“Suatu
hari ada email masuk ke mailbox saya, ternyata isinya adalah sindiran
mengenai perilaku manusia, saya rasa perlu kita cermati, jangan sampai
kita seperti yang tertulis didalamnya, dalam email tersebut tertulis:”
Diawal zaman, Allah menciptakan seekor sapi. Beliau berkata kepada sang
sapi "Hari ini kuciptakan kau! Sebagai sapi engkau harus pergi kepadang
rumput. Kau harus bekerja dibawah terik matahari sepanjang hari.
Kutetapkan umurmu sekitar 50 tahun". Sang Sapi keberatan, "Kehidupanku
akan sangat berat selama 50 tahun. Kiranya 20 tahun cukuplah buatku.
Kukembalikan kepadamu yang 30 tahun". Maka setujulah Allah.
Dihari kedua, Allah menciptakan monyet. "Hai monyet, hiburlah manusia.
Aku berikan kau umur 20 tahun!" Sang monyet menjawab "Apa? Menghibur
mereka dan membuat mereka tertawa? 10 tahun cukuplah. Kukembalikan 10
tahun padamu". Maka setujulah Allah.
Dihari ketiga,
Allah menciptakan anjing. "Apa yang harus kau lakukan adalah menjaga
pintu rumah majikanmu. Setiap orang mendekat kau harus menggongongnya.
Untuk itu kuberikan hidupmu selama 20 tahun!" Sang anjing menolak,
"Menjaga pintu sepanjang hari selama 20 tahun? Tidak mau! Kukembalikan
10 tahun padamu". Maka setujulah Allah.
Dihari
keempat, Allah menciptakan manusia. Sabda Allah, "Tugasmu adalah makan,
tidur, dan bersenang-senang. Inilah kehidupan. Kau akan menikmatinya.
Akan kuberikan engkau umur sepanjang 20 tahun!" Sang manusia keberatan,
katanya "Menikmati kehidupan selama 20 tahun? Itu terlalu pendek Allah.
Begini saja, karena sapi mengembalikan 30 tahun usianya, lalu anjing
mengembalikan 10 tahun, dan monyet mengembalikan 10 tahun usianya
padamu, berikanlah semuanya itu padaku. Semua itu akan menambah masa
hidupku menjadi 70 tahun. Setuju?" Maka setujulah Allah.
AKIBATNYA......
Pada 20 tahun pertama kehidupan, kita makan, tidur dan
bersenang-senang. 30 tahun berikutnya, kita harus bekerja keras
sepanjang hari untuk menopang keluarga kita. 10 tahun kemudian kita
menghibur dan membuat cucu kita tertawa dengan berperan sebagai monyet.
Dan 10 tahun berikutnya kita tinggal dirumah, duduk didepan pintu, dan
menggonggong kepada orang yang lewat.
“Begitulah,
tentu kita sebagai manusia yang sebenar-benarnya manusia (dibekali hati
nurani dan akal pikiran) tidak mau ibaratkan seperti manusia yang
tertulis dalam email itu bukan?”
Sebuah Sindiran Untuk Direnungkan
05.28
|
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar :
Posting Komentar