JATUH CINTA & BANGUN CINTA
Budaya untuk anak
Eforia Maulid Nabi saw
Islam itu agama Rahmat
memiliki kelebihan juga kekurangan. Ia tidak akan terlepas dari yang namanya baik dan buruk. Tidak
ada manusia yang selalu benar juga tidak ada manusia yang selalu salah. Baik dan buruk melekat
pada dirinya. Maka tidak pantas diantara manusia menyombongkan kebaikan atau kelebihannya dan
mencela kekurangan yang lainnya. Selevel ulama pun tidak lepas dari salah dan dosa.
Apapun bisa dilakukan Allah SWT, sejahat apapun manusia bisa sekejap mata menjadi soleh jika sudah dikehendaki-Nya. Begitupun sebaliknya orang soleh dengan sekejap mata bisa menjadi jahat jika sudaha dikehendaki-Nya. Tetap do'akan dan sabar dalam berusaha memberikan stimulan perubahan positif padanya.
Menilai manusia jangan dari tampang fisiknya, melainkan dari dalam hatinya. Begitu dalamnya hati
maka tidak ada manusia yang bisa mengetahui isi hati. Maka kita jangan tergesa-gesa memvonis
seseorang itu baik atau juga buruk. Kita harus mengenal seseorang itu dengan mendalam, artinya
kita akan tahu karakter baik atau buruknya seseorang setelah kita benar-benar sudah mengenalnya dengan baik.
Bisa saja tampangnya cakep dan cantik tapi ternyata hatinya busuk, begitu pula bisa saja tampangnya jelek dan dekil tapi ternyata hatinya berlian. Perasangka hanya membuat hati dan pikiran kita menjadi kotor sehingga mudah memvonis seseorang sebelum mengenalnya dengan baik. Lakukanlah pendekatan yang baik dan kenalillah seseorang dengan baik sehingga kita tahu karakter dia yang sebenarnya. Berteman dengan siapa saja tapi kita harus tahu siapa diantara teman kita yang bisa dijadikan sahabat baik.
Karena manusia memiliki kekurangan bukan berarti kita harus minder justru jadikanlah kekurangan itu sebagai kelebihan. Manfaatkan waktu untuk terus mengasah diri agar diri kita berkembang dan maju.
hidup yang menghadang kita. Mudah putus asa hanya akan menambah dan memperumit masalah.
Sudah tidak zamannya lagi menyombongkan kelebihan diri sendiri dan mencela kekurangan orang
lain. Sebaiknya kita intropeksi diri apakah kita sudah benar-benar menjadi baik atau belum. Rajin
memperbaiki diri dan membantu orang lain yang kesulitan akan membuka lebar pintu kesuksesan kita.
memiliki potensi untuk berubah menjadi lebih baik. Ingat...
RAMADLAN BARU SAJA BERLALU -atau kita yang
meninggalkannya?- dari hadapan kita, kemudian kita
menyambut Syawwal dengan takbir yang membahana
dan gegap gempita. Bukan hanya tabuhan beduk saja
yang mengiringi takbir ketika malam terakhir
Ramadlan, erangan knalpot motor hingga letusan
kembang api menghiasi langit pada malam 30
Ramadlan lalu. Dengan tajuk menyambut hari
kemenangan, sebagian besar masyarakat kita
merayakannya dengan gembira. Kemenangan atas
siapa?
Jika memang disebut sebagai hari kemenangan, maka
pasti ada pihak yang harus dikalahkan bukan? Lantas
siapa yang kita kalahkan selama 30 hari kita
berpuasa? Sedangkan para ustadz seringkali
mengatakan kepada kita bahwa pada bulan Ramadlan
maka setan akan dipenjara didalam neraka. Lantas
dalam turnamen Ramadlan lalu sebenarnya kita
mengalahkan siapa sehingga ketika Idul Fitri tiba kita
dengan bangga menyebut sebagai hari kemenangan?
Maka, selain menahan lapar dan haus, jawaban kita
akan tertuju pada; Hawa Nafsu.
