. Perasangka hanya membuat hati dan pikiran kita menjadi kotor sehingga mudah memvonis seseorang sebelum mengenalnya dengan baik. Lakukanlah pendekatan yang baik dan kenalillah seseorang dengan baik sehingga kita tahu karakter dia yang sebenarnya. Berteman dengan siapa saja tapi kita harus tahu siapa diantara teman kita yang bisa dijadikan sahabat baik.
Karena manusia memiliki kekurangan bukan berarti kita harus minder justru jadikanlah kekurangan itu sebagai kelebihan. Manfaatkan waktu untuk terus mengasah diri agar diri kita berkembang dan maju. 
Tumbuhkan kepercayaan diri kita sehingga kita mampu menghadapi dan memecahkan persoalan
hidup yang menghadang kita. Mudah putus asa hanya akan menambah dan memperumit masalah.
Sudah tidak zamannya lagi menyombongkan kelebihan diri sendiri dan mencela kekurangan orang
lain. Sebaiknya kita intropeksi diri apakah kita sudah benar-benar menjadi baik atau belum. Rajin
memperbaiki diri dan membantu orang lain yang kesulitan akan membuka lebar pintu kesuksesan kita. 
Jadi, manusia tidak ada yang sempurna karena manusia bukan malaikat dan manusia jahatpun
memiliki potensi untuk berubah menjadi lebih baik. Ingat...
manusia adalah " Benar Bukan Malaikat, Salah Bukan Setan ".



Segala ibadah itu adalah sebagai tanda kasih sayang Allah, dan hendaknya kau beribadah itu krn rasa syukur kepada Allah, krn limpahan rahmad dan hidayah-Nya yg tak terbatas,... Bukan untuk sesuatu yang lain, untuk ini dan itu, begini dan begitu. Apa lagi untuk membanggakan diri, kepada Allah dan makluk, tanda ahli ibadah itu bukan hitamnya dahi-nya agar terlihat ahli sembayang, tetapi tanda-nya ahli ibadah itu ada dalam ahlaq-mu, bukan juga dalam baju gamis dan serban yg kau gunakan, akan tetapi bagusnya hati dan rasa-mu.
Maka merenunglah agar kau lebih mengenal Tuhan-mu, agar kau lebih dekat dan lebih cinta kpd-Nya. Krn ibadah-mu tdk akan mendekatkan diri-mu kpd Tuhan-mu, sebelum kau mengenal siapa yg kau dekati.




Buku ditulis memiliki tujuan untuk turut serta mencerdaskan bangsa. Bagaimana bila isi buku itu menghasut masyarakat? Nah, hal demikian ini sama saja dengan tulisan-tulisan sosmed yang banyak juga isinya itu menghasut, provokasi, atau sampah. Tetapi, kalaumasyarakat semakin cerdas, yang berupa sampah itu akan terpinggirkan dengan sendirinya. Oleh karena itu, harus diimbangi dengan tulisan-tulisan yang bersifat mendidik dan mencerdaskan bangsa. Agar anak bangsa semakin
sadar bahwa di negeri ini ada leluhur-leluhur yang bisa dijadikan panutan untuk menjadi manusia yang
berbudi pekerti luhur dan memiliki landasan moralitas yang kokoh. Di negeri ini ada leluhur-leluhur yang memiliki komitmen untuk menjalankan agama secara nyata, artinya agama adalah kebajikan yang diamalkan secara nyata, dan bukan sekadar berkhayal di atas-dalil-dalil.
Dalil memang diperlukan, seperti kalau kita belajar matematika, fisika, atau kimia. Tetapi, dalil akan
bermakna dalam kehidupan ini kalau diwujudkan dalam bentuk nyata, seperti: berupa bangunan, kelistrikan, otomotif, alat-alat telekomunikasi, alat-alat transportasi, dan lain-lainnya. Buku-buku yang isinya tentang agama dan spirtitual pun akan bermakna bagi kehidupan bila diwujudkan dalam bentuk nyata, yaitu perilaku yang mulia dan hidup sejahtera dan bahagia.
Dalil-dalil, dalam ilmu pengetahuan alam maupun dalam ilmu agama, harus diwujudkan dalam dunia nyata (bukan dunia tafsiran) untuk membangun kehidupan nyata yang sejahtera, aman, sentosa, dan bahagia. Dalil kita pelajari, kita ketahui, bukan untuk mengisi TTS (teka-teki silang) semata; meski pada saat jenuh, mengisi TTS berguna untuk menetralisir kejenuhan. Semoga kita bisa mewujudkan dalil-dalil agama dalam kehidupan nyata, dan bukan hanya sebagai TTS untuk kepuasan pikiran belaka.

