"Wanita-wanita
yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji
adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik
adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk
wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari
apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan
dan rizki yang mulia (surga).”
Jika
kita hubungkan dengan kehidupan kita saat ini, ayat ini menunjukkan
bahwa sebenarnya setiap orang pasti ada pasangannya (jodohnya)
masing-masing, yaitu yang sesuai dengan tingkatannya (kufu’nya). Sesuai
dengan tingkatan yang saya maksud adalah setara jumlah kebaikannya,
jumlah kekurangannya, setara ilmunya (kealimannya), setara dosa-dosanya
baik yang telah dilakukan maupun yang akan dilakukan (Allah Maha Tahu
apa yang akan terjadi). Jadi, seorang laki-laki ahli maksiat sebaiknya
tidak perlu memimpikan seorang santri putri yang suci, atau seorang
wanita nakal tidak perlu memimpikan seorang ustad yang baik.
Namun, jika kenyataannya tidak selalu demikian dalam pandangan kita,
wallahu a‘lam. Allah lebih tahu apa yang sebaiknya terjadi, apa yang
baik buat hamba-Nya. Meski kadang-kadang kita tidak bisa menalarnya,
karena yang kita ketahui cuma sedikit.
Berkenaan dengan masalah
jodoh ini, saya ingin menyarankan kepada teman-teman yang masih lajang
(termasuk saya sendiri, hehe..) untuk mendambakan seorang yang
tingkatannya lebih baik dari kita. Hal ini akan memotivasi kita untuk
memperbaiki diri dan berusaha mencapai tingkatan yang sama dengan
dambaan kita tadi agar Allah merestui dan kemudian menjodohkan kita
dengannya, aamiin.. :)
0 komentar :
Posting Komentar