Mungkin karena sudah terlalu banyak masyarkaat kita
terbiasa dalam kesalahan memposisikan sebuah kata
sehingga akhirnya banyak dari kita menganggap
bahwa Hawa Nafsu merupakan satu kesatuan.
padahal sebenarnya berbeda. Hawa sendiri jika kita
tarik dari asal katanya, dalam kosakata Bahasa Arab
memiliki arti keinginan, kehendak atau hasrat. Hawa
inilah yang sebenarnya kemudian identik dengan
Syahwat. Sedangkan Nafsu, jika kita melihat dari asal
katanya dalam Bahasa Arab memiliki arti jiwa atau
ruh. Yaa ayyatuha-n-nafsu-l-muthmainnah; wahai jiwa
yang tenang. Sehingga sangat aneh jika kemudian kita
menganalogikan bahwa hawa nafsu merupakan satu
kesatuan yang kemudian kita mengenal istilah
Syahwat. Sehingga, jika memang kita menganggap
Ramadlan sebagai sebuah arena pertandingan yang
dipuncaki dengan perayaan hari kemenangan, maka
bisa kita sepakati bahwa yang kita lawan pada saat
Ramadlan adalah Syahwat.
Kita analogikan saja seperti sebuah pertandingan
sepakbola, dimana dalam sebuah turnamen sudah
pasti harus ada satu kesebelasan yang harus menjadi
pemenang sehingga mereka yang kemudian berhak
menyandang status Sang Juara. Dalam sebuah
pertandingan sepakbola, dimana sebuah kesebelasan
diasuh oleh beberapa staff pelatih, mereka kemudian
menentukan 11 pemain terbaik yang akan diturunkan
ketika pertandingan berlangsung. Apakah hanya itu
saja? Tentu tidak. Seorang pelatih akan berfikir keras
untuk menentukan strategi permainan yang akan ia
instruksikan kepada 11 pemain pilihannya itu untuk
kemudian diaplikasikan selama 90 menit ketika
bertanding di lapangan. Bahkan tidak jarang seorang
pelatih menyiapkan lebih dari dua rencana strategi
untuk satu pertandingan.
Jikalau memang Ramadlan merupakan sebuah
turnamen bagi setiap individu melawan Syahwatnya,
apakah kemudian Syahwat yang ia kalahkan itu sudah
tidak akan bergejolak dan bangkit lagi setelah
Ramadlan berlalu?. Apakah ada jaminan bahwa dalam
11 bulan setelah Ramadlan, kita benar-benar sudah
sangat unggul atas Syahwat kita sendiri sehingga kita
dengan pongah merayakan hari kemenangan ketika
Idul Fitri tiba? Strategi seperti apa yang membuat diri
kita sangat yakin bahwa setelah Ramadlan kita benar-
benar mampu mengalahkan Syahwat? Dan pada
hakikatnya, Syahwat itu bukan hanya soal seks saja,seperti yang selama ini difahami oleh masyarakat.
Bahwa semua keinginan-keinginan kita, itu merupakan
Syahwat.
menemukannya
Bagi sang pencari ia akan menemukan cinta dlm hatinya, akan menemukan kasih dlm dirinya, dan sempurnya sang pencari adalah berbagi cinta dan kasih yg telah ia temukan dan rasakan. Bagi mereka yg telah menemukan cinta kasih, ia-lah yg sebenar-nya mengenal Tuhan-Nya dan mengenal diri sendiri, Ia mengentahui dan merasakan bahwa segala sesuatu bersumber dr cinta kasih, sehingga segala kejadian, keadaan (alam ciptaan) tdk ada yg tdk bermanfaat. Siang dan malam, baik dan buruk, hitam dan putih adalah kebenaran sang Cinta Kasih, untuk menunjukan keagungan-Nya dn mem-firmankan hikmah"-Nya bg mereka" yg mau berpikir.
**__BELAJAR DARI MERPATI__**
1. Merpati adalah burung yang tidak pernah mendua hati. Coba perhatikan,
apakah ada merpati yang suka berganti pasangan? Jawabannya adalah “tidak”!
Pasangannya cukup 1 seumur hidupnya.
2. Merpati adalah burung yang tahu kemana dia harus pulang. Betapapun merpati terbang jauh, dia tidak pernah tersesat untuk pulang. Pernahkah ada merpati yang pulang ke rumah lain? Jawabannya adalah “tidak”!
3. Merpati adalah burung yang romantis. Coba perhatikan ketika sang jantan bertalu-talu memberikan pujian, sementara sang betina tertunduk malu. Pernahkah kita melihat mereka saling mencaci? Jawabannya, “tidak”!