RAMADLAN BARU SAJA BERLALU -atau kita yang
meninggalkannya?- dari hadapan kita, kemudian kita
menyambut Syawwal dengan takbir yang membahana
dan gegap gempita. Bukan hanya tabuhan beduk saja
yang mengiringi takbir ketika malam terakhir
Ramadlan, erangan knalpot motor hingga letusan
kembang api menghiasi langit pada malam 30
Ramadlan lalu. Dengan tajuk menyambut hari
kemenangan, sebagian besar masyarakat kita
merayakannya dengan gembira. Kemenangan atas
siapa?
Jika memang disebut sebagai hari kemenangan, maka
pasti ada pihak yang harus dikalahkan bukan? Lantas
siapa yang kita kalahkan selama 30 hari kita
berpuasa? Sedangkan para ustadz seringkali
mengatakan kepada kita bahwa pada bulan Ramadlan
maka setan akan dipenjara didalam neraka. Lantas
dalam turnamen Ramadlan lalu sebenarnya kita
mengalahkan siapa sehingga ketika Idul Fitri tiba kita
dengan bangga menyebut sebagai hari kemenangan?
Maka, selain menahan lapar dan haus, jawaban kita
akan tertuju pada; Hawa Nafsu.
Mungkin karena sudah terlalu banyak masyarkaat kita
terbiasa dalam kesalahan memposisikan sebuah kata
sehingga akhirnya banyak dari kita menganggap
bahwa Hawa Nafsu merupakan satu kesatuan.
padahal sebenarnya berbeda. Hawa sendiri jika kita
tarik dari asal katanya, dalam kosakata Bahasa Arab
memiliki arti keinginan, kehendak atau hasrat. Hawa
inilah yang sebenarnya kemudian identik dengan
Syahwat. Sedangkan Nafsu, jika kita melihat dari asal
katanya dalam Bahasa Arab memiliki arti jiwa atau
ruh. Yaa ayyatuha-n-nafsu-l-muthmainnah; wahai jiwa
yang tenang. Sehingga sangat aneh jika kemudian kita
menganalogikan bahwa hawa nafsu merupakan satu
kesatuan yang kemudian kita mengenal istilah
Syahwat. Sehingga, jika memang kita menganggap
Ramadlan sebagai sebuah arena pertandingan yang
dipuncaki dengan perayaan hari kemenangan, maka
bisa kita sepakati bahwa yang kita lawan pada saat
Ramadlan adalah Syahwat.
Kita analogikan saja seperti sebuah pertandingan
sepakbola, dimana dalam sebuah turnamen sudah
pasti harus ada satu kesebelasan yang harus menjadi
pemenang sehingga mereka yang kemudian berhak
menyandang status Sang Juara. Dalam sebuah
pertandingan sepakbola, dimana sebuah kesebelasan
diasuh oleh beberapa staff pelatih, mereka kemudian
menentukan 11 pemain terbaik yang akan diturunkan
ketika pertandingan berlangsung. Apakah hanya itu
saja? Tentu tidak. Seorang pelatih akan berfikir keras
untuk menentukan strategi permainan yang akan ia
instruksikan kepada 11 pemain pilihannya itu untuk
kemudian diaplikasikan selama 90 menit ketika
bertanding di lapangan. Bahkan tidak jarang seorang
pelatih menyiapkan lebih dari dua rencana strategi
untuk satu pertandingan.
Jikalau memang Ramadlan merupakan sebuah
turnamen bagi setiap individu melawan Syahwatnya,
apakah kemudian Syahwat yang ia kalahkan itu sudah
tidak akan bergejolak dan bangkit lagi setelah
Ramadlan berlalu?. Apakah ada jaminan bahwa dalam
11 bulan setelah Ramadlan, kita benar-benar sudah
sangat unggul atas Syahwat kita sendiri sehingga kita
dengan pongah merayakan hari kemenangan ketika
Idul Fitri tiba? Strategi seperti apa yang membuat diri
kita sangat yakin bahwa setelah Ramadlan kita benar-
benar mampu mengalahkan Syahwat? Dan pada
hakikatnya, Syahwat itu bukan hanya soal seks saja,seperti yang selama ini difahami oleh masyarakat.
Bahwa semua keinginan-keinginan kita, itu merupakan
Syahwat.

