Untuk mengkaji makna berpikir
dan berasionisasi dalam al-Quran,
pertama-tama, kita harus melihat
secara global makna “akal” yang
disebutkan dalam beberapa
literatur Islam dan dengan
pendekatan ini kemudian kita
dapat meninjau secara lebih akurat
pada ayat-ayat al-Quran terkait
dengan berpikir dan
menggunakan akal dalam al-Quran.
Akal dan pikiran merupakan
karunia paling mulia yang
diberikan Allah Swt kepada
manusia. Orang-orang yang tidak
berpikir dan menolak untuk
menghamba kepada Tuhan,
dipandang sebagai mahkluk yang
lebih buruk daripada binatang.[1]
Akal dalam pandangan al-Quran
dan riwayat, bukanlah semata-
mata akal kalkulatif dan logika
Aristotelian. Keduanya meski dapat
menjadi media bagi akal namun
tidak mencakup semuanya.
Karena itu, berulang kali al-Quran
menyebutkan bahwa kebanyakan
orang tidak berpikir, atau tidak
menggunakan akalnya; sementara
kita tahu bahwa kebanyakan
manusia melakukan pekerjaannya
dengan berhitung dan kalkulatif
pada seluruh urusannya.
Memandang sama akal dan
berpikir kalkulatif merupakan
sebuah kesalahan epistemologis.
Bahkan melakukan komparasi dan
memiliki kemampuan berhitung
semata-mata merupakan salah satu
media permukaan akal yang lebih
banyak berurusan pada masalah
angka-angka dan kuantitas.
Namun untuk mencerap realitas-
realitas segala sesuatu, baik dan
buruk, petunjuk dan kesesatan,
kesempurnaan dan kebahagiaan,
dan lain sebagainya diperlukan
cahaya yang disebut sebagai
sebuah anasir Ilahi yang
terpendam dalam diri manusia.
Anasir ini adalah akal dan fitrah
manusia dalam artian sebenarnya.
Sebagaimana sesuai dengan sabda
Imam Ali As bahwa nabi-nabi
diutus adalah untuk menyemai
khazanah akal manusia.[2]
Dalam Islam, akal dan agama[3]
adalah satu hakikat tunggal dan
sesuai dengan sebagian riwayat,
dimanapun akal berada maka
agama akan selalu mendampingi,
[4] tidak ada jarak yang terbentang
antara iman dan kekurufan kecuali
dengan kurangnya akal.[5]
Menggunakan pikiran dan akal
dapat digunakan di jalan benar
dan tepat apabila digunakan
dalam rangka ibadah dan
penghambaan. Imam Shadiq As
ditanya tentang apakah akal itu?”
Imam Shadiq As menjawab,
“Sesuatu yang dengannya Tuhan
disembah dan surga diraih.”[6]
Berdasarkan hal ini, harap
diperhatikan, berpikir dalam al-
Quran tidak serta merta bermakna
menggunakan akal yang dikenal
secara terminologis. Tatkala al-
Quran menyeru untuk berpikir dan
merenung dalam rangka
penghambaan yang lebih serta
terbebas dari belenggu kegelapan
dan kesilaman jiwa, boleh jadi
merupakan salah satu tanda
berpikir dan berasionisasi.
Dalam pandangan ini, kedudukan
akal dan pikiran sedemikian tinggi
dan menjulang sehingga Allah Swt
dalam al-Quran, tidak sekali pun
menyuruh hamba-Nya untuk tidak
berpikir atau menempuh jalan
secara membabi buta.[7]
Menurut Allamah Thabathabai, Allah
Swt dalam al-Quran menyeru
manusia sebanyak lebih dari tiga
ratus kali untuk menggunakan dan
memberdayakan anugerah
pemberian Tuhan ini,[8] dimana
ayat-ayat ini dapat diklasifikasikan
secara ringkas sebagaimana
berikut:
Mencela secara langsung manusia
yang tidak mau berpikir:
Pada kebanyakan ayat al-Quran,
Allah Swt menghukum manusia
disebabkan karena mereka tidak
berpikir. Dengan beberapa
ungkapan seperti, “afalâ ta’qilun”,
“afalâ tatafakkarun”, “afalâ
yatadabbaruna al-Qur’ân”,[9] Allah
Swt mengajak mereka untuk
berpikir dan menggunakan
akalnya.
Ajakan untuk berpikir dalam
pembahasan-pembahasan tauhid:
Allah Swt menggunakan ragam
cara untuk mengajak manusia
berpikir tentang keesaan Allah Swt;
seperti pada ayat, “Sekiranya ada di
langit dan di bumi tuhan-tuhan
selain Allah, tentulah keduanya itu
telah rusak binasa. Maka Maha Suci
Allah yang mempunyai ‘Arasy dari
apa yang mereka sifatkan.” (Qs. Al-
Anbiya [21]:22)[10] dan
“Katakanlah, “Mengapa kamu
menyembah selain dari Allah,
sesuatu yang tidak dapat memberi
mudarat kepadamu dan tidak
(pula) mendatangkan manfaat
bagimu? Dan Allah-lah Yang Maha
Mendengar lagi Maha
Mengetahui.” (Qs. Al-Maidah [5]:76)
serta ayat-ayat yang menyinggung
tentang kisah Nabi Ibrahim As
dalam menyembah secara lahir
matahari, bulan dan bintang-
bintang, semua ini dibeberkan
sehingga manusia-manusia jahil
dapat tergugah pikirannya terkait
dengan ketidakmampuan tuhan-
tuhan palsu.[11] Dengan demikian,
Allah Swt mengajak manusia untuk
merenungkan dan memikirkan
ucapan dan ajakan para nabi,
“Apakah mereka tidak memikirkan
bahwa teman mereka
(Muhammad) tidak berpenyakit
gila? Ia (Muhammad itu) tidak lain
hanyalah seorang pemberi
peringatan yang nyata (yang
bertugas mengingatkan umat
manusia terhadap tugas-tugas
mereka). “(Qs. Al-A’raf [7]:184);
“Katakanlah, “Sesungguhnya aku
hendak memperingatkan
kepadamu suatu hal saja, yaitu
supaya kamu menghadap Allah
(dengan ikhlas) berdua-dua atau
sendiri-sendiri; kemudian kamu
pikirkan (tentang Muhammad)
tidak ada penyakit gila sedikit pun
pada kawanmu itu. Dia tidak lain
hanyalah pemberi peringatan
bagimu sebelum (menghadapi)
azab yang keras.” (Qs. Al-Saba
[34]:46)
Berpikir
05.25
|
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar :
Posting Komentar