4. Burung merpati tahu bagaimana pentingnya bekerja sama. Coba perhatikan ketika mereka bekerja sama membuat sarang. Sang jantan dan betina saling silih berganti membawa ranting untuk sarang anak-anak mereka. Apabila sang betina mengerami, sang jantan berjaga di luar kandang. Dan apabila sang betina kelelahan, sang jantan gantian mengerami. Pernahkah kita melihat mereka saling melempar pekerjaannya? Jawabannya, “tidak”!
5. Merpati adalah burung yang tidak mempunyai empedu, ia tidak menyimpan “kepahitan” sehingga tidak menyimpan dendam. Jika seekor burung merpati bisa melakukan hal-hal di atas, mengapa
manusia tidak bisa? Hidup itu indah jika kita saling mengerti, berbagi, dan
menghargai! Setuju..?
3 Hal Yang Menakjubkan Dari Nama “Muhammad”
Assalamu'alaikum..
Dzikrullah
Titik Terang Dzikrullah Ketika bunyi berbuah suara dari lisan kita, sesungguhnya tak ada bunyi lebih indah, lebih mulia dan lebih agung ketimbang bunyi dzikir. Suara yang muncul dari kerongkongan adalah nafas yang terjepit oleh organ, dan jika organ itu berdzikir, nafas jiwa pun berdzikir, sungguh suara itu adalah puncak dari segala suara. Bayangkan jika seluruh jaga semesta lahir dan batin berdzikir, anda dengarkan dzikir mereka semua, anda simpulkan dalam hatimu, kemudian anda kalikan berlipat ganda dengan jumlah seluruh semesta makhlukNya, sungguh tak habis-habisnya dzikir itu. Bahkan memang demikian. Dzikir berarti lawan alpa, seperti terang dan gelap, baik dan jahat, bahkan syurga dan neraka. Jika masih ada yang menolak dzikir, ia telah menolak Allah, syurga, rahmat dan fadhalNya, nur dan anugerah-anugerahNya. Ia menolak rizkiNya paling agung, menolak kebajikan dunia dan akhirat, bahkan telah sinis kepada Allah swt. Karena titik gelap di depan anda adalah alpa kepadaNya. Uang gelap di rumah jiwa anda adalah ruang senyap, hijab, busuk, penuh dengan racun mematikan. Dan itulah ruang alpa kepadaNya. Segera mengingatNya, kapan dan dimana saja, karena sejak Azali dahulu kala, Allah swt telah Mengingat anda.
FILOSOFI HATI
seorang guru sufi menyuruh muridnya mengambil segelas air dan membubuhi segenggam garam; kemudian menyuruh si murid meminum air dari gelas itu. "Bagaimana rasanya?" "Asin sangat, Guru...."
Lalu, sang guru mengajak si murid ke pinggir danau, kembali menyuruh si murid melakukan hal yang sama; menaburkan segenggam garam, menceduk air danau dengan telapak tangan dan meminumnya.
"Bagaimana rasanya?" "Segar, Guru...." "Begitulah hatimu, Nak! Jika ruang hatimu sempit menerima realita miris kehidupan, kau akan tersiksa. Sebaliknya, jika engkau melapangkan hatimu, niscaya takkan ada persoalan yang terlalu berat untuk diatasi." jika engkau memandang kehidupan ini
dengan persepsi negatif, hal apa pun akan membuatmu susah; jika engkau menerima realita apa pun
dalam hidupmu dengan persepsi positif, bahkan penderitaan pun akan kau rasa
indah terkadang kita teramat kesal menghadapi sifat egois seseorang ...
pernahkah engkau memancing ikan di sungai atau di laut?
ketika umpan pada mata kailmu ditelan ikan besar, jangan buru-buru engkau tarik jika tali pancingmu halus; bisa-bisa putus, ikan tak jadi kau dapat tetapi, longgarkan dulu tali pancingmu dan biarkan si ikan kelelahan sendiri;.pada saatnya engkau bisa menarik ikan pancinganmu dengan mudah.
artinya... dalam menghadapi orang yang egois, entah suami, isteri, anak-anak, kerabat atau sejawat; bersabarlah, ikuti apa maunya dalam batas yang wajar... pada saatnya engkau akan bisa melunakkan
sifat egois orang itu atau, pernahkah engkau bermain layang- layang?
manakala angin di angkasa bertiup kencang, lepaslah layang-layangmu dengan melonggarkan benang; jika habis sepuntaran, tambah dan sambung dengan puntaran berikutnya, tambah lagi dan
lagi ....
pada saatnya angin berhembus stabil, kau pun dapat mengendalikan layang-layang itu sesuai keinginanmu begitulah; kesabaran tak boleh ada batasnya .
salam kasih untuk seluruh makhluk di buka bumi .