menemukannya


Bagi sang pencari ia akan menemukan cinta dlm hatinya, akan menemukan kasih dlm dirinya, dan sempurnya sang pencari adalah berbagi cinta dan kasih yg telah ia temukan dan rasakan. Bagi mereka yg telah menemukan cinta kasih, ia-lah yg sebenar-nya mengenal Tuhan-Nya dan mengenal diri sendiri, Ia mengentahui dan merasakan bahwa segala sesuatu bersumber dr cinta kasih, sehingga segala kejadian, keadaan (alam ciptaan) tdk ada yg tdk bermanfaat. Siang dan malam, baik dan buruk, hitam dan putih adalah kebenaran sang Cinta Kasih, untuk menunjukan keagungan-Nya dn mem-firmankan hikmah"-Nya bg mereka" yg mau berpikir.
Bagi-nya tdk ada realitas yg menjadi tempat setiap peristiwa berlangsung, dan tdk ada realitas yng lainya, kecuali cinta kasih. Bagi mereka yg sdh mengenal diri-nya, maka cinta kasih adalah perangi-nya, cinta kasih adalah perkataan-nya, cinta kasih adalah perbuatan dan ahlaq-nya.

**__BELAJAR DARI MERPATI__**




1. Merpati adalah burung yang tidak pernah mendua hati. Coba perhatikan,
apakah ada merpati yang suka berganti pasangan? Jawabannya adalah “tidak”!

Pasangannya cukup 1 seumur hidupnya.

2. Merpati adalah burung yang tahu kemana dia harus pulang. Betapapun merpati terbang jauh, dia tidak pernah tersesat untuk pulang. Pernahkah ada merpati yang pulang ke rumah lain? Jawabannya adalah “tidak”!


3. Merpati adalah burung yang romantis. Coba perhatikan ketika sang jantan bertalu-talu memberikan pujian, sementara sang betina tertunduk malu. Pernahkah kita melihat mereka saling mencaci? Jawabannya, “tidak”!


4. Burung merpati tahu bagaimana pentingnya bekerja sama. Coba perhatikan ketika mereka bekerja sama membuat sarang. Sang jantan dan betina saling silih berganti membawa ranting untuk sarang anak-anak mereka. Apabila sang betina mengerami, sang jantan berjaga di luar kandang. Dan apabila sang betina kelelahan, sang jantan gantian mengerami. Pernahkah kita melihat mereka saling melempar pekerjaannya? Jawabannya, “tidak”!


5. Merpati adalah burung yang tidak mempunyai empedu, ia tidak menyimpan “kepahitan” sehingga tidak menyimpan dendam. Jika seekor burung merpati bisa melakukan hal-hal di atas, mengapa
manusia tidak bisa? Hidup itu indah jika kita saling mengerti, berbagi, dan
menghargai! Setuju..?

3 Hal Yang Menakjubkan Dari Nama “Muhammad”

Assalamu'alaikum..

