Kata puasa sudah sangat
lazim kita kenal sebagai kegiatan atau ibadah tidak makan dan tidak
minum. Namun apakah kita tahun arti kata puasa itu sendiri?
Puasa berasal dari dua kata dalam bahasa Sansekerta, yaitu: upa dan
wasa. Upa, semacam perfiks yang berarti dekat. Wasa berarti Yang Maha
Kuasa, seperti umat Hindu di Indonesia menyebut Sang Hyang Widhi Wasa.
Jadi upawasa, atau yang kemudian pengucapannya
menjadi puasa, tidak lain daripada cara mendekatkan diri dengan Tuhan.
Sebagai cara untuk mendekatkan diri dengan Tuhan, puasa adalah pelatihan
mental dan spiritual yang bertujuan mengubah sikap dan kejiwaan
manusia. Sikap yang diubah adalah sikap yang buruk, sehingga menjadi
baik. Jadi puasa berkaitan dengan sebuah pelatihan sikap spiritual
melalui pelatihan badani. Orang yang berpuasa adalah orang yang terus
melatih diri menjadi baru di dalam sikap.
Oleh karena itu,
hanya berpuasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga
mengontrol emosi, kata-kata, tindakan, pikiran, dan perilaku. Orang yang
berpuasa adalah orang yang sadar diri dan selalu berada di dalam
pengendalian diri. Sikapnya terlatih untuk terkendali dari bersikap
sembrono, atau mengambil keputusan secara asal-asalan, atau bertindak
ngawur. Orang yang dapat mengendalikan diri dari hawa nafsu makan dan
minum adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya.
Bahasa
Yunani untuk puasa adalah nestuo, berasal dari dua kata ne dan esteia,
artinya tidak makan. Sekalipun tampaknya hanya soal tidak makan, namun
Yesus menekankan yang lebih daripada itu. “Apabila kamu berpuasa,
janganlah muram mukamu seperti orang menafik” (Mat 6:16). Artinya, puasa
hati atau puasa batin, yakni pembaruan seluruh diri itulah yang
ditekankan oleh Yesus. “Bapamu melihat yang tersembunyi” (Mat 6:18).
Dengan demikian, puasa – terutama dalam agama Hindu – dipahami sebagai
sarana, cara, atau metode untuk mencapai sesuatu. Dalam mencapai sesuatu
itu adalah dengan mengendalikan sikap sehingga menjadi baru. Orang yang
terkendali sikapnya adalah laksana orang yang berada di dekat Tuhan.
Siapa pun tidak akan urakan atau liar jika berada di dekat Sang Maha
Agung. Oleh karena itu, sifat puasa adalah sakral, karena dihubungkan
dengan niat mendekatkan diri kepada Tuhan. Orang yang berpuasa adalah
orang yang secara tulus menyelaraskan diri dengan sifat Tuhan.
Berdasarkan pengertiannya, puasa tidak bertujuan pada dirinya atau untuk
berdiet, melainkan bertujuan untuk membarui sikap iman melalui
pelatihan spiritualitas. Orang Kristen yang berpuasa adalah orang yang
bersikap takut hanya kepada Tuhan di dalam berperilaku dan bersikap
dalam dunia sesehari. Takut dan hormat adalah sikap orang yang berada di
dekat Tuhan.
Selamat Berpuasa untuk sahabat mulim
05.23
|
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar :
Posting Komentar