Atas nama cinta
Atas nama cinta, yang kurajut dari sisi kegelapan, dalam jerit kefakiran, dalam dangkalnya penghambaan.
ªkυ͡ ikhlaskan wahai malam, sehelai sukma mengukir tasbih, merenda tahmit, merangkai tahlil, mengalir dalam zikir ke-Akbaran-Mu.
ªkυ͡ tikamkan wahai bumi, sepucuk belati terhunus sendiri, merenda salawat pada lembar dan rimbun ayat-Mu.
Atas nama cinta, biarkan ªkυ͡ , cair dalam lembut-Mu, menyanyikan debur-debur syahdu, menjilat ridho keagungan-Mu.
Atas nama cinta jua, wahai Yang Maha Benar, izinkan ªkυ͡ menyongsong-Mu, meski kerdil kepahamanku, hitam tapak jemariku membalut kalis tubuhku.
Atas nama cinta, kucium ujung jemari kaki-Mu yang bening, tunduk takzim menyetarakan dahi dan kakiku.
Atas nama cinta, kuteguk anggur firdaus-Mu, berpeluk dalam ke-Akbaran-Mu, Subhanallah, Alhamdulilah, Laaila Haillallah, Allahu Akbar.
BHINNEKA TUNGGAL IKA KARUNIA YANG BESAR
Umat manusia tidak akan pernah bisa disatukan dgn agama di muka bumi ini, terlebih di zaman ini yg sudah sangat sangat jauh dari zaman kenabian, karena manusia itu akan selalu berselisih paham sampai kapanpun, dan itu sungguh manusiawi. Penyatuan dgn penyeragaman hanya akan menghadirkan pemaksaan dalam kehidupan manusia sedangkan pemaksaan itu adalah sesuatu yang tidak beradab, tidak sesuai dgn fitrah, tidak sesuai dgn peri kemanusiaan dan peri keadilan. Itulah sebabnya ada dikatakan: tidak ada paksaan dalam agama. Sedangkan semua manusia hakikatnya satu.
Persatuan menyeluruh umat manusia hanya dapat dilakukan dgn toleransi, penerimaan pada perbedaan, tidak mempermasalahkan perbedaan keyakinan dan pemikiran, saling menghormati perbedaan keyakinan dan pemikiran seberapapun besarnya perbedaan itu, saling menghormati KEMERDEKAAN utk berkeyakinan dan berpendapat. Inilah jalan masuknya sistem MUSYAWARAH MUFAKAT dalam kehidupan kita, yang kemudian berlanjut kepada KERAKYATAN atau DEMOKRASI, untuk mendapatkan kehidupan yang BERADAB, tidak saling memerangi antar sesama manusia (civilized).
Lalu untuk menjamin tidak ada pihak yang dirugikan oleh keyakinan dan pemikiran pihak lain manapun maka semua pihak semua golongan masyarakat bersepakat utk menghormati dan berdamai serta bersatu sbg satu kesatuan di dalam prinsip bersama: KEMANUSIAAN YANG ADIL & BERADAB dan KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA, yang didorongkan oleh budi pekerti luhur dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan demikian damai sejahtera akan meliputi bangsa ini dalam berkat dan rahmat yang besar.
BHINNEKA TUNGGAL IKA sungguh suatu ajaran persatuan yang sangat tinggi nilainya dan cara bersatu yang sangat-sangat BERADAB. Ia bukanlah hanya sekedar semboyan. Ia bahkan adalah CINTA. Cinta kepada sesama manusia. Saling menghormati kemerdekaan. Toleransi. Berdamai. Bersatu. Peri kemanusiaan. Peri keadilan. Dan gotong-royong.
Hanya di dalam BHINNEKA TUNGGAL IKA Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia dapat dilakukan dgn sebaik-baiknya. Bangsa yang mampu melakukan persatuan dalam keberagaman BHINNEKA TUNGGAL IKA sungguh bangsa itu telah mendapatkan karunia yang besar dari Tuhan Yang Maha Esa.
Makna di balik Manusia Haji