            Nama Rasul atau Nabi kita Nabi Muhammad SAW yang menurunkan wahyu Al-Qur’an dari ALLAH Swt, ternyata mengandung banyak rahasia loh didalamnya. Nama Muhammad banyak makna yang tersirat dalam nama yang Mulia itu. Mungkin itu merupakan satu mukjizat atau hanya kebetulan semata, entahlah . yang pasti saya ingin sedikit membahas 3 Hal Yang Menakjubkan Dari Nama “Muhammad”tersebut, karna faktanya ada yang menarik dari abjad atau huruf-huruf hijaiyah yang tersusun dari nama tersebut, oke simak ya.. :
1. Tulisan Nama Muhammad ( محمد  )
            Jika kita gabungkan dalam bentuk normal Mim Ha Mim Dal (diberdirikan/ditidurkan), maka akan menjadi sebuah seketsa seorang manusia. sudah maklum adanya bahwa sebaik-baik mahluk / ciptaan yang pernah diciptakan oleh ALLAH adalah manusia dengan kelebihan akal mereka, sementara mahluk lain hanyalah hayawan dan planet-planet yang penuh rahasia.
 
 
2. Tulisan Nama Ahmad  (أحمد )
           
       Jika kita perhatikan lebih teliti lagi, ke 4 huruf itu menggambarkan saat seseorang lagi solat 5 waktu, dan tahukah kalian bahwa solat merupakan sebaik-baik doa dan ibadah yang pernah diperintahkan ALLAH.
 
 
3. Tulisan Nama Muhammad ( محمد  )
         
       Lalu jika digabungkan kembali tulisan محمد itu, sama halnya seperti tulisan “Ahmad”, namun hanya saja tulisan “Muhammad” kali ini, seperti manusia sedang sujud dalam solat. Karna faktanya Sujud merupakan inti dari semua rukun-rukun solat, karna pada saat sujud manusia menundukkan 8 bagian tubuhnya di bumi bukti kepasrahan total kepada sang pencipta ALLAH Swt. .
 
 Subhanallah.. sungguh betapa besar rahasia ALLAH sangat menggetarkan hati, saya yakin masih banyak tersirat rahasia-rahaisa lain dibalik sosok, nama dan semua yang berkaitan dengan sang kekasih sejati 'Habibullah : Nabi Muhammad SAW', dan isi dari dunia ini (Ciptaan-Nya). Semoga artikel yang saya bahas ini bisa mencairkan hati kita semua, dan merenungkan, serta dapat menjadi karakter yang lebih baik lagi . aamin…
 
            Sedikit tambahan nih, Kalo ada orang yang Bernama Muhammad, mungkin yang namanya ingin  seperti Kata kata di Surat Al-Insyirah . Ayat : 4 Yang artinya, "Dan kami Tinggikan Sebutan namamu Muhammad " .
            mungkin itu saja yang bisa saya bahas dari 3 Hal Yang Menakjubkan Dari Nama “Muhammad”, kurang lebihnya mohon maaf, karna kkesempurnaan hanyalah milik ALLAH.. terima kasih atas kunjungannya.. ^^

Dzikrullah

Titik Terang Dzikrullah Ketika bunyi berbuah suara dari lisan kita, sesungguhnya tak ada bunyi lebih indah, lebih mulia dan lebih agung ketimbang bunyi dzikir. Suara yang muncul dari kerongkongan adalah nafas yang terjepit oleh organ, dan jika organ itu berdzikir, nafas jiwa pun berdzikir, sungguh suara itu adalah puncak dari segala suara. Bayangkan jika seluruh jaga semesta lahir dan batin berdzikir, anda dengarkan dzikir mereka semua, anda simpulkan dalam hatimu, kemudian anda kalikan berlipat ganda dengan jumlah seluruh semesta makhlukNya, sungguh tak habis-habisnya dzikir itu. Bahkan memang demikian. Dzikir berarti lawan alpa, seperti terang dan gelap, baik dan jahat, bahkan syurga dan neraka. Jika masih ada yang menolak dzikir, ia telah menolak Allah, syurga, rahmat dan fadhalNya, nur dan anugerah-anugerahNya. Ia menolak rizkiNya paling agung, menolak kebajikan dunia dan akhirat, bahkan telah sinis kepada Allah swt. Karena titik gelap di depan anda adalah alpa kepadaNya. Uang gelap di rumah jiwa anda adalah ruang senyap, hijab, busuk, penuh dengan racun mematikan. Dan itulah ruang alpa kepadaNya. Segera mengingatNya, kapan dan dimana saja, karena sejak Azali dahulu kala, Allah swt telah Mengingat anda.

