Kisah Ibu dan Seorang Anak ( http://iphincow.wordpress.com/
Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku membencinya, ia adalah sebuah hal
yang memalukan. Ibuku menjalankan sebuah toko kecil pada sebuah pasar.
Dia mengumpulkan barang-barang bekas dan sejenisnya untuk dijual,
apapun untuk mendapatkan uang yang kami butuhkan. Ia adalah sebuah hal
yang memalukan.
Pada suatu hari
di sekolah. Aku ingat saat itu hari ketika ibuku datang. Aku sangat
malu. Mengapa ia melakukan hal ini kepadaku? Aku melemparkan muka dengan
rasa benci dan berlari. Keesokan harinya di sekolah.. “Ibumu hanya
memiliki satu mata?” dan mereka semua mengejekku.
Aku berharap
ibuku hilang dari dunia ini maka aku berkata kepada ibu aku,”Ibu, kenapa
kamu tidak memiliki mata lainnya? Ibu hanya akan menjadi bahan
tertawaan. Kenapa Ibu tidak mati saja?” Ibu tidak menjawab. Aku merasa
sedikit buruk, tetapi pada waktu yang sama, rasanya sangat baik bahwa
aku telah mengatakan apa yang telah ingin aku katakan selama ini.
Mungkin itu karena ibu tidak menghukum aku, tetapi aku tidak berpikir bahwa aku telah sangat melukai perasaannya.
Malam itu, Aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas
air. Ibuku menangis disana, dengan pelan, seakan ia takut bahwa ia akan
membangunkanku. Aku melihatnya, dan pergi. Karena perkataanku sebelumnya
kepadanya, ada sesuatu yang mencubit hati aku.
Meskipun
begitu, Aku membenci ibuku yang menangis dari satu matanya. Jadi, Aku
mengatakan diri ku jikalau aku akan tumbuh dewasa dan menjadi sukses,
karena aku membenci ibu bermata-satu aku dan kemiskinan kami.
Lalu aku belajar dengan keras. aku meninggalkan ibu dan ke Seoul untuk
belajar, dan diterima di Universitas Seoul dengan segala kepercayaan
diri. Lalu, aku menikah. aku membeli rumah milikku sendiri. Lalu aku
memiliki anak-anak juga. Sekarang, aku hidup bahagia sebagai seorang
pria yang sukses. aku menyukainya disini karena ini adalah tempat yang
tidak meningatkan aku akan ibu.
Kebahagiaan ini menjadi besar
dan semakin besar, ketika seseorang tidak terduga menjumpai aku “Apa?!
Siapa ini?”… Ini adalah ibu aku.. tetap dengan satu matanya. Ini rasanya
seperti seluruh langit sedang jatuh ke diri aku. Anak perempuan aku
lari kabur, takut akan mata ibu aku.
Dan aku bertanya
kepadanya, “Siapa Anda? aku tidak mengenalmu!!” sandiwara aku. aku
berteriak kepadanya “Mengapa engkau berani datang ke rumah aku dan
menakuti anak aku! Pergi dari sini sekarang juga!”
Dan ibu
dengan pelan menjawab, “Oh, maafkan aku. aku pasti salah alamat,” dan
dia menghilang. Terima kasih Tuhan.. Ia tidak mengenali aku. aku merasa
cukup lega. aku mengatakan kepada diri aku bahwa aku tidak akan peduli,
atau berpikir tentang ini sepanjang sisa hidup aku.
Lalu ada
perasaan lega datang kepada aku.. Suatu hari, sebuah surat mengenai
reuni sekolah datang ke rumah aku. aku berbohong kepada istri aku
mengatakan bahwa aku akan pergi perjalanan bisnis. Setelah reuni ini,
aku pergi ke rumah lama aku.. karena rasa penasaran saja, aku menemukan
ibu aku terjatuh di tanah yang dingin. Tetapi aku tidak meneteskan satu
air mata sekalipun. Ia memiliki sepotong kertas di tangannya.. dan itu
adalah surat untuk diri aku.
==============================
Anakku,
Aku pikir hidupku sudah cukup lama saat ini. Dan.. aku tidak akan
mengunjungi Seoul lagi.. tetapi apakah itu terlau banyak jikalau aku
ingin kamu untuk datang menunjungiku sekali-kali nak? aku sangat
merindukanmu. Dan aku sangat lega ketika mendengar kamu akan datang
dalam reuni ini.
Tetapi aku memutuskan untuk tidak datang ke
sekolah.. Untuk Kamu.. aku meminta maaf jikalau aku hanya memiliki satu
mata dan aku hanya membawa kemaluan bagi dirimu.
Kamu tahu,
ketika kamu masih sangat kecil, kamu terkena sebuah kecelakaan, dan
kehilangan satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tidak tahan melihatmu
harus tumbuh dengan hanya satu mata.. maka aku memberikanmu mata aku..
aku sangat bangga kepada anak aku yang melihat dunia yang baru untuk
aku, menggantikan aku, dengan mata itu.
Aku tidak pernah marah
kepadamu atas apapun yang kamu lakukan. Beberapa kali ketika kamu marah
kepada aku. aku berpikir sendiri,”Ini karena kamu mencintai aku.” Aku
rindu waktu ketika kamu masih sangat kecil dan berada di sekitarku.
Aku sangat merindukanmu. Aku mencintaimu. Kamu adalah duniaku.
Untuk Ibu (Pahlawan Tanpa tanda jasa)
07.47
|
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar :
Posting Komentar