FILOSOFI HATI

seorang guru sufi menyuruh muridnya mengambil segelas air dan membubuhi segenggam garam; kemudian menyuruh si murid meminum air dari gelas itu. "Bagaimana rasanya?" "Asin sangat, Guru...."
Lalu, sang guru mengajak si murid ke pinggir danau, kembali menyuruh si murid melakukan hal yang sama; menaburkan segenggam garam, menceduk air danau dengan telapak tangan dan meminumnya.
"Bagaimana rasanya?" "Segar, Guru...." "Begitulah hatimu, Nak! Jika ruang hatimu sempit menerima realita miris kehidupan, kau akan tersiksa. Sebaliknya, jika engkau melapangkan hatimu, niscaya takkan ada persoalan yang terlalu berat untuk diatasi." jika engkau memandang kehidupan ini
dengan persepsi negatif, hal apa pun akan membuatmu susah; jika engkau menerima realita apa pun
dalam hidupmu dengan persepsi positif, bahkan penderitaan pun akan kau rasa
indah terkadang kita teramat kesal menghadapi sifat egois seseorang ...
pernahkah engkau memancing ikan di sungai atau di laut?
ketika umpan pada mata kailmu ditelan ikan besar, jangan buru-buru engkau tarik jika tali pancingmu halus; bisa-bisa putus, ikan tak jadi kau dapat tetapi, longgarkan dulu tali pancingmu dan biarkan si ikan kelelahan sendiri;.pada saatnya engkau bisa menarik ikan pancinganmu dengan mudah.
artinya... dalam menghadapi orang yang egois, entah suami, isteri, anak-anak, kerabat atau sejawat; bersabarlah, ikuti apa maunya dalam batas yang wajar... pada saatnya engkau akan bisa melunakkan
sifat egois orang itu atau, pernahkah engkau bermain layang- layang?


manakala angin di angkasa bertiup kencang, lepaslah layang-layangmu dengan melonggarkan benang; jika habis sepuntaran, tambah dan sambung dengan puntaran berikutnya, tambah lagi dan
lagi ....
pada saatnya angin berhembus stabil, kau pun dapat mengendalikan layang-layang itu sesuai keinginanmu begitulah; kesabaran tak boleh ada batasnya .


salam kasih  untuk seluruh makhluk di buka bumi .




Atas nama cinta

Atas nama cinta, yang kurajut dari sisi kegelapan, dalam jerit kefakiran, dalam dangkalnya penghambaan.
ªkυ͡ ikhlaskan wahai malam, sehelai sukma mengukir tasbih, merenda tahmit, merangkai tahlil, mengalir dalam zikir ke-Akbaran-Mu.
ªkυ͡ tikamkan wahai bumi, sepucuk belati terhunus sendiri, merenda salawat pada lembar dan rimbun ayat-Mu.
Atas nama cinta, biarkan ªkυ͡ , cair dalam lembut-Mu, menyanyikan debur-debur syahdu, menjilat ridho keagungan-Mu.
Atas nama cinta jua, wahai Yang Maha Benar, izinkan ªkυ͡ menyongsong-Mu, meski kerdil kepahamanku, hitam tapak jemariku membalut kalis tubuhku.
Atas nama cinta, kucium ujung jemari kaki-Mu yang bening, tunduk takzim menyetarakan dahi dan kakiku.
Atas nama cinta, kuteguk anggur firdaus-Mu, berpeluk dalam ke-Akbaran-Mu, Subhanallah, Alhamdulilah, Laaila Haillallah, Allahu Akbar.

BHINNEKA TUNGGAL IKA KARUNIA YANG BESAR

Umat manusia tidak akan pernah bisa disatukan dgn agama di muka bumi ini, terlebih di zaman ini yg sudah sangat sangat jauh dari zaman kenabian, karena manusia itu akan selalu berselisih paham sampai kapanpun, dan itu sungguh manusiawi. Penyatuan dgn penyeragaman hanya akan menghadirkan pemaksaan dalam kehidupan manusia sedangkan pemaksaan itu adalah sesuatu yang tidak beradab, tidak sesuai dgn fitrah, tidak sesuai dgn peri kemanusiaan dan peri keadilan. Itulah sebabnya ada dikatakan: tidak ada paksaan dalam agama. Sedangkan semua manusia hakikatnya satu.

Persatuan menyeluruh umat manusia hanya dapat dilakukan dgn toleransi, penerimaan pada perbedaan, tidak mempermasalahkan perbedaan keyakinan dan pemikiran, saling menghormati perbedaan keyakinan dan pemikiran seberapapun besarnya perbedaan itu, saling menghormati KEMERDEKAAN utk berkeyakinan dan berpendapat. Inilah jalan masuknya sistem MUSYAWARAH MUFAKAT dalam kehidupan kita, yang kemudian berlanjut kepada KERAKYATAN atau DEMOKRASI, untuk mendapatkan kehidupan yang BERADAB, tidak saling memerangi antar sesama manusia (civilized).

Lalu untuk menjamin tidak ada pihak yang dirugikan oleh keyakinan dan pemikiran pihak lain manapun maka semua pihak semua golongan masyarakat bersepakat utk menghormati dan berdamai serta bersatu sbg satu kesatuan di dalam prinsip bersama: KEMANUSIAAN YANG ADIL & BERADAB dan KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA, yang didorongkan oleh budi pekerti luhur dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan demikian damai sejahtera akan meliputi bangsa ini dalam berkat dan rahmat yang besar.

BHINNEKA TUNGGAL IKA sungguh suatu ajaran persatuan yang sangat tinggi nilainya dan cara bersatu yang sangat-sangat BERADAB. Ia bukanlah hanya sekedar semboyan. Ia bahkan adalah CINTA. Cinta kepada sesama manusia. Saling menghormati kemerdekaan. Toleransi. Berdamai. Bersatu. Peri kemanusiaan. Peri keadilan. Dan gotong-royong.

Hanya di dalam BHINNEKA TUNGGAL IKA Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia dapat dilakukan dgn sebaik-baiknya. Bangsa yang mampu melakukan persatuan dalam keberagaman BHINNEKA TUNGGAL IKA sungguh bangsa itu telah mendapatkan karunia yang besar dari Tuhan Yang Maha Esa.

Makna di balik Manusia Haji


Meneropong makna yang tersembunyi dibalik simbolisasi
ritual haji tidak kalah penting dibandingkan dengan mendalami
persoalan haji dari ranah fiqhiyah(yurisprudensi Islam menyangkut tata cara dan aturan haji). Dengan
pemahaman makna atas simbol- simbol inilah calon haji atau penyandang gelar haji diharapkan akan termotivasi untuk menyelaraskan dirinya dengan makna-makna tersebut. Sehingga ia
tidak sekadar maqbul (sah secara ritual dan menggugurkan kewajiban) atau mabur (dalam bahasa Jawa berarti sekadar menikmati terbang dengan pesawat), atau bahkan mardud (ditolak ibadahnya oleh Allah SWT), melainkan secara sempurna meraih predikat mabrur. Mabrur yang berakar dari kata “al- birr” berarti kebaikan. Artinya, seseorang yang menghendaki predikat tersebut mesti mampu
mempertahankan nilai-nilai kebaikan
yang dijalankan, tak hanya di tanah
suci melainkan terus berlanjut
hingga kembali ke Tanah Air, bahkan
sampai ajal menjemput.
Dalam tengarai Van Gannep (1960),
prosesi haji adalah serangkaian ritus
keagamaan (rites de passage) yang
menjadi sarana perubahan efektif
seorang individu muslim dari posisi
tertentu sebelumnya ke posisi yang
lebih tinggi derajatnya; dari
orientasi individual menuju misi
sosial, dari kemewahan menuju
kesederhanaan, dari "kebengkokan"
menuju kehidupan yang lurus, dan
dari apatis menuju simpati bahkan
empati.
Memaknai Simbol
Ibadah haji bukan sekadar ritualitas-
verbal yang hampa makna,
melainkan juga mengandung
simbolisasi filosofis yang maknanya
“mengglobal”, yakni menyentuh
aktivitas kehidupan manusia sehari-
hari. Di antaranya:
Pertama, ihram. Pakaian ihram
menyimbolkan egalitarianisme
bahwa manusia tidak dipandang
dari pangkat, kedudukan dan
superioritas lainnya, melainkan
kadar ketakwaannya. (Q.S. Al-Hujurat
[49]: 13)
Demikian halnya dengan kain putih
yang dikenakan, mengingatkan
bahwa dengan kain itulah kelak
manusia akan dibalut sekujur
tubuhnya ketika mengakhiri
perjalanannya di dunia ini. Pakaian
putih juga bermakna bahwa kita
wajib menjaga kehormatan, kesucian
jiwa, dan keikhlasan semata karena-
Nya.
Kedua, thawaf. Thawaf merupakan
simbolisasi dinamisme dan
optimisme dalam kehidupan
manusia. Sebab, thawaf itu bergerak
dan tidak diam seraya terus berdoa
kepada Allah. Seakan-akan Allah
SWT memerintahkan kepada kita,
“Bergeraklah dalam kehidupan ini
untuk mencari kehidupan yang lebih
bermakna dan bermanfaat ke arah
yang lebih baik.”
Semangat thawaf sangat relevan
untuk membenahi bangsa yang
tengah karut-marut ini. Optimisme
dan dinamisme hidup mutlak
diperlukan untuk melepaskan
bangsa dari krisis yang
berkepanjangan dan
multidimensional. Jangan hanya
pandai mengeluh dan memprotes
tanpa dibarengi semangat berusaha.
Semua unsur masyarakat di negeri
ini hendaknya melakukan “gerakan
tawaf” untuk menjadikan bangsa ini
lebih makmur, bermartabar dan
berkeadilan. Atau dalam bahasa
Alquran disebut baldatun
thayyibatun wa rabbun ghafur (Q.S.
Saba’ [34]: 15)
Ketiga, wukuf. Wukuf di Padang
Arafah merupakan salah satu rukun
terpenting dari rangkaian ibadah
haji. Bahkan Nabi SAW menegaskan,
"Al-hajju Arafah (pokok dari haji
adalah wukuf di Arafah)". Sayyid
Sabiq dalam al-Fiqh al-Sunnah
menyebutkan, wukuf merupakan
ibadah yang unik, tidak disyaratkan
suci sebagaimana shalat. Dalam
kondisi bagaimana pun, suci
ataupun tidak (junub atau
menstruasi), semua harus hadir.
Pada tanggal 9 Zulhijjah, lebih dari
dua juta umat manusia akan
berkonsentrasi di satu tempat yang
luas, gersang dan panas, yakni
Arafah. Ini merupakan refleksi
pusaran hidup manusia yang
menyimbolkan bahwa manusia kelak
dikumpulkan di Padang Mahsyar
(Q.S. al-An’am [6]:51) untuk
mempertanggungjawabkan seluruh
amalannya di dunia.
Secara harfiyah, wukuf berarti rehat,
istirahat, jeda atau break. Makna
yang dapat dipetik adalah, dalam
rangkaian hidup yang penuh intrik
dan ilusif ini manusia memerlukan
masa rehat. Rehat yang dimaksud
adalah manusia mesti
mengistirahatkan tenaga dan
pikirannya dari aktivitas perburuan
duniawi. Meski hanya sesaat,
hendaklah manusia melakukan
kontemplasi dengan ber-tafakkur
dan muhasabah.
Keempat, melontar Jumrah di Mina.
‘Mina’ dalam bahasa Arab berarti
cita-cita. Artinya, untuk menggapai
cita-cita luhur dan derajat tinggi di
sisi-Nya, terlebih dahulu manusia
harus mampu memerangi iblis dan
pasukan setan dengan jihad akbar
(perjuangan besar), yaitu
mengendalikan hawa nafsu agar
tunduk dan patuh hanya kepada-
Nya.
Simbolisasi jihad akbar ini tercermin
pula dalam ritual kurban, yang
secara harfiah berarti dekat. Kurban
merupakan puncak perayaan ibadah
haji dengan menyembelih hewan
kurban sebagai upaya taqarrub
(mendekatkan diri) kepada Allah
SWT. Ritualitas ini dilakukan setelah
shalat Idul Adha dilaksanakan.
Ritual ini merupakan simbol upaya
menyembelih “nafsu kebinatangan”
yang ada dalam diri kita selaku
manusia. Rasa egoisme,
dehumanisme dan tindakan amoral
merupakan kumpulan sifat-sifat
kebinatangan dalam diri yang wajib
dibuang.
Kelima, sa'i. Ia merupakan simbol
penyempurna sikap optimisme dan
dinamisme dalam hidup. Sa'i
merupakan simbol perjuangan untuk
meraih sesuatu (kala itu zamzam).
Ritual ini diadopsi dari peristiwa Siti
Hajar yang berlari-lari antara Shafa
dan Marwa guna mencari air untuk
putranya Ismail yang sedang
kehausan.
Ini merupakan cerminan bagi kita
agar selalu berusaha dan memiliki
etos kerja yang tinggi. Menyerah
dengan kondisi dan keadaan
bukanlah cerminan ajaran Islam. Jika
semangat sa'i ini kita terapkan
secara konsekuen dalam hal apa
pun, maka grafik dinamisasi umat
Islam lebih tinggi dibandingkan
umat-umat lainnya.
Perjalanan sa’i sebanyak tujuh kali
ini diawali dari Bukit Shafa --yang
arti harfiyahnya adalah kesucian dan
ketegaran—melambangkan perlunya
manusia mencapai kehidupan
melalui usaha yang penuh kesucian
dan ketegaran. Dan berakhir di
Marwah --yang berarti ideal--
melambangkan adanya tujuan ideal
yang mesti dicapai manusia dalam
setiap denyut nadi dan tarikan
nafasnya di dunia ini. Namun, ada
pula yang mengaitkan kata Marwah
dengan “muru’ah” yang berarti
pemeliharaan harga diri.
Kerampungan ritual haji ditandai
dengan mencukur rambut (al-halqu)
atau sekadar memotong beberapa
helai saja (al-taqshir). Ritual ini
disebut tahallul (Q.S. Al-Fath [48]:
27). Serampung ritual inilaah,
manusia dituntut untuk menutup
masa lalu dan membuka catatan
kehidupan baru yang lebih baik dan
diridlai oleh-Nya. Bukannya menjadi
haji "tomat"; berangkat haji berniat
tobat, e... sepulang haji malah
kumat.
Penutup
Memaknai simbol-simbol haji dalam
bahasa universal dan global tidak
hanya penting bagi pelaku ibadah
haji, namun juga amat bermanfaat
bagi yang belum mendapatkan
kesempatan menjalankan ibadah itu.
Dalam memandang haji, hendaknya
kita tidak berhenti pada aspek-aspek
teknis atau ritualitas verbal,
melainkan meluaskan pandangan itu
pada makna-makna terdalam di
baliknya. Sehingga haji tidak
tereduksi maknanya sebatas
selebrasi, melainkan berkontribusi
positif dan berkait erat dengan
dimensi sosial serta nilai-nilai
transformatif baik individual
maupun kolektif.
Wallahu